Jumat, 10 Juli 2015

10.22.00 - No comments

Membuka Hidup Ayah

Di Pematang sawah, pedalaman Sumatra, di gubuk yang agak lebar muat untuk tidur tiga orang dewasa. Ibu dan anak menunggui padinya supaya tidak dimakan oleh burung-burung kecil. Ada lima orang-orangan yang diberi pakaian adat jawa yang masing-masing penegaknya terdapat kaleng bekas. Empat orang-orangan dipojok dan satu tepat ditengah petak sawah. Jika ada burung yang mencoba hinggap ditariklah tali yang menghubungkan lima orang-orangan sawah tersebut.

 “Huwa.... huwa...” Teriak Junayd dengan menarik tali simpul orang-orangan sawah, hingga terdengarlah kelontongan akibat benturan kaleng-kaleng tersebut.

“Sudahlah Cah Bagus jangan galak-galak sama burung-burung itu! Biar ia mengais sebagian rizki dari sawah kita. Mereka juga punya keluarga yang harus dihidupi. Kalau dirasa sudah terlalu banyak makan padi baru diusir.” Kalimat itu meluncur saja dari sosok ibu Junayd, Maryam, yang dikenal kaya raya di kampungnya di Jawa. Sekarang ia menetap di Sumatra mengikuti suaminya untuk mencari manfaat di tempat yang lainnya.

“Tapi kan Bu, burung-burung itu sudah dijamin rizkinya oleh Allah?” Junayd tak mau kalah. Dia selalu tak mau kalah jika membicarakan hal-hal terkait bab agama lebih-lebih berkaitan tentang aqidah, halal-haram, dan segala sesuatu yang dianggapnya penting.

“Tidak maukah kamu nak menjadi perantara sebab rizki burung itu datang melalui tanganmu?” jawab ibunya dengan lembut. Menurut Junayd pemikiran ibunya itu benar juga. Belum selesai ia memikirkannya, ibunya melanjutkan,”Setiap manusia yang berfikir seharusnya memiliki akhlak yang baik. Akhlak kepada Rabbnya, Rasul dan agamanya, sesama manusia, dan sesama ciptaan Allah yang meliputi hewan, tumbuhan, dan lingkungan kita.”

“Iya!”

“Ayahmu cah bagus! Ia adalah seorang yang sangat memikirkan orang lain. Kecintaannya kepada Islam membuatnya harus membawa ibu kesini. Aqidah cintanya itu membawa akhlak cinta kepada dakwah dan umat ini. Ibu banyak belajar darinya.”

“Memang ayah dulu seperti apa Bu?” tanya penasaran.

“Ia sebagaimana pahlawan yang mudah berkorban, seorang yang mencintai ilmu pengetahuan, seorang da’i filosofis, dan tentunya seorang laki-laki yang sangat mencintai ibumu ini.”, tersipu merah pipinya. Ditambahkan, “Membuka hidup ayahmu adalah pelajaran sejarah bagi ibu, nak.”
---bersambung--- 

Melunasi Rasa

Rabu malam, tidak ada yang bisa ku tawarkan kecuali kesusahan yang diselimuti segala keterbatasanku. Meski dalam lubuk hati sangat ingin membahagiakanmu tapi aku belum bisa membawakan sebongkah batu kebahagiaan kepadamu.

Namun, dalam jalan syariat aku mencoba teguh. Berani layaknya pejantan muslim yang bertanggungjawab atas rasa yang pernah tertanam dan terbina. Dalam harap, doa, dan keoptimisan aku senantiasa memanjatkan bahwa akhirnya engkaulah yang dipilihkan Dia.

dia kado dari Dia

Bagiku kelebihanmu adalah kekurangan dan kekuranganmu adalah kelebihan di mataku. Bahkan seperti yang kau ucap tentang kebersamaan dalam perjuangan dan ujian. Itulah yang nanti membuat kita kuat. Bahwa ketika diatas adalah anugerah Allah yang tiada terkira. Ketika dibawah adalah bertahan.

Karena telah terlanjur lukisan namamu di hati, sudah terlanjur indah dan mendalam rasa. Ketika itu tiadalah lain selain aku tuliskan dalam bait-bait kesungguhanku. Dalam titah yang ingin dipenakan pada lembaran takdir, meski aku seorang hamba. Lalu ku bawa lembaran itu menghadap kepada Rabbku bahwa aku ingin mendekatimu dalam janji ikatan suci.

Lalu hanya dengan alasan inilah keberanianku muncul.
Karena kecintaanku kepada Rabbku, agar mencintaimu dengan syariat-Nya.
Karena kecintaanku kepada Nabiku, agar mencintamu dengan sunnahnya.
Karena kecintaanku kepada dakwah ini, agar mencintaimu untuk kita menyeru bersama.

Lalu karena kecintaanku kepadamulah, agar aku mencintaimu untuk melunasi rasaku.