Sabtu, 06 Desember 2014

Merindukan Kuliah

Bagi seorang yang sedikit mengikuti waktu perkuliahan, kuliah adalah waktu yang sangat dirindukan.

Semester tiga menuntut aku mengambil sedikit sks. Jauh, benar-benar jauh dari batas normal. Kuliah yang aku hanya mendapat batas selama 3 hari saja itu pun bukan jadwal yang padat. Namun, dari hal itu sangat masih tetap berdiri dan merasa belum apa-apalah dibanding perjuangan teman2 yang telah mengorbankan lebih dari yang ku korbankan. Mungkin disisi lain adalah lalainya diri aku, tapi jika tidak demikian sama saja aku mengorbankan sesuatu yang lebih besar. Hanya seperti ini yang bisa ku persembahkan pada-Mu Ya Allah.
Maafkan anakmu ibu, yang -mungkin- lalai dari kuliahnya, tapi aku hanya ingin mempersembahkan padamu yang lebih besar dari sekedar nilai kuliah. Hari ini engkau tidak menyukainya namun semoga suatu saat engkau menyukainya.
Aku kira sedikitnya jadwal, aku akan memiliki banyak waktu untuk belajar untuk mengkonter nilai aku, juga banyak waktu untuk mencoba bisnis yang ingin dirintis, atau bisa lebih intensif untuk PII-ku atau bahkan menghabiskan buku-buku yang ku beli dan belum habis ku membacanya: Filsafat Ilmu, Evolusi Kristen, Perempuan Hallerina, atau terjemahan kitab-kitab misalnya. Aku kira memang begitu bisa lebih intensif mendesain poster-poster dakwah atau sekedar membuat tulisan-tulisan bermakna. Ah aku kira.
Olahan sebab-akibat yang ku buat melesat atas asbab yang menjadi sebab mutlak. Sudah memang melewati sehari-dua hari kuliah lancar. Bisnis? Mencoba berjualan. Eh harus ada kegiatan ini dan itu. kesibukan yang direncanakan diterjang dengan kesibukan yang lain. Mulai dari intensitas waktu-waktu yang tersita. Tidak masalah, alhamdulillaah menambah kesibukan daripada harus menjadi penghuni kos atau kampus yang kurang produktif.
Satu dua kuliah tidak ku ikuti. Membolos untuk keperluan yang lebih besar –sekali lagi menurutku-. Dari urusan PII hingga urusan keluarga (memang semenjak ini Allah sedang menguji kami, jadi harus intensif PP hingga sering tidak masuk kuliah juga), tapi benar, aku sangat menikmatinya atau terpaksa menikmatinya. Hanya saja keyakinan yang ada didada bahwa waktu yang terlimpah akan Allah ganti waktu yang panjang didalam balasan nikmat-Nya. Hanya janji Allah yang bisa menghibur, yang Maha menepati janjinya.
Kemudian, aku sangat bahagia dalam satu atau dua kuliah yang ku ikuti atau aku juga terkucilkan karena jarang masuk kuliah. Namun, diluar hal itu betapa aku sangat merindukan kuliah. Lebih-lebih satu mata kuliah matematika. Meski sekali lagi jarang tidak masuk namun aku tetap mengkajinya, semampuku, dengan pendapat-pendapatku sendiri.
Aku yang jarang kuliah, sangat merindukan kuliah. Sebagaimana mereka kuliah. Berdiskusi tentang mata kuliah yang menjadi keluh kesahnya (seharusnya aku juga). Atau bahkan ekspresi emosi yang keluar dari masing-masing wajah teman-temanku yang melihat nilai-nilainya. Yang nilai-nilai bagiku sudah tidak terlalu menjadi tuntutanku.

Waktu tidak bisa kuliah adalah waktu mahasiswa merindukan kuliah.

01.10.00 - No comments

Islam dan Akal Manusia


Islam agama yang sempurna. Tidak ada yang melebihi tingginya Islam. Semua telah teratur lengkap. Dari keimanan, kehidupan dunia, kehidupan setelah didunia,ritual, hingga adab-adab dan sosial masyarakat. Namun, dari semua kelengkapan yang dimiliki Islam tidak lepas dari akal-pikir kepada manusia yang dianugrahi Islam.

Islam menghargai akal manusia. Islam melindungi akal manusia. Islam memelihara akal manusia. Dengan Islam akal manusia diperintah untuk digunakan. Dengan Islam, manusia akan berfikir dengan akal sehatnya sehingga akan mengungkap kebesaran Islam yang dianugrahkan Allah ta’aalaa. Dengan anugrah akal yang dimiliki manusia Allah mengangkat derajat manusia itu dengan akalnya dimana akal itu digunakan sebagaimana mestinya. Sehingga dengan akal itu maka dibebankanlah syariat Islam itu kepada manusia karena syariat itu akan memberi banyak hikmah yang bisa diketahui dengan memikirkannya. Dengan akal itu sebenarnya juga akan melindungi akal manusia itu sendiri. Akal dan pembebanan syariat itu akan membawa manusia dalam mengenal Allah. Dalam hal ini manusia dinilai cocok atau layak untuk memahami syariat yang Allah turunkan.

Bukankah di Al Quran bertebaran pertanyaan-pertanyaan yang mendorong manusia untuk berpikir? Bukankah Allah senantiasa memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya? Bukankah manusia diperintah untuk memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya dalam rangka berpikir juga. Hingga dengan berpikir itu manusia akan sadar siapa sebenarnya dibalik mereka pikirkan. Tentunya jawabnya satu, yaitu Allah yang merajai alam semesta ini. Allaahu akbar.

Manusia diperintahkan untuk memperhatikan tumbuhan2 yang hidup, air hujan, binatang-binatang, api, besi, silih bergantinya malam dan siang. Siapa yang berada dibalik itu semua? Sang Maha Pencipta, Allah.

Manusia diperintahkan untuk menegakkan hukum2-Nya, berperang dalam rangka menegakkan kebenaran supaya tidak ada kekacauan, menegakkan qishash untuk menjamin keadilan dalam koridor fitrah manusia, puasa dengan segala kemanfaatannya, shalat dengan segala penyuciannya, siapa yang berada dibalik hikmah-hikmah syariat yang diturunkan yang dipahami manusia dengan akal yang jernih? Ya, dibalik semua ini pencipta akal yang jernih itu, Allah yang Maha Suci.

Maka dengan akal kita akan tahu siapa yang ada dibelakang penciptaan ini.

Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? (TQS. Al Waaqi’ah: 63-64)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? (Al Waqi’ah : 68-69)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? (Al Waqi’ah : 71-72)

Maka Maha Besar Allah yang telah menanugerahkan akal kemudian Ia menjaganya dengan Islam ini. akal yang seharusnya dimiliki manusia.

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah : 269)

Sehingga dengan manusia mempergunakan akalnya dengan baik, tetap dalam fitrah manusia. Bukan seperti binatang.

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf: 179)




PII dan Kuliahku

Sudah berakhir delapan hari bolak-balik Solo- Kemuning, LBTDN yang dilaksanaan dengan pengamanan secara ketat usai sudah. Tinggal kini aku mengurus kuliahku. Kuliah ? ya benar, kuliah. Hmm… sejenak aku berfikir bagaimana kuliahku. Dari agenda yang selalu bertabrakan hingga benar-benar asupan energi yang tidak memadai untuk memilih keduanya. PII dan kuliah.

PII dan kuliah. Bagiku adalah dua hal yang sangat penting. Mungkin akan berulang kembali masaku ber-PII saat SMA. Bisa dibilang semuanya hancur akan tetapi itu pelengkap dari sisi kebanggaanku sendiri bahwa aku ingin sekali bersaksi bahwa aku pun berkorban (mungkin karena seringnya juga mendengar curhat2 temen-temen yang ada di daerah). Tentunya maksudku bukan untuk dihadapan manusia(manusia kan banyak menuntut), tapi di akhirat.

