Jumat, 21 November 2014

PII di Solo (Seharusnya) Potensi Poros Pelajar

Solo, tempat dimana pergerakan Islam dengan berbagai nama ada disini. Tempat dimana kebudayaan banyak dijumpai. Tempat yang heterogen. Tempat yang memiliki sejarah panjang juga. Tempat banyak wisatawan asing yang datang. Tentunya banyak pengaruh pemikiran didalam kota ini. Lebih luas lagi sebutan Solo Raya yang mencakup Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dalam benak saya kota ini memiliki watak inklusif dan toleransi yang amat besar. Awalnya. Namun sungguh itu baru silau pertama yang ada dibenak saya. harus segera kita masuk dalam ruang kota Solo. Sepintas watak Solo sebagai kota inklusif dan toleransi yang besar saya rasa belum semua sepakat. Ada hal-hal yang kita bisa lihat dari sisi lain. Rupanya ketika saya melihat, bukan bentuk toleransi yang ada namun sikap diam dan acuh kepada sesama.

Saya coba menyoroti sebagaimana yang paling tidak menjadi bahasan sehari-hari saya yaitu tentang Muslim, Cendekia, dan Pemimpin, terutama pada ke-Pelajaran sekarang dan masa yang akan datang. Agak silau memang ketika mendapati kondisi yang mana banyak ditemukan orang-orang memakai “pakaian muslim” dari yang bentuknya koko hingga jubbah, dari yang bentuknya jilbab lebar hingga bercadar. Seharusnya peran kondisi ini memang bisa mempengaruhi secara signifikan kan?

  1.  Muslim

Berbicara terkait komunitas muslim saja ditingkat pelajar bisa kita lihat heterogenisasi komunitas-komunitas pelajar-pelajar muslim, kemudian sekolah-sekolah Islam, pelajar-pelajar dari pendekatan nahdliyin hingga pendekatan celana no isbal. Dari pelajar putri yang memakai gamisnya hingga sampai berniqab. Dari yang paling lembut hingga paling bisa koar-koar dan reaktif. Ya,…Di Solo ibarat kelompok Muslimnya yang heterogen yang kalau bahasa jawa “Tumplek Blek” yaitu bertumpukan di satu tempat (Solo) berarti suasana yang dipancarkan adalah suasana yang Islami. Iya kan?
Tapi ada sisi lain rupanya heterogenitas tersebut tidak membuat Muslim saling melengkapi. Ada bagian muslim yang belum disebutkan adalah bangsa kejawen dan kaum abangan (Oh Solo kaya sejarah 2 jenis ini bro…). oke lah sementara kita beri stempel bahwa Solo adalah tempat dimana semua pergerakan Islam bereksistensi disini.
Kembali ke pertanyaannya harusnya bisa memenuhi standar untuk bisa mempengaruhi suasana secara signifikan kan? Oh ternyata usut punya usut tampilan luar yang seakan bagus ternyata punya borok juga. Kaum muslim di Solo masih dalam kapling-kapling berpecah-belah. Bilang saja persatuan tapi gak ada aksi dalam hal satu penyatuan. Hanya pas saja bisa kita lihat dalam aksi-aksi besar dan itu pun masih dalam ibarat secara luar tampilan yang hampir sama sehingga seakan membentuk suatu ikatan jamaah. Sulit dijelaskan hanya bisa dirasakan. 

2.Cendekia



Beralih pada cendekia, dalam KBBI berarti tajam pikiran, lekass mengerti, cerdas, pandai, cepat mengerti situasi danpandai mencari jalankeluar. Saya rasa tidak diragukan lagi dalam hal ini Solo selain sebagai kota yang banyak sejarah, kota yang budaya, tentu punya banyak kualitas pelajar yang mumpuni atas kalau mau diturunkan sedikit adalah punya potensi yang besar dalam hal ini. bahkan sekolah favorit bukan hanya dimiliki pemerintahan lho, sekolah Islam, hingga ma’had favorit pun menjamur di Solo. Yang diharapkan tentunya melahirkan generasi-generasi cendekia. Harapannya....

