Sabtu, 06 Desember 2014

PII dan Kuliahku

Sudah berakhir delapan hari bolak-balik Solo- Kemuning, LBTDN yang dilaksanaan dengan pengamanan secara ketat usai sudah. Tinggal kini aku mengurus kuliahku. Kuliah ? ya benar, kuliah. Hmm… sejenak aku berfikir bagaimana kuliahku. Dari agenda yang selalu bertabrakan hingga benar-benar asupan energi yang tidak memadai untuk memilih keduanya. PII dan kuliah.

PII dan kuliah. Bagiku adalah dua hal yang sangat penting. Mungkin akan berulang kembali masaku ber-PII saat SMA. Bisa dibilang semuanya hancur akan tetapi itu pelengkap dari sisi kebanggaanku sendiri bahwa aku ingin sekali bersaksi bahwa aku pun berkorban (mungkin karena seringnya juga mendengar curhat2 temen-temen yang ada di daerah). Tentunya maksudku bukan untuk dihadapan manusia(manusia kan banyak menuntut), tapi di akhirat.

PII. Suatu wadah yang mengajariku banyak hal hingga yang lain ku abaikan(haha). Wadah yang tidak terkenal saat ini tapi itulah yang menjadikan seseorang ditempa hatinya, bersih tidak ketika dia masuk ke PII, ikhlas tidak berjuangnya di PII, sungguh-sungguh tidak dalam ber-PII, hal itu akan nampak secara alami. Namun, wallaahu a’lam aja lah (saya tidak tahu banyak hati kan).

Kuliah. Hmm, berat ketika harus membicarakan soal kuliah. Bahkan ini tanggungjawabku dihadapan orangtuaku. Aku Cuma ingin membuktikan bahwa aku bukanlah seseorang yang seperti dulu selalu berkutat dengan soal di lembar-lembar putih dan buram. Aku Cuma ingin katakan soal kehidupan. Tuntutan akademik, pekerjaan masa depan, atau sekedar hidup bermateri atau semacam apa lah tuntutan yang lain, aku tidak terlalu ambil pusing. Aku hanya melihat pada sisi lain dari kuliah itu sendiri dengan perspektif pendidikan yang berkonsentrasi pada pendidikan. Dan aku ingin mengambil esensi dari pendidikan yaitu belajar, bukan menuntut nilai setinggi-tingginya hingga melupakan esensi, hingga melupakan proses, hingga melupakan segalanya. Tidak.

Aturan-aturan yang tidak bisa mentoleransi kepada apa dan siapa pun. Aturan yang berat sebelah bagi organisasi dalam dan luar. Aturan yang mengharuskan bukan sekedar kuliah namun tidak pernah membuat mahasiswa seperti harapan. Menuntut kepada tekanan yang tidak bisa dituntut.


PII dan kuliahku. Kalian sangatlah penting bagiku. PII mengajariku sukses studi, kuliahku juga. Bahkan ber-PII lebih mengajariku hal itu dibanding kuliahku. Namun, mengapa keduanya tidak bisa berkompromi. Namun, aku tetap yakin akan pertolongan Allah setelah hamba itu berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana Allah memberi banyak pertolongan kaetika aku SMA dulu. Ya, seperti itu, jujur dan benarkan Allah, maka Allah akan jujur dan membenarkanmu.


Ditulis pasca LBTDN Karanganyar, setahun lalu.

0 komentar:

Posting Komentar