PII. Suatu wadah yang mengajariku banyak hal hingga yang lain ku abaikan(haha). Wadah yang tidak terkenal saat ini tapi itulah yang menjadikan seseorang ditempa hatinya, bersih tidak ketika dia masuk ke PII, ikhlas tidak berjuangnya di PII, sungguh-sungguh tidak dalam ber-PII, hal itu akan nampak secara alami. Namun, wallaahu a’lam aja lah (saya tidak tahu banyak hati kan).

Kuliah. Hmm, berat ketika harus membicarakan soal kuliah. Bahkan ini tanggungjawabku dihadapan orangtuaku. Aku Cuma ingin membuktikan bahwa aku bukanlah seseorang yang seperti dulu selalu berkutat dengan soal di lembar-lembar putih dan buram. Aku Cuma ingin katakan soal kehidupan. Tuntutan akademik, pekerjaan masa depan, atau sekedar hidup bermateri atau semacam apa lah tuntutan yang lain, aku tidak terlalu ambil pusing. Aku hanya melihat pada sisi lain dari kuliah itu sendiri dengan perspektif pendidikan yang berkonsentrasi pada pendidikan. Dan aku ingin mengambil esensi dari pendidikan yaitu belajar, bukan menuntut nilai setinggi-tingginya hingga melupakan esensi, hingga melupakan proses, hingga melupakan segalanya. Tidak.

Aturan-aturan yang tidak bisa mentoleransi kepada apa dan siapa pun. Aturan yang berat sebelah bagi organisasi dalam dan luar. Aturan yang mengharuskan bukan sekedar kuliah namun tidak pernah membuat mahasiswa seperti harapan. Menuntut kepada tekanan yang tidak bisa dituntut.


PII dan kuliahku. Kalian sangatlah penting bagiku. PII mengajariku sukses studi, kuliahku juga. Bahkan ber-PII lebih mengajariku hal itu dibanding kuliahku. Namun, mengapa keduanya tidak bisa berkompromi. Namun, aku tetap yakin akan pertolongan Allah setelah hamba itu berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana Allah memberi banyak pertolongan kaetika aku SMA dulu. Ya, seperti itu, jujur dan benarkan Allah, maka Allah akan jujur dan membenarkanmu.


Ditulis pasca LBTDN Karanganyar, setahun lalu.

Jumat, 21 November 2014

PII di Solo (Seharusnya) Potensi Poros Pelajar

Solo, tempat dimana pergerakan Islam dengan berbagai nama ada disini. Tempat dimana kebudayaan banyak dijumpai. Tempat yang heterogen. Tempat yang memiliki sejarah panjang juga. Tempat banyak wisatawan asing yang datang. Tentunya banyak pengaruh pemikiran didalam kota ini. Lebih luas lagi sebutan Solo Raya yang mencakup Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dalam benak saya kota ini memiliki watak inklusif dan toleransi yang amat besar. Awalnya. Namun sungguh itu baru silau pertama yang ada dibenak saya. harus segera kita masuk dalam ruang kota Solo. Sepintas watak Solo sebagai kota inklusif dan toleransi yang besar saya rasa belum semua sepakat. Ada hal-hal yang kita bisa lihat dari sisi lain. Rupanya ketika saya melihat, bukan bentuk toleransi yang ada namun sikap diam dan acuh kepada sesama.

Saya coba menyoroti sebagaimana yang paling tidak menjadi bahasan sehari-hari saya yaitu tentang Muslim, Cendekia, dan Pemimpin, terutama pada ke-Pelajaran sekarang dan masa yang akan datang. Agak silau memang ketika mendapati kondisi yang mana banyak ditemukan orang-orang memakai “pakaian muslim” dari yang bentuknya koko hingga jubbah, dari yang bentuknya jilbab lebar hingga bercadar. Seharusnya peran kondisi ini memang bisa mempengaruhi secara signifikan kan?

  1.  Muslim

Berbicara terkait komunitas muslim saja ditingkat pelajar bisa kita lihat heterogenisasi komunitas-komunitas pelajar-pelajar muslim, kemudian sekolah-sekolah Islam, pelajar-pelajar dari pendekatan nahdliyin hingga pendekatan celana no isbal. Dari pelajar putri yang memakai gamisnya hingga sampai berniqab. Dari yang paling lembut hingga paling bisa koar-koar dan reaktif. Ya,…Di Solo ibarat kelompok Muslimnya yang heterogen yang kalau bahasa jawa “Tumplek Blek” yaitu bertumpukan di satu tempat (Solo) berarti suasana yang dipancarkan adalah suasana yang Islami. Iya kan?
Tapi ada sisi lain rupanya heterogenitas tersebut tidak membuat Muslim saling melengkapi. Ada bagian muslim yang belum disebutkan adalah bangsa kejawen dan kaum abangan (Oh Solo kaya sejarah 2 jenis ini bro…). oke lah sementara kita beri stempel bahwa Solo adalah tempat dimana semua pergerakan Islam bereksistensi disini.
Kembali ke pertanyaannya harusnya bisa memenuhi standar untuk bisa mempengaruhi suasana secara signifikan kan? Oh ternyata usut punya usut tampilan luar yang seakan bagus ternyata punya borok juga. Kaum muslim di Solo masih dalam kapling-kapling berpecah-belah. Bilang saja persatuan tapi gak ada aksi dalam hal satu penyatuan. Hanya pas saja bisa kita lihat dalam aksi-aksi besar dan itu pun masih dalam ibarat secara luar tampilan yang hampir sama sehingga seakan membentuk suatu ikatan jamaah. Sulit dijelaskan hanya bisa dirasakan. 

2.Cendekia



Beralih pada cendekia, dalam KBBI berarti tajam pikiran, lekass mengerti, cerdas, pandai, cepat mengerti situasi danpandai mencari jalankeluar. Saya rasa tidak diragukan lagi dalam hal ini Solo selain sebagai kota yang banyak sejarah, kota yang budaya, tentu punya banyak kualitas pelajar yang mumpuni atas kalau mau diturunkan sedikit adalah punya potensi yang besar dalam hal ini. bahkan sekolah favorit bukan hanya dimiliki pemerintahan lho, sekolah Islam, hingga ma’had favorit pun menjamur di Solo. Yang diharapkan tentunya melahirkan generasi-generasi cendekia. Harapannya....

3. Pemimpin

Pemimpin, yang akan saya bawa ke kepemimpinan. Dimana dalam kondisi ini secara garis lurus ditarik dari sifat pertama Muslim. banyak pelajar yang secara kapasitas pengetahuan agamanya baik tapi mengapa dari segi kepemimpinan tidak bisa mempengaruhi atau mendominasi? Jawab versi saya masih tetap sama karena umat Islamnya masih kotak-mengkotakkan.
Oke lanjut kepemimpinan yang dibangun dari sifat kedua yaitu cendekia. Masih terikat dengan sifat yang pertama Muslim adalah mengapa bahkan dengan ciri Muslim dan cendekia masih belum bisa memimpin kota Solo? Mengapa kota Solo basis semua pergerakan Islam dalam hal ini pelajar sebagai pemimpin masa depan masih tetap dipimpin oleh orang kafir?
Tidak ada kepemimpinan kah?
Selain dalam kondisi yang saling mengkotak-kotakkan kepemimpinan kaum muslimin di Solo secara basis memang tidak ada. Masing-masing massih dalam kepemimpinan baju-baju mereka. Hendak pun boro-boro mengajukan pemimpin diantara mereka tentunya yang diajukan adalah harus dari masing-massing kelompok mereka. Tidak ada golongan dalam pengorganisasian secara terpadu untuk kaum muslimin di Solo. Tidak heran maka yang menang selalu mereka yang mendapat dukungan awam, kejawen, abangan , dan orang-orang kafir. Kaum muslimin  tidak mau berorganisasi secara terpadu sedangkan musuh-musuh berorganisasi secara terpadu. Kalau umat Islam mengusung banyak ustadz sekalipun kalau tidak ahli dalam keorganisassian sebelumnya, main asala comot ya hasilnya para ustadz yang diusung akan mati kaku dalam pengolahan keorganisasian kota Solo. Intinya dalam kepemimpinan perlu latihan dalam berorganisasi yang intensif , dibina sejak muda, bukan asal comot yang penting kiai atau ustadz.

