Sabtu, 18 Januari 2014

Sambung asa

Kawan, pernahkah engkau menonton film Three Idiots ? film yang sangat memberi banyak kita teladan kepada hidup dan pendidikan. Kawan, bahkan sampai hari ini aku menyaksikan diriku sendiri tengah menapak di fakultas pendidikan dengan senyum yang engkau saksikan tiap harinya. Engkau tahu bahwa aku ini bekas anak mipa. Mungkin engkau semuanya tahu apanya ada di diriku. Namun kawan, engkau tak akan pernah tahu apa yang menjadikan diriku selalu tersenyum dan sangat tegap untuk melangkah. Hingga kadang engkau menyaksikan sendiri karena banyak senyum dan kalimat yang ‘ceplos’ mengalir, bahwa aku ini tidak berfikir dengan keadaaanku sendiri. Kawan, kKalau engkau terus mengeluh dengan keadaanmu sekarang, lalu bagaimana dengan aku? Bukankah aku anak matematika murni? Tapi itu rupanya masih menjadikanku tidak lulus. Kawan, cobalah engkau muhasabah diri tentang kualitas. Aku yakin apa yang ada didalam dirimu bukan hanya yang engkau bawa sendiri. Banyak kemuliaan dalam dirimu. Sungguh. Aku mencermati kalian. Ingat kawan, usahamu tidak akan pernah sia-sia, bahkan aku akan menjamin ketika niat engkau adalah niat yang tinggi maka “All iz well.”

18.41.00 - No comments

Menjadi Orangtua yang Baik

Walaupun usianya belia tapi kepribadian yang ditanamkan orangtuanya mampu mematangkan dirinya jauh dengan usianya. Tercermin dari logika keimanan yang diterimanya dengan sempurna. Bahkan logika keimanan itu sendiri diuji oleh Tuhannya melalui bapaknya sendiri, Ibrahim.
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" tawar bapaknya dengan kalimat yang sangat lembut.
Tanpa ragu si anak menjawab,"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"
(terkisahkan pada QS. Ash Shaffaat : 102)

Jika hari ini banyak yang mengeluh dengan anak yang tidak berbakti, Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesuksesannya dalam menjadikan cinta yang diberikan kepada Ismail merubah menjadi sosok bakti yang besar. Tidak sedikit dengan kisah ini akan berkilah dengan alasan bahwa Ibrahim dan Ismail adalah Nabi sehingga sanggup seperti itu, yang tidak akan pernah bisa disamakan dengan manusia seperti kita. Bukankah Nabi Ibrahim Uswatun Hasanah? Sehingga kata Allah kita diperintah untuk mengikuti ?

Bersiap diri menjadi orangtua yang baik.

Membedah Syair : Keadilan Dunia

Perihal curahan syair kemarin yang saya postingkan rupanya menimbulkan kontroversi bagi sebagian. Saya tidak bermaksud untuk menyakiti siapa-siapa. Saya hanya ingin menghibur teman-teman yang sering remidi padahal mereka sungguh mengorbankan waktunya untuk belajar, ada yang remidi dua kali eh malah divonis tidak lulus, ada yang remidi segunung pula padahal usahanya sungguh luar biasa. Saya tidak tega dengan keluhan manusia normal (apalagi amanah yang ada dipundak selalu mendorong untuk menghibur mereka).

Supaya tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, saya akan membedah syair saya sendiri.

Sabtu, 11 Januari 2014

Keadilan Dunia

Ada yang berusaha sungguh-sungguh tapi belum sampai mendapatkan hal yang diinginkan.
ada yang berusaha setengah-setengah, bahkan tidak tapi mendapatkan apa yang diinginkan.
tidak adil ?
ya kawan, tidak adil. ingat kita masih di dunia. belum di akhirat.
jika dunia tidak bisa memberi keadilan bagimu maka sungguh bahwa akhirat bisa memberi keadilan bagimu.
dunia ini sarana, akhirat adalah tujuan.
jangan tanggung untuk berproses.
jangan tanggung untuk syurga.
jangan tanggung untuk meraih Ridho Allah.

Ingat manusia tidak akan memberi keadilan bagimu,
Allah yang memberi keadilan bagimu.
Semoga Allah menolongmu,
di dunia-Nya dan akhirat-Nya.

Jumat, 10 Januari 2014

Menyempurnakan Akhlak



Ketika kita mempelajari fiqhud da’wah sebenarnya yang kita pelajari tidak lain adalah akhlak. Ya sejenak saya berfikir tentang akhlak itu sendiri. Dalam fiqhudda’wah biasanya akhlak digunakan sebagai proses atau alat tapi ada yang lebih besar menurut saya  yaitu akhlak adalah apa yang dida’wahkan kepada umat. Bukankah misi Rasulullah adalah menyempurankan akhlak manusia ?

Sekali lagi, disini saya tidak berbicara tentang fiqih dakwah atau cara berdakwah sehingga diterima. Namun, saya disini menyoroti urgensi akhlak itu sendiri selain sebagai fiqih berdakwah.