3. Pemimpin

Pemimpin, yang akan saya bawa ke kepemimpinan. Dimana dalam kondisi ini secara garis lurus ditarik dari sifat pertama Muslim. banyak pelajar yang secara kapasitas pengetahuan agamanya baik tapi mengapa dari segi kepemimpinan tidak bisa mempengaruhi atau mendominasi? Jawab versi saya masih tetap sama karena umat Islamnya masih kotak-mengkotakkan.
Oke lanjut kepemimpinan yang dibangun dari sifat kedua yaitu cendekia. Masih terikat dengan sifat yang pertama Muslim adalah mengapa bahkan dengan ciri Muslim dan cendekia masih belum bisa memimpin kota Solo? Mengapa kota Solo basis semua pergerakan Islam dalam hal ini pelajar sebagai pemimpin masa depan masih tetap dipimpin oleh orang kafir?
Tidak ada kepemimpinan kah?
Selain dalam kondisi yang saling mengkotak-kotakkan kepemimpinan kaum muslimin di Solo secara basis memang tidak ada. Masing-masing massih dalam kepemimpinan baju-baju mereka. Hendak pun boro-boro mengajukan pemimpin diantara mereka tentunya yang diajukan adalah harus dari masing-massing kelompok mereka. Tidak ada golongan dalam pengorganisasian secara terpadu untuk kaum muslimin di Solo. Tidak heran maka yang menang selalu mereka yang mendapat dukungan awam, kejawen, abangan , dan orang-orang kafir. Kaum muslimin  tidak mau berorganisasi secara terpadu sedangkan musuh-musuh berorganisasi secara terpadu. Kalau umat Islam mengusung banyak ustadz sekalipun kalau tidak ahli dalam keorganisassian sebelumnya, main asala comot ya hasilnya para ustadz yang diusung akan mati kaku dalam pengolahan keorganisasian kota Solo. Intinya dalam kepemimpinan perlu latihan dalam berorganisasi yang intensif , dibina sejak muda, bukan asal comot yang penting kiai atau ustadz.

Sudah mengerti sekarang saya mengapa banyaknya pergerakan di Solo tidak mampu menjalankan kepemimpinannya di kandang sendiri. Berkotak-kotak, saling mencurigai sesama muslim, tidak mau berfikir untuk oranglain diluar kelompoknya dalam membingkai ukhuwah, dan tidak pernah banyak nilai yang diambil dalam kepemimpinan terpadu.

PII membentuk poros pelajar.


Dalam hal ini PII sebagai wadah perjuangan umat yang menampung pelajar dalam menyiapkan kadernya sebagai Muslim, Cendekia, dan Pemimpin seharusnya punya prospek besar untuk berdakwah dalam membingkai persatuan dan kesatuan umat Islam di Solo terutama pada kalangan pelajar. Bahkan dari tiap-tiap golongan pelajar seharusnya bisa dan memiliki sikap bergabung dengan PII ini ya minimal karena fitrah rasa persatuan kaum muslimin, saling rasa persaudaraan sejawat, teman bermain, atau bahkan karena sudah muak dengan pengkotak-kotakkan antara pelajar muslim yang dalam lembaga dakwahnya sangat tertutup sehingga ketika sama-sama masuk ke PII akan saling bisa berkomunikasi dalam menjembatani kedua belah pihak. Atau mirip seperti dahulu kala saat awal-awal PII dirikan suasananya mirip dengan Solo antara pelajar-pelajar yang sekolah dibangku konvensional dengan sekolah bersistem Islami atau ma’had atau pondok pesantren sekalipun. Meraka tentu ketika bersama akan saling mempengaruhi dan saling memberikan bentuk dan cara masing-masing dalam bersaudara karena di PII mereka wajib untuk hidup lama dan seatap sehingga mau tidak mau mereka akan saling memberi pengertian terutama ketika mereka sadar bahwa mereka adalah muslim yang bersaudara. Dan dari tujuan terbentuknya lingkungan islami inilah yang diharapkan dari heterogennya kelompok-kelompok muslim di PII.

Disamping itu pelajar juga akan dibina  dalam pengembangan dalam kretivitas, pengembangan bakat, olah pikir, dan intelektualitasnya. Dalam ber-PII, pelajar yang terikat dalam barisan ini melakukan pembinaan dalam kursus, ta’lim ruhiayah, mental, berargumen dengan referensi yang baik, adab sopan santun, saling menghargai, budaya membaca, dan senantiassa budaya menganalisis. Terus ditambah dengan keadaan PII yang tidak memiliki induk pergerakan diatasnya membuat PII harus bekerja dengan kepemimpinan yang baik dan mandiri sehingga dari proses inilah dapat membentuk calon-calon pemimpin yang musli, cendekia sekalipus memiliki kapasitas kepemimpinan yang baik. Sehingga sebagai prinsip pemersatu umat seharusnya PII di Solo ini ditengah heterogenitas kelompok-kelompok pergerakan umat Islam di Solo mampu menjadi wadah pelopor terbentuknya bibit-bibit manusia muslim, cendia, dan pemimpin yang diharapkan menjadi kebermanfaatan secara nyata bagi kemajuan peradaban Solo. Bisa menjadi wadah penempa calon-calon pemimpin sebagai kaum yang menggantikan. Semoga Allah meridhoi cita-cita ini: terbentuknya poros pelajar Islam di Solo sebagai agen perubahan menuju peradaban madani.

0 komentar:

Posting Komentar