Sudah mengerti sekarang saya mengapa banyaknya pergerakan di Solo tidak mampu menjalankan kepemimpinannya di kandang sendiri. Berkotak-kotak, saling mencurigai sesama muslim, tidak mau berfikir untuk oranglain diluar kelompoknya dalam membingkai ukhuwah, dan tidak pernah banyak nilai yang diambil dalam kepemimpinan terpadu.

PII membentuk poros pelajar.


Dalam hal ini PII sebagai wadah perjuangan umat yang menampung pelajar dalam menyiapkan kadernya sebagai Muslim, Cendekia, dan Pemimpin seharusnya punya prospek besar untuk berdakwah dalam membingkai persatuan dan kesatuan umat Islam di Solo terutama pada kalangan pelajar. Bahkan dari tiap-tiap golongan pelajar seharusnya bisa dan memiliki sikap bergabung dengan PII ini ya minimal karena fitrah rasa persatuan kaum muslimin, saling rasa persaudaraan sejawat, teman bermain, atau bahkan karena sudah muak dengan pengkotak-kotakkan antara pelajar muslim yang dalam lembaga dakwahnya sangat tertutup sehingga ketika sama-sama masuk ke PII akan saling bisa berkomunikasi dalam menjembatani kedua belah pihak. Atau mirip seperti dahulu kala saat awal-awal PII dirikan suasananya mirip dengan Solo antara pelajar-pelajar yang sekolah dibangku konvensional dengan sekolah bersistem Islami atau ma’had atau pondok pesantren sekalipun. Meraka tentu ketika bersama akan saling mempengaruhi dan saling memberikan bentuk dan cara masing-masing dalam bersaudara karena di PII mereka wajib untuk hidup lama dan seatap sehingga mau tidak mau mereka akan saling memberi pengertian terutama ketika mereka sadar bahwa mereka adalah muslim yang bersaudara. Dan dari tujuan terbentuknya lingkungan islami inilah yang diharapkan dari heterogennya kelompok-kelompok muslim di PII.

Disamping itu pelajar juga akan dibina  dalam pengembangan dalam kretivitas, pengembangan bakat, olah pikir, dan intelektualitasnya. Dalam ber-PII, pelajar yang terikat dalam barisan ini melakukan pembinaan dalam kursus, ta’lim ruhiayah, mental, berargumen dengan referensi yang baik, adab sopan santun, saling menghargai, budaya membaca, dan senantiassa budaya menganalisis. Terus ditambah dengan keadaan PII yang tidak memiliki induk pergerakan diatasnya membuat PII harus bekerja dengan kepemimpinan yang baik dan mandiri sehingga dari proses inilah dapat membentuk calon-calon pemimpin yang musli, cendekia sekalipus memiliki kapasitas kepemimpinan yang baik. Sehingga sebagai prinsip pemersatu umat seharusnya PII di Solo ini ditengah heterogenitas kelompok-kelompok pergerakan umat Islam di Solo mampu menjadi wadah pelopor terbentuknya bibit-bibit manusia muslim, cendia, dan pemimpin yang diharapkan menjadi kebermanfaatan secara nyata bagi kemajuan peradaban Solo. Bisa menjadi wadah penempa calon-calon pemimpin sebagai kaum yang menggantikan. Semoga Allah meridhoi cita-cita ini: terbentuknya poros pelajar Islam di Solo sebagai agen perubahan menuju peradaban madani.

Asma' Binti Yazid, Sang Orator Kaum Muslimah


Nama lengkapnya ialah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al Anshariyyah, Al Ausiyyah al Asyhaliyyah. Seorang wanita mulia, agama yang bagus, mujahidah yang agung, sosok muslimah yang cerdas, dan ahli dalam argumen, orasi, dan terorika yang baik sehingga ia mendapat julukan “Khatibah An Nisa” (Sang Orator Wanita).

Selebih dari lulusnya sifat-sifat agung seorang muslimah ia memiliki keistimewaan yang berada diatas diantara kebanyakan para muslimah. Diantara sifat-sifat yang dimiliki ialah kepekaan indra, kejelian rasa, dan ketulusan hatinya. Dalam kehidupannya senantiasa mencerminkan sikap yang elegan dan mantap. Ia seorang yang tidak manja dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dhina, pemberani, kuat, dan ia pun seorang prajurit perang dalam medan pertempuran. Hebat sekali bukan.

Suatu ketika pada tahun pertama hijrah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaiat para wanita. Disitu Asma’ mendatangi Rasulullah untuk ikut berbaiat kepada Islam. Sejak saat itu Asma’ adalah muslimah yang paling aktif dengan menyimak hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala urusan dalam agama. Bahkan ia lah yang mempelopori dalam menyanakan hal bersuci bagi muslimah setelah haid. Bentuk karakter yang kuat dalam dirinya membuatnya menjadi pribadi yang mantap. Baginya pula pertanyaan-pertanyaan semacam itu jika itu hak maka ia tidak malu dalam menanyakan kepada Rasulullah. Sehingga tidak heran sosok Asma’ menjadi seorang muslimah yang kritis, cerdas, dan baik agamanya.

Dalam persoalan-persoalan yang sering dihadapi muslimah Asma’ sering menjadi jubir dari kalangan muslimah untuk menanyakan kepada Rasulullah. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang ada dibelakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana aku katakana dan sebagaimana berpendapat sepertiku.”

Dilanjutkannya,”Sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’aalaa mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membaiatmu sebagai Nabi kami. Adapun kami para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka , maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Pertanyaan itu yang membuat Rasulullah menoleh kepada para shahabat dan bersabda,”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang din yang lebih baik dari apa yang ia tanyakan?”
Para shahabat menjawab, “Benar. Kami belum pernah mendengarnya Ya Rasulullah!”

Lalu Rasulullah bersabda,”Kembalilah wahai Asma’ dan beri tahukanlah kepada para muslimah yang berada dibelakangmu itu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, meminta kerihaan suami, dan meminta persetujuan suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka bertakbir dan bertahlil-lah Asma’ sambil kembali kepada kaum wanita karena kegembiraannya atas sabda Rasulullah itu padahal sempat terbetik dalam hatinya untuk ikut dalam berjihad layaknya kaum laki-laki. Namun, diredam oleh nasihat Rasulullah diatas. Hingga kesempatan itu terealisasikan oleh keadaan pada Perang Yarmuk pada tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah. Ya seorang Asma’ yang cemburu dengan jihad akhirnya bisa menjadi wanita shalihah dengan gagah berani menyertai perjuangan Umat Islam.

Itulah Asma’ dalam perjuangan menuntut ‘ilmu dari Rasulullah dan turut serta dalam perjuangan yang hebat. Dikisahkan ketika perang Yarmuk melawan tentara Romawi, Asma’ membersamai para pasukan mukmin dan mukminah mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan persenjataan, logistic, dan pengobatan bagi mujahidin yang terluka. Juga menjaga semangat para mujahidin. Bahkan para mujahidah juga yang bersikap tegas memukul para mujahidin yang berusaha mundur melarikan diri.

Asma’ yang kala itu dalam pikirannya hanya berjihad menegakkan kalimat Allah mencurahkan segenap kemampuannya dengan ikut melawan para tentara Romawi. Saat itu dihadapannya hanya ada tiang tenda, kemudian dicabutlah, dan Ia terjun ke tengah pertempuran, berhasil membunuh Sembilan tentara Romawi. Kemudian selepas pererangan itu Ia masih hidup dan membawa luka di punggungnya.

