Jumat, 21 November 2014

Asma' Binti Yazid, Sang Orator Kaum Muslimah


Nama lengkapnya ialah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al Anshariyyah, Al Ausiyyah al Asyhaliyyah. Seorang wanita mulia, agama yang bagus, mujahidah yang agung, sosok muslimah yang cerdas, dan ahli dalam argumen, orasi, dan terorika yang baik sehingga ia mendapat julukan “Khatibah An Nisa” (Sang Orator Wanita).

Selebih dari lulusnya sifat-sifat agung seorang muslimah ia memiliki keistimewaan yang berada diatas diantara kebanyakan para muslimah. Diantara sifat-sifat yang dimiliki ialah kepekaan indra, kejelian rasa, dan ketulusan hatinya. Dalam kehidupannya senantiasa mencerminkan sikap yang elegan dan mantap. Ia seorang yang tidak manja dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dhina, pemberani, kuat, dan ia pun seorang prajurit perang dalam medan pertempuran. Hebat sekali bukan.

Suatu ketika pada tahun pertama hijrah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaiat para wanita. Disitu Asma’ mendatangi Rasulullah untuk ikut berbaiat kepada Islam. Sejak saat itu Asma’ adalah muslimah yang paling aktif dengan menyimak hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala urusan dalam agama. Bahkan ia lah yang mempelopori dalam menyanakan hal bersuci bagi muslimah setelah haid. Bentuk karakter yang kuat dalam dirinya membuatnya menjadi pribadi yang mantap. Baginya pula pertanyaan-pertanyaan semacam itu jika itu hak maka ia tidak malu dalam menanyakan kepada Rasulullah. Sehingga tidak heran sosok Asma’ menjadi seorang muslimah yang kritis, cerdas, dan baik agamanya.

Dalam persoalan-persoalan yang sering dihadapi muslimah Asma’ sering menjadi jubir dari kalangan muslimah untuk menanyakan kepada Rasulullah. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang ada dibelakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana aku katakana dan sebagaimana berpendapat sepertiku.”

Dilanjutkannya,”Sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’aalaa mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membaiatmu sebagai Nabi kami. Adapun kami para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka , maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Pertanyaan itu yang membuat Rasulullah menoleh kepada para shahabat dan bersabda,”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang din yang lebih baik dari apa yang ia tanyakan?”
Para shahabat menjawab, “Benar. Kami belum pernah mendengarnya Ya Rasulullah!”

Lalu Rasulullah bersabda,”Kembalilah wahai Asma’ dan beri tahukanlah kepada para muslimah yang berada dibelakangmu itu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, meminta kerihaan suami, dan meminta persetujuan suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka bertakbir dan bertahlil-lah Asma’ sambil kembali kepada kaum wanita karena kegembiraannya atas sabda Rasulullah itu padahal sempat terbetik dalam hatinya untuk ikut dalam berjihad layaknya kaum laki-laki. Namun, diredam oleh nasihat Rasulullah diatas. Hingga kesempatan itu terealisasikan oleh keadaan pada Perang Yarmuk pada tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah. Ya seorang Asma’ yang cemburu dengan jihad akhirnya bisa menjadi wanita shalihah dengan gagah berani menyertai perjuangan Umat Islam.

Itulah Asma’ dalam perjuangan menuntut ‘ilmu dari Rasulullah dan turut serta dalam perjuangan yang hebat. Dikisahkan ketika perang Yarmuk melawan tentara Romawi, Asma’ membersamai para pasukan mukmin dan mukminah mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan persenjataan, logistic, dan pengobatan bagi mujahidin yang terluka. Juga menjaga semangat para mujahidin. Bahkan para mujahidah juga yang bersikap tegas memukul para mujahidin yang berusaha mundur melarikan diri.

Asma’ yang kala itu dalam pikirannya hanya berjihad menegakkan kalimat Allah mencurahkan segenap kemampuannya dengan ikut melawan para tentara Romawi. Saat itu dihadapannya hanya ada tiang tenda, kemudian dicabutlah, dan Ia terjun ke tengah pertempuran, berhasil membunuh Sembilan tentara Romawi. Kemudian selepas pererangan itu Ia masih hidup dan membawa luka di punggungnya.

Allah menghendaki hidup setelah perang itu 17 tahun lamanya hingga Beliau wafatpada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menghidangkan teladan wanita shalihah yang gagah berani. Semoga keberanian berbicara dan keberanian bersikap seorang Asma’ bisa membawa teladan yang tinggi bagi kaum muslimah masa kini untuk tidak ragu dalam menyampaikan kebenaran, meminta kebenaran, dan mencurahkan segenap kemampuan demi memperjuangkan kebenaran itu juga.

Kisah ini saya hadiahkan untuk adik saya tercinta.
diambil dari buku "100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa", Inspirasi para Muslim yang Dicatat dengan Tinta Emas Sejarah.

0 komentar:

Posting Komentar