Allah menghendaki hidup setelah perang itu 17 tahun lamanya hingga Beliau wafatpada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menghidangkan teladan wanita shalihah yang gagah berani. Semoga keberanian berbicara dan keberanian bersikap seorang Asma’ bisa membawa teladan yang tinggi bagi kaum muslimah masa kini untuk tidak ragu dalam menyampaikan kebenaran, meminta kebenaran, dan mencurahkan segenap kemampuan demi memperjuangkan kebenaran itu juga.

Kisah ini saya hadiahkan untuk adik saya tercinta.
diambil dari buku "100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa", Inspirasi para Muslim yang Dicatat dengan Tinta Emas Sejarah.

Senin, 13 Oktober 2014

Menahan Diri dari Meminta



Kata Hakim bin Hizam, ketika itu ia meminta sedekah kepada Rasulullah, lalu beliau shallallaahu alaihi wa sallam memberinya. Kemudian Hakim meminta lagi kepada Rasulullah padahal waktu itu Rasulullah sudah memberinya. Rasulullah kembali memberinya. Hingga tiga kali hakim mengulangi perbuatannya itu. hingga yang ketiga kalinya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu lezat dan manis, maka barangsiapa menerimanya dengan hati yang bersih (tidak rakus atau serakah), dia akan mendapat berkah dengan harta itu. Tapi barangsiapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, dia tidak akan mendapatkan berkah dengan harta itu, dia akan seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.”

07.27.00 - No comments

Bali : Dakwah atau Boikot



Bali, tempat yang populer dengan berbagai keindahan alamnya. Namun, menurut aku tercoreng, dengan adanya budaya-budaya tidak elok dipandang terutama pakaian terhormatnya bangsa ketimuran. Dulu pernah saya sangat pro-aktif dalam mengkampanyekan boikot wisata ke Bali. Bagiku untuk apa kesana, keindahan alamnya tertutup oleh hawa porno yang tidak pantas dilihat, budaya-budaya hindu, dan tentu (saat itu) saya meyakini bahwa tempat pariwisata di Bali, pada tempat-tempat makannya banyak menjual minuman keras. Oke, itu dulu. Skip.

07.21.00 - No comments

Kepada (Mereka) Cinta



Kepada (Mereka) Cinta

Kepada cinta di dua negeri
Kepada cinta di kota yang berbeda,
Kepada cinta yang kita bersaudara didalamnya,
Kepada cinta, ia yang merindukanku.

Tidak pernah engkau tahu,
Seberapa takut aku kehilanganmu.
Tidak pernah aku kata,
Seberapa dalam ku mencintaimu.

Kepada cinta yang Maha Tinggi,
Aku mencintai mereka, dan
Ku titipkan cintaku untuk mereka pada-Mu.

Kep

07.19.00 - No comments

Islam Menjamin Bangsa yang Bangkit

Di dunia ini, tiada satu pun ideologi yang dapat memberikan apa-apa yang dibutuhkan oleh umat yang sedang bangkit, menyangkut sistem perundang-undangan kaidah-kaidah hukum, maupun kelemahlembutan perasaan dan kepekaan moral sebagaimana yang diberikan oleh Islam.
Al-Qur'an Al-Karim sarat dengan berbagai gambaran tentang  aspek-aspek tersebut. Guna memperjelas pengertian, ia menyajikan gambaran umum pada suatu kali, dan memberi gambaran secara rinci di kali yang lain.
Al-Q
ur'an juga menawarkan penyelesaian terhadap berbagai persoalan dengan jelas dan rinci, sehingga bangsa mana pun yang mau mengambilnya sebagai landasan hidup, niscaya ia akan memperoleh apa yang diinginkannya.

Tak Sehebat Pahlawan



Suatu Shubuh seorang ibu jama’ah masjid menceritakan kepada Imam masjid kalau tadi memergoki pencurian di rumah(kos2an) sebelah masjid. Pak Imam masjid mendengarkan penjelasan ibu sambil berfikir selidik atas cerita tersebut. Aku yang datang pun sempat mendengarkan. Hingga cerita selesai muadzin mengumandangkan iqomah.

Rabu, 18 Juni 2014

Pesan Cinta

Pesan Cinta
oleh Ustadz Ihsan Al Faruq

Aku mncintaimu dengan caraku
Dengan cinta dan rindu yang berbeda
Terasa hambar dan hampa
karena...
Tiada rayuan gurau & senda
 
Inilah cinta berbuah surga
Dengan benih ketuhanan ia kutanam
Dengan muroqobah ia kupupuk
Dengan mata air ilmu ia kusiram
Dengan keindahn syariat ia kupagari
 
Ukhti..
 
Aku mencintaimu dengan segenap jiwa
Karena cinta..
Kutundukkan mata ini
dari kecantikan wajahmu
Kupalingkan pandangan
dari keindahn tubuhmu

Karena cinta..
 
Kujaga lisan ini dari rayuan kedustaan
Inilah kecintaanku
Tiadakah engkau menyambutnya
Untuk bersama..
Mnjadi pecinta di jalanNYA…

Demi Islam oleh Ustadz Ihsan Al Faruq

Sebuah nasyid kenangan dari sosok yang senantiasa terkenang.


DEMI ISLAM

Demi Islam kami berjuang,
Demi Islam kami berkorban,
Demi Islam menanggung payah,
Demi Islam darah tertumpah.

Tegakkan kepala,
kepada seluruh dunia
Karena Islam mulia
Ia akan tetap berjaya.

Lantangkan gema takbirmu
Kibarkan panji Islammu
Hilangkan segala ragu
Di syurga kita bertemu

Ta'lim Lagi (Ta'lim Lagi)

Semester-semester akhir mungkin membuat kita jenuh, stress, lelah, mengejar nilai A, atau membuat frustasi yang berakibat kemunduran kepada segala aktivitas. Semuanya berpacu dalam memforsir focus dan niat masing-masing dari kita. Tidak heran kalau sudah menggerus niat maka bisa jadi kadar iman menurun. Manusiawi, seperti halnya Ka’ab bin Malik dan dua sahabatnya saat itu.

Sehari sebelum ta’lim seperti biasa, sebagai coordinator saya bertugas menjarkom teman2. Alhasil, satu orang yang konfirmasi. Tidak seperti biasanya memang tapi husnudzan lebih baik adanya. Sengaja saat itu saya tulis “Ta’lim Lagi, Ta’lim Lagi” karena saat itu lebih kepada motivasi diri ditengah kebosanan aktivitas-aktivitas ber-PII dan kuliah. Bagiku , majlis ilmu adalah penawar paling mujarab untuk segera mengingat Allah.

Saat meminta konfirmasi, satu per satu mengirim pesan ijin, ijin, dan ijin, juga yang awalnya bisa, akhirnya ijin juga. Ya, aku menyadari saja bahwa ini kondisi yang memang banyak memforsir, dan memecahkan banyak niat. Bagiku itu sementara alasan logis logis, mengapa lesu? Meski kita tahu didepan ada syurga. Sekali lagi manusiawi.


Ingin istirahat dulu, capek selepas kerja. Meski sudah istirahat. Ada yang belum istirahat samasekali.
Menyanggupi meski ijinnya setelah di-sms, itupun syar’i. Mengapa tidak ijin dari tadi, kami menunggu.
Ijin lagi, ada hal yang syar’i. mengapa tidak dari semalam atau tadi. Kami pun menunggu.
Ijin selepas di-sms. Malas keluar, sudahlah. Kalian semua kami tunggu.

Disaat seperti itu, meski api sudah menyala. Tetaplah aku harus memenangkan diriku kesekian kalinya. Dihadapanku ada seorang yang membawa skripsinya ke Langgar untuk sebuah ikatan hati. Ada yang menunggu sejak selepas Ashar dari kader LIB, yang menunggu aksi PII. Dan dua sejoli yang setia menemani ta’lim. 

Sms datang juga dari ustadz. Oh beliau tidak bisa datang. Ini ada akhwat LIB. Mana PII wati? Ah PII wan juga bisa mengurus akhwat. Sebagai coordinator akhirnya aku mengisi.

Doa selalu terpanjat untuk mengharap ridho-Nya. Sayup-sayup membuka ta’lim (materi ta'lim tentang Hikmah: Jalan Menuntut Ilmu, Jalan Menuju Syurga ) teringat kisah Ka’ab Bin Malik yang tidak turut serta dalam Perang Tabuk karena saat itu condong hatinya kepada dunia yang menyebabkan kemalasan. Aku berfikir, bagaimana hati Rasulullah saat itu? sedih sekali, jelas. Lalu bagaimana aku?

Jelas sekali bagiku, aktivis pun manusia biasa. Sekelas Ka’ab Bin Malik juga mengalaminya. Sekelas Mujahid mengalaminya. Kadang aku berfikir juga, jauh dan hanya untuk ta’lim setelah itu bahkan aku tidak tahu bagaimana aku pulang. Tapi bagiku, mujahid tetaplah mujahid. Ikhwan tetaplah ikhwan. PIIwati tetaplah -siap sedia selalu (seperti kata Mars PIIwati). Sekali-sekali tidak apa lah, jangan egois kamu juga kadang seperti itu, bisa jadi lebih banyak dari mereka.

Iya, andai aku Ka’ab bin Malik mungkin berfikir, ah perang lagi, perang lagi. Kapan aku ngurus ini dan itu. sekarang pun seharusnya aku mampu berfikir ah ta’lim lagi, ta’lim lagi. Ah da’wah lagi, da’wah lagi. Jauh, panas, hanya untuk membina, apalagi sekedar turba. Sesekali absen lah, biasanya sudah banyak aktif, istirahat sebentar. Padahal berlindung dibalik kemalasan adalah sesuatu yang sangat bisa dilakukan, jika harus tidak jujur, toh dengan begitu seharusnya juga dia mendapat maaf dari Rasulullaah. Tidak. Kalaupun berbohong tentu Allah akan memberi tahu Rasulullah. Iya kan?


Namun, diluar itu. sudah lazim bagi mereka yang pernah mengalami gejolak turunnya semangat dakwah dan jihad hal itu adalah kesengsaraan.


Meninggalkan satu agenda dakwah samadengan menitik satu langkah kemunduran. Bisa jadi berangsur-angsur jika terus dilakukan akan terlepas sendiri dari agenda-agenda dakwah.
Sebagaimana kesengsaraan batin oleh Ka’ab bin Malik, “Tampaknya aku ditakdirkan untuk tidak ikut dalam perang Tabuk. Namun, sungguh aku merasakan penderitaan batin sejak rasulullullaah saw meninggalkan madinah.”
Bermacam-macam perasaan akhirnya menyelimuti kita saking absen dari agenda dakwah tanpa alas an yang syar’i. bagi aktivis semisal Ka’ab bin Malik, tentu perasaan bersalah, menyesal, merasa terasing. Dalam fikiran mengatakan, “Mengapa akhirnya aku tidak jadi berangkat padahal aku bisa.”. disisi lain padahal mereka yang tahu dan tidak mau berangkat adalah orang-orang berudzur(misal : lemah, orangtua, wanita, dan anak-anak) dan kaum munafik. Mungkinkah kita akan memasuki dua golongan ini meski kita tahu bagaimana komitmen terhadap dakwah dan jihad sudah menguatkan hati kita? Mengapa kita sendiri yang melemahkan? Ya kita sadar, bahwa kita bukan dari kedua golongan tersebut. Kita adalah mujahid tangguh.

Biar aku hancur,

biar binasa,

asal agama Islam capai kemenangannya. (potongan Mars Brigade)

semoga ketika kita sadar seperti itu. merasa bukan kedua golongan tersebut seorang aktivis akan merasa menderita, tidak nyaman, tidak merasa pada tempatnya, lebih-lebih bagi yangjeda waktu “ijin” sudah terlampau jauh dari rotasi dakwah. Namun, bukan untuk kita kan? Tentunya hati kita (kawan-kawan) apapun dalil maupun dalih untuk membenarkan ketidakberangkatan kita yang tidak syar;I itu tetaplah bak api neraka yang menghantui. Sungguh jujurkan kita, meski hukuman itu menyiksa.

Suatu ketika pernah berfikir, “toh yang berangkat itu-itu saja”, “ta’limnya monoton”,”masih ada ta’lim berikutnya”. Yakinlah pasti ketika hatimu bersih, kamu tidak akan tenang meninggalkan dakwah meski sekejap mata.

Keberadaannya di Madinah bersama kedua golongan tersebut membuat dia terkucilkan. Aku bukan orang-orang munafik, mengapa aku disini? Bukan juga yang lemah.
Itu juga yang dialami kawan-kawan PII yang sudah lama tidak membersamai kami. Aktivis PII yang seharusnya berada ditengah kegiatan-kegiatan PII, bersama-sama berjuang seperti dulu rupanya mundur satu per satu. Namun, husnudzan saja , pasti mereka ditempat lain juga berjuang kok. J

Sebenarnya banyak alasan yang bisa dibuat. Alasan palsu tentu akan diterima dan alasan asli, terkadang menyakitkan hati. Sebagai pemimpin Rasulullah tentu sangat kecewa saat alas an yang dilontarkan Ka’ab sangat lugas dan jujur karena kelalaian. Pemimpin mana yang tidak kecewa mendengar pasukkannya mengatakan “Aku malas.”. namun, apa yang bisa dilakukan Sang Nabi saw: memendam marah. Beliau bertanya, “Wahai ka’ab mengapa engkau tidak ikut? Bukankah engkau telah berbaiat?”. Suatu pertanyaan nasihat yang menggetarkan tulang-tulang sendi bagi mereka yang berkomitmen.  Ya, seperti aku yang selalu tersinggung ketika ditanya komitmen.

Hingga akhirnya diujilah dengan hukuman yang sangat menyakitkan, yaitu hukuman social. Tidak dianggap diantara jama’ah kaum muslimin sampai akhirnya sangat-sangat menderita. Ya seperti itulah seharusnya ujian yang diberikan supaya aktivis itu kadang menyesali perbuatannya.
Hanya untuk aktivis tangguh yang bisa melewati masa kefuturan yang hamper-hampir melepaskannya dari dakwah.

22.05.00 - No comments

Menghitung Fajar

Waktu berputar
Siang t’lah berlalu
Aku berdiri ditengah senja

Malam t’lah tiba
Aku tak punya lentera maupun api
Lalu berjalan,
Jatuh, luka, dan hamper mati

Waktu berputar
Malam t’lah berlalu
Aku berdiri menghadap fajar,

21.38.00 - No comments

HAM dan Mengambil (Sisi Lain) Demokrasi (Islam)



A.      Hukum Islam Adalah Hukum yang Bersumber dan Menjadi Bagian dari Agama Islam
1.       Pengertian Hukum Islam
Hukum adalah seperangkat norma atau peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku manusia, baik norma atau peraturan itu berupa kenyataan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat maupun peraturan atau norma yang dibuat dengan cara tertentu dan ditegakkan oleh penguasa. Sedangkan Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadai bagian dari agama Islam. Konsepsi Hukum Islam, dasar, dan kerangka hukumnya ditetapkan oleh Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia dan benda dalam masyarakat, dan hubungan manusia dengan benda serta alam sekitarnya.
Hukum Islam tidak hanya merupakan hasil pemikiran yang dipengaruhi oleh kebudayaan manusia disuatu tempat pada suatu masa, tetapi pada dasarnya diterapkan Allah melalui wahyu-wahyu-Nya, yang terdapat dalam al Qura dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dalam kitab-kitab hadits. Dasar inilah yang membedakan Hukum Islam secara fundamental dengan hukum-hukum lain yang semata-mata lahir dari kebiassaan dan hasil pemikiran atau buatan manusia.

21.29.00 - No comments

Hakikat Manusia dalam Islam



A.      Konsep Manusia
Manusia sebagai salah satu makhluk yang mendiami bumi memiliki keunikan yang menakjubkan. Dibanding dengan makhluk lainnya manusia memiliki persamaan dan perbedaan yang mendasar, terutama dalam menciptakan kebudayaan dan peradaban.
Manusia dengan binatang tidak begitu berbeda terutama dari susunan jism-nya dan asupan yang diterima untuk kebutuhan biologisnya. Ilmu pengetahuan memandang manusia dari segi fisik sebagai bagian dari spesies binatang.

21.15.00 - No comments

Konsep Ketuhanan dalam Islam

A.      Filsafat Ketuhanan Dalam Islam
Filsafat adalah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth) yaitu usaha menemukan dan menggali kebenaran secara radikal, menerangkan sesuatu yang benar, baik, dan indah.
Filsafat menggunakan instrument akal, sedangkan agama melalui perangkat wahyu dari Tuhan dan Nabi yang kemudian diimani dan direnungkan sehingga ditemukan suatu kebenaran mutlak. Objek materi filsafat dan agama adalah sama, yaitu mencari kebenaran, kebaikan,dan keindahan. Ada dua objek kajian di dalam mempelajari filsafat, yaitu objek forma dan objek material.

Jumat, 02 Mei 2014

21.53.00 - No comments

Mata Air Keluhuran

Galau benar hati sang raja. Putera mahkotanya ternyata seorang pemuda pemalas. Apatis. Talenta raja-raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi puteranya: the power of love.

Sang raja mendatangkan gadis-gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika berubah jadi taman: semua bunga mekar di sana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan: puteranya jatuh cinta pada salah seorang di antara mereka. Tapi kepada gadis itu sang raja berpesan, “Kalau puteraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya, “Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk seorang raja atau seseorang yang berbakat jadi raja.”

Benar saja. Putera mahkota itu seketika tertantang. Maka ia pun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja-raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata! Tapi karena cinta! Cinta telah bekerja dalam jiwa anak muda itu secara sempurna. Selalu begitu: menggali tanah jiwa manusia, sampai dalam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai-sungai kebaikan kepada semua yang ada di sekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, desak mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi.

Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut.Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekatigus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.

Cobalah simak cerita cinta Letnan Jenderai Purnawirawan Yunus Yosfiah, yang suatu saat ia tuturkan pada saya dan beberapa kawan lain. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia hijrah dari Katolik menuju Islam, ia tergetar hebat. “Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya,” katanya membatin, “seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya.”
Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, “Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa mempersembahkan kepala dedengkot Fretilin untukmu.” Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas!

Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, “cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintainya,” kata Ibnul Qoyyim.

Serial Cinta Ke-5, Ust. Anis Matta

Menghadapi Siklus Kesuksesan dan Kegagalan

Dalam hidup sering kali kita ditujukan ke dalam dua pilihan yang sulit. Bahkan lebih ekstrim sering disebut dengan buah simalakama. Namun, disisi lain dalam hidup pula suatu kalimat indah mengajarkan kita bahwa setiap insan yang sukses ialah yang bijak mengambil suatu keputusan dalam dualisme pilihan yang sulit dan berani mempertanggungjawabkannya.

Pada hakikatnya kesuksesan yang kita peroleh adalah nikmat pemberian Allah ta’aalaa, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,” (Terjemah QS. Al Kahfi : 84)

Sepakat ya? Jadi jangan semata-mata berfikir seperti Qarun ya bahwa semuanya berkat usaha diri sendiri.

Sebenarnya kesuksesan dan kegagalan adalah hal yang berulang dan itu hal yang biasa. Allah sering memberi kita pelajaran pada kisah-kisah dalam alQuran, bahkan tidak sedikit kisah itu diulang-ulang. Senang, sedih, sukses, gagal, bangsa yang dimuliakan, bangsa yang dihinakan, dan lain-lain. Dan inilah sebenarnya kisah dan keadaaan yang selalu berulang akan menjawab sebuah siklus kesuksesan dan kegagalan.

Secara manusiawi, orang yang akan sukses maka akan bertanya kepada orang yang pernah sukses. Orang yang gagal akan bertanya kepada orang yang sukses juga atau orang yang pernah mengalami hal yang sama namun mampu bangkit. Ya, orang yang berpengalaman biasanya menjadi tempat konsultasi permasalahan.

Allah sudah memberi jawaban semua dari siklus dua sisi yang berlawwanan ini melalui kisah-kisah. Maka tidak heran bahwa kisah membuat orang akan lebih bijak. Maka Masyaaallaah ta’aalaa, Ya Rabb Yang Maha Bijaksana.

Islam mengajarkan sebuah ideologi yang sempurna sebagai sebuah ideologi proses dan kesuksesan, hingga menghadapi kegagalan. Sebuah nasihat yang sangat bijaksana dari Sayyidina Umar bin Kaththab radhiyallaahu ‘anhu,

Aku tidak bahagia dengan kesuksesan yang tidak aku rencanakan dan aku tidak menyesal dengan sesuatu yang sudah direncanakan disertai usaha yang maksimal kemudian tidak berhasil.

Mengajarkan bahwa usaha dan kesuksesan adalah penting. Merencanakan takdir untuk sukses dengan membuat perencanaan-perencanaan sebab akibat yaitu dengan (perhitungan yang matang) juga merencanakan menghadapi kegagalan yang tentunya bukan untuk gagal yaitu untuk memperbaiki dan bangkit dari kegagalan. Bahkan bisa dibilang merencanakan kegagalan adalah sesuai pertimbangan bahwa suatu ketika kita tahu akan gagal dengan hal yang tidak bisa kita elakkan, yaitu kegagalan yang harus benar-benar dialami. Sehingga ideology sukses akan mengatakan “Saya tahu akan jatuh maka saya akan (mengalami) jatuh namun saya (tahu) merencanakan untuk bangkit”.

Jadi masih berfikir bahwa ideology ‘kita’ adalah ideology proses saja? Dan masihkah mau berputus asa ketika gagal?
Hadapilah siklus kesuksesan dan kegagalan dengan iman. :)

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Satu Doa Seribu Pertolongan

Jum’at, 18 April 2014. Sebuah doa seribu pertolongan saya rasa sangat cocok untuk mengawali sebuah perjalanan saya saat menuju SDPW PII di Kendal. Mengapa saya tulis? Paling tidak inilah salah satu wujud syukur saya dengan menyebut-nyebutnya,

Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Qs. Adh Dhuha: 11)

Alkisah seorang pemuda yang dilema untuk berangkat SDPW atau tidak. Tidak ada komunikasi HP, yang ada cuma nama lokasi dan sebatas arahan kecil menuju lokasi. Berangkat dari kampus tercinta UNS, selepas menunaikan shalat Ashar. Sang pemuda sudah memprediksi dengan berangkat sekitar pukul 15.30, bisa dibilang pukul 16.00 supaya lebih enak menghitungnya.

Start pukul 16.00, menuju Kerten, sebuah halte didepan kampus PGSD UNS, salah satu halte untuk menunggu bis jurusan Semarang. Dia mengira paling tidak sampai akan sampai Kerten pukul 17.00 sehingga paling tidak sampai Semarang maksimal pukul 21.00. ternyata Allah berkehendak lain. Sampai Kerten pukul 18.00, lah ngapain aja di Bus Batik Solo. Entahlah sang pemuda sudah lupa. Mungkin juga karena harus jalan kaki dulu karena bisnya tidak mau sampai tempat tujuan dikarenakan sudah sore dan mau pulang.

Oke, sampai Semarang pukul 22.00. hmm… tidak ada bis lagi jam segitu dengan jurusan yang diinginkan Sang Pemuda. Adanya bis jurusan Jakarta, hanya saja bisa dipastikan tidak mau ditumpangi kalau hanya sampai Kendal. Sang Pemuda tersebut mencoba cara lain, namun ia ingat bahwa ingat belum shalat Maghrib dan Isya’. Ia kemudian menuju masjid yang tidak asing lagi baginya, Massjid di RS Sultan Agung, Semarang. Saat masuk disambut oleh jawaban ramah satpam saat dia pura-pura Tanya arah ke masjid.

Saat usai menunaikan shalat dengan jujur pemuda itu berdoa kepada Allah, “Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim Ya Malik Ya Quddus Ya Salam Ya Mu’min Ya Muhaimin Ya ‘Aziz Ya Jabbar Ya Mutakabbir… Tolonglah Hamba, pekerjaan ini bukan semata-mata untuk hamba namun untuk-Mu, kemudian ummat-Mu.” Pemuda tersebut merasa sedikit berdoa namun sungguh-sungguh, sambil ia mengingat kisah-kisah kejujuran seorang Umar yang jujur dalam doanya untuk syahid di kota Nabi, seorang Badui yang jujur meminta supaya terpanah pada urat lehernya, seorang Abdullah ibn Jahsy yang berdoa untuk bisa menglangkan pasukan-pasukan yang kuat kemudian pasukan yang ketiga akan mengalahkannya.

Merasakan ketentraman selepas berdoa Sang Pemuda berpamitan kepada Pak Satpam untuk melanjutkan perjalanan. Saat keluar dari pintu gerbang RS, dia menemukan angkringan didepannya. Jujur saat itu ia memang lapar, hingga ia sempatkan makan disitu. Uangnya disaku tidak digubris sama sekali karena ia saat itu hanya ada uang untuk berangkat. Sambil makan, ia ngobrol-ngobrol dengan penjualnya. Baginya ramah sekali penjual ini kepadanya padahal kepada pembeli sebelumnya tidak berbicara sama sekali. Mengalir saja Sang Pemuda menanyakan transportasi malam sampai ke tempat tujuan. Sang penjual memberi penjelasan yang sangat detail, yang pertama adalah kalau boleh naik bis jurusan Jakarta maka pembayaran akan dikenakan tinggi sambil ia menyesal berkata,”Wah kalau saya tidak sedang jualan njenengan saya titipkan teman kondektur saya mas.”. yang kedua ia menjelaskan bahwa Sang Pemuda tersebut harus naik angkot kemudian oper naik isuzu terus diterminal (lupa namanya) naik ojek atau nunggu bis sampai jam 2 pagi. Dan yang ketiga adalah Sang Pemuda ditawari tidur ditempat penjual tersebut dan bisa melanjutkan perjalanannya esok hari. Dengan banyak terima kasih Sang Pemuda memilih yang kedua saja, karena seharusnya ia sampai Kendal sehari sebelum hari tersebut.

Tidak lama untuk mendapatkan angkot di Semarang walaupun sudah larut malam. Turun di Cililita, kemudian naik Isuzu. Sebelumnya dia menemukan supir angkot yang ramah menjelaskan alur transportasi yang diinginkan pemuda tersebut dengan detail, sedetail-detailnya. Kemudian di Isuzu Pemuda tersebut berbincang-bincang dengan sopir Isuzu, dan tidak disangka ditawari oleh salah satu penumpang. “Mas, saya nanti mau ke Jakarta naik truk. Kalau mas mau nanti bareng saya saja tapi nanti turun di pom bensin Krapyak dulu ya, saya tak ambil truk. Gimana mas?” Tanya salah satu penumpang tersebut. Sang Pemuda langsung saja mengiyakan, dia tidak berfikir yang macam-macam dengan sosok yang menawari tadi baginya terasa tidak ada niat buruk dari tawaran tersebut. Bahkan kalaupun berniat jahat, sang Pemuda bergumam banyak dalam hati,”Aku punya apa? Uang sedikit, terus ada laptop, dan pakaian, sudah itu doing kan. Kalau mau macam-macam aku kan bisa beladiri, kalaupun kalah , mati , kan enak bisa mati dalam perjalanan fii sabilillaah. Wah indah banget ya. Untung juga tidak ada PII Wati, jadi aku tidak ada tanggungjawab kalau ada apa-apa. Malah ini kan pertolongan Allah.”

Lalu sampai pom bensin Krapyak, bersama-sama turun dengan bapak yang menawarkan bantuan tadi. Pemuda itu disuruh menunggu sampai bapaknya datang. Hamper tiga puluh menit dia menunggu tapi batang hidung bapak tadi tidak kelihatan samasekali. Hingga ada sebuah teriakan dari kejauhan saat ada truk berhenti. “Mas ayo cepat naik.”. Pemuda tersebut dengan riang menyambut teriakan tersebut sambil berfikir kepada Rabbnya, senang sekali Tuhannya menarik ulur hatinya, sambil tersenyum syukur.

Dia naik ke truk. Selama perjalanan rupanya diketahui bahwa yang menolongnya adalah bekerja di pabrik roti Nissin, kerjanya ngangkut roti ke daerah Jakarta dan Jawa Barat. Keduanya asyik ngobrol sana-sini, seprti sudah akrab dan lama mengenal. Ada yang unik dari perkataan sang sopir. Pertama, dia suka kepada mereka yang kuliah karena yang diketahui bahwa anak kuliah itu orangnya sopan-sopan karena berpendidikan tinggi. Kedua, dia menceritakan bahwa sebenarnya dia malu untuk menawari bantuan semisal tumpangan seperti yang diterima pemuda tersebut karena kebanyakan yang ditawari sering menolak dan memberi ekspresi yang tidak enak seakan-akan bahwa dirinya adlah penjahat. Dan dia senang karena pemuda tersebut menerima bantuan darinya, katanya juga asyik diajak ngobrol.

Tak kalah menarik jika laki-laki ngobrol itu bisa dicurigai juga akan mengobrolkan masalah perempuan. Mmm… walaupun sang pemuda tersebut agak tidak suka, namun tetap ia dengarkan. Sang sopir tersebut cerita bahwa sebelum berangkat dia berpacaran dulu dengan ceweknya. Muda sih, sang pemuda saja yang baru kenal dengan sang sopir dikasih tahu fotonya. Sang pemuda bahkan dimintai pendapat soal ‘cantik dan semoknya’ pacarnya. Huh… apa-apaan ini. dengan santai pemuda tersebut menjawab,

”cantik sih mas, tapi kalau masalah cantik dan semok kan tiap orang berbeda menilainya. Cantik dan semok itu tidak terlalu penting, ada yang lebih penting yaitu shalihah. Betul gak mas?”, Tanya balik Sang Pemuda.
“betul lah… tadi juga pacar saya tak ingatkan juga untuk jangan suka pake celana pendek.”
“Kira-kira mas, merasa cocok tidak?”
“iya saya rasa juga sudah sangat cocok.”
“Kalau gitu cepet-cepet saja mas. Segera datang ke orangtuanya saja. Mas kan sudah mapan kerjanya.”
“iya pengennya ya segera mas. Sebelum keduluan ‘gak nahannya’ ”

Seketika itu suasana santai jadi kacau karena tawanya yang keras dan bersama-sama. Kemudian tetap berlanjut pembicaraan masih mengenai pacarnya, keluarganya, kerjanya, dan cerita-cerita terkait pemuda tersebut itu juga. Bisa dibilang keduanya saling bercerita sehingga perjalanan yang jauh terasa cepat sampai.

Sang pemuda berpamitan dan banyak menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Dilanjutkan harus berjalan kaki sekitar satu kilo meter menuju lokasi sesungguhnya. Ditengah perjalanan pun ada motor yang menghampiri, menyempatkan berbelok untuk menawarkan menawarkan boncengan padahal keduanya arahnya berlawanan, namun saya tolak karena jaraknya hanya tinggal sedikit, kasihan jika harus mengantar gara-gara aku. Ya sudah akhirnya mas yang menawarkan bantuan melanjutkan perjalanannya sambil mengucapkan salam kepada sang pemuda tersebut. Berjalan satu langkah demi satu langkah akhirnya dengan selamat sampai ditempat tujuan, SKB Cepiring.
Syukrulillaah ya Rabb.

21.31.00 - 2 comments

Kesucian Dibawah Satu Payung

Di dalam kereta dia hanya bisa membaca sms tersebut dengan agak jauh karena kondisi saat itu sangat berdesakan. Dia hanya membuka dengan melirik ke saku tempat hp-nya disimpan. Ada satu sms dan penunjuk waktu pukul 17.23.

Sudah sampai mana Rasyid?

Sms itu dia biarkan saja, toh tinggal sedikit lagi sampai stasiun. Memang sangat sesak sekali kereta commuter arah Bogor. Terasa lagi ada dering getar dari hp-nya. Ada dua kali dering yang masuk. Akhirnya sampai juga distasiun UI. Sudah tidak sabar dia akan bertemu sahabatnya ketika dulu menjalin cita bersama saat masih kelas tiga SMA, cita untuk bersama masuk UI. Namun, ternyata takdir berkata lain bahwa Rasyid tidak bisa membersamai di UI.
                “Alhamdulillaah sudah sampai. Huh… ramai banget keretanya. Ada sms siapa aja ini…” pekiknya saat keluar dari commuter yang berjubel itu. Dia kemudian berpisah dengan dua teman satu kereta yang sama-sama ke UI tapi berbeda kepentingan. Dilanjutkan buka smsnya.

                “Rasyid, Arin otw ke stasiun UI ini.”

                “Oh ya, nnti tunggu di halte ya…”

Rasyid segera ke halte yang dimaksud. Halte tersebut menggabung dengan stasiun bagian terasnya. Tengok-tengok tidak menemukan keberadaan Arin, dia cari tempat duduk di halte tersebut. Lima menit, sepuluh menit tidak ada tanda-tanda sesosok perempuan yang mencarinya. Akhirnya disms sahabatnya itu.

                “Arin, saya sudah sampai. Ini nunggu di halte deket stasiun.”
                “Lima menit lagi ya…”

Tidak dibalas lagi sms dari Arin. Rasyid menunggunya. Karena capek duduk, dia berdiri sambil menggerakkan punggungnya ke kanan dan ke kiri untuk melemaskan tulang punggungnya yang dimuati tas berat. Sebelah kanan dari orang ketiga disampingnya dilihatnya adalah seorang sosok yang sangat dikenal. Didekatinya. Satu dua langkah, belum sempat dia menyapa sosok itu menatap, berdiri, tersenyum binar, dan menyapanya dengan riang.
                “Rasyid…Assalaamu’alaikum. Ih Rasyi…d bagaimana kabarnya? Kamu masih tetap sama seperti dulu.” Ucap Arin bertubi-tubi melihat sahabat yang lama tidak sua.Terasa kegembiraan keduanya membuat perhatian keramaian tertuju pada mereka yang seakan menambah sebuah sepojok episode kisah persahabatannya, bahkan mungkin timbul rasa lebih dari itu.
                “Alhamdulillaah baik. Arin bagaimana kabarnya juga?”, kegembiraan yang nampak dari keduanya memang tidak bisa disembunyikan satu sama lain.
                “Alhamdulillaah sangat baik Rasyid. ”. Dari keduanya terasa prolog yang disampaikan ringan dan cepat namun mengesankan bagi mereka. Belum sempat berbicara banyak, Arin yang sedari tadi menunggu Rasyid mengajaknya makan.
                “Rasyid, ayo makan . Pasti kamu tadi belum makan deh… ”. Rasyid hanya menurut saja.

***

Jedyar…jedyar… Guntur bersahutan sebelum empat kaki anak manusia melangkah, disusul pula hujan yang lebat secara tiba-tiba pertanda keagungan Allah yang manusia tidak dapat memastikan dengan perkiraan, kecuali tanpa iman.

Lalu Arin dengan sigap mengeluarkan payungnya dari tas kuliahnya. Ada yang salah, payungnya hanya ada satu. Arin memberi isyarat seakan dia menarik tangan Rasyid untuk satu payung dengannya. Rasyid kemudian dengan rasa yang bercampur mengiyakan maksud Arin.

Hujan yang lebat tersebut membuat mereka terpaksa satu payung. Menyeberang jalan kampus depan stasiun UI yang sangat ramai mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang cepat tidak mau kalah dengan rintik deras air hujan. Kerepotan juga ketika harus menyeberang bareng berdua yang tidak biasa berdekatan dalam satu payung. Namun, akhirnya kecanggungan mereka atasi.

Belok kiri, jam menunjukkan pukul 17.49 sebentar lagi adzan. Keduanya suatu saat merenggangkan kedekatan raga mereka, disuatu saat yang lain kembali berdekatan. UI yang banyak orang mengejar hujan bagi Rasyid terlihat lambat ketika melihat mereka berdua, seorang gadis berjilbab lebar satu payung dengan seorang laki-laki sebaya dengannya.

Dibawah satu payung banyak cerita yang terlontar. Bagaimana kuliah, Bagaimana kegiatan-kegiatan yang dilakukan, bagaimana pandangan membingkai cita-cita jauh kedepan, dan pengalaman-pengalaman yang lain.

Di bawah satu payung, kecanggungan tidak bisa dielakkan. Rasyid yang sering menjauh dari raga Arin seolah tidak hendak tersentuh dan lebih dari itu adalah prinsip kesucian yang dipegangnya. Arin sebagai pemilik payung kadang mendekat kadang menjauh seolah ingin menyatakan payung ini untuk Rasyid karena dia juga harus menjaga kesucian keduanya.

Dibawah satu payung hujan yang deras seolah mendukung keduanya untuk tetap beratap dibawah satu payung. Hingga Rasyid kasihan jika harus Arin yang memegang payung itu. Juga sepanjang jalan menuju masjid UI terasa sangat jauh. Juga mata-mata yang selalu tertuju kepada keduanya dengan kalimat “cie cie dan semisalnya”.

Dibawah satu payung, air hujan yang dingin membasahi keduanya meski dibawah satu payung. Dibawah satu payung, air hujan yang telah membasahi keduanya tidak terasa dingin, malah terassa hangat dibawah candaan dua hati sahabat yang sudah lama tidak berjumpa. Hingga untuk menjaga sebuah ketinggian kesucian,dibawah satu payung Rasyid berkata,
”Payung itu buat kamu saja Arin. Saya khawatir dengan ini kamu mendapat fitnah. Saya tidak kuliah di UI, jadi seandainya saya berbuat maksiat apapun tidak ada yang mengenal saya sedangkan kamu berbeda. Disini kamu adalah bisa jadi banyak dikenal”.
“Tapi Rasyid, nanti kamu kehujanan.”
“Tidak apa Arin, biar saja saya kehujanan dan saya pikir itu lebih baik.”
Arin yang tahu bagaimana karakter sahabatnya itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengiyakan. Pun pada hakikatnya Arin juga sadar harus menjaga kesuciannya juga.
Percakapan mereka itu menyadarkan keduanya untuk saling melepas dibawah satu payung. Rasyid menjauh dari payung tersebut. Bahkan dengan kalimat itu empat mata yang saling beradu berbinar seakan ingin menjatuhkan air hujan matanya.

Dibawah satu payung, akhirnya tinggal satu nama yang berdiri diatas kesucian dan membiarkan Rasyid kehujanan atas derasnya, namun diatas kesucian deras dan dinginnya air hujan tetap menghangatkan keduanya. Hingga Allah yang Maha Kuasa menyuruh hujan untuk mereda.

Sepanjang jalan setapak dipinggir hutan kecil yang dilaluinya sudah semakin mendekat dengan masjid UI. Masjid yang akan dimasuki oleh Rasyid pertama kalinya. Belok kanan, jalan sekitar lima puluh meter kemudian belok kiri, menyeberang.
“Nanti kita bertemu dikantin dekat masjid ya Rasyid. Hati-hati.” Kata Arin dengan terbata-bata.
“Iya insyaaallaah.” Jawab Rasyid hingga berlalu masuk ke dalam masjid.

***