Rabu, 18 Juni 2014

21.29.00 - No comments

Hakikat Manusia dalam Islam



A.      Konsep Manusia
Manusia sebagai salah satu makhluk yang mendiami bumi memiliki keunikan yang menakjubkan. Dibanding dengan makhluk lainnya manusia memiliki persamaan dan perbedaan yang mendasar, terutama dalam menciptakan kebudayaan dan peradaban.
Manusia dengan binatang tidak begitu berbeda terutama dari susunan jism-nya dan asupan yang diterima untuk kebutuhan biologisnya. Ilmu pengetahuan memandang manusia dari segi fisik sebagai bagian dari spesies binatang.


Hipocrates (460-370 SM) melihat manusia dimulai dari segi fisik. Dalam diri manusia terdapat empat macam sifat yang dipengaruhi oleh cairan-cairan yang ada didalamnya, yaitu sifat kering terdapat di chole (empedu kering), sifat basah dalam melanchole (empedu hitam), sifat dingin dalam phlegma (lendir),sifat panas pada sanguis (darah). Plato (428-348 SM) menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang terdiri dari tubuh dan jiwa yang diantara keduanya ada pemisah. Aristoteles (350 SM), salah seorang murid Plato berpandangan lain. Jiwa manusia adalah makhluk otonom yang berkembang menjadi lain dan tidak lepas dari tubuhnya.
Yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah kesadaran manusia untuk bebas memilih dan daya kreatifitasnya. Manusia adalah satu-satunya makhluk di dalam alam yang telah meraih kesadaran. Kesadaran itu adalah pengalamannya tentang kualitas dan esensi dirinya maupun dunia, serta hubungan antara dirinya dengan alam.
Ciri manusia kedua adalah bahwa manusia bebas untuk memilih bagi dirinya sendiri yang bertentangan dengan instingnya, alam, dan masyarakat atau juga bertentangan dengan dorongan-dorongan fisiologisnya. Iradah menghantarkan manusia mencapai taraf tertinggi. Dan ciri yang ketiga adalah manusia memiliki daya cipta (kreatif), ia dapat menciptakan barang-barang dalam berbagai bentuk dan ukuran yang berbeda, dari artifak yang paling sederhana sampai industry dan kesenian yang paling sulit sekalipun.
Naturalism memandang manusia sebagai makhluk kecil diatas alam. Manusia tunduk terhadap kekuasaan alam. Karena manusia dan makhluk lainnya selalu bergantung dengan apa yang disediakan oleh alam. Dengan demikian paham naturalis telah memenjarakan kebebasan memilih, kesadaran, dan daya cipta manusia.
Dengan demikian, pada dasarnya manusia tidak mampu mencandra dirinya secara benar, karena manusia tidak akan mampu menopang secara objektif, netral, dan dari luar dirinya. Padahal ketika salah dalam memahami esensi dan eksistensi manusia, maka akan berimplikasi kepada pembangunan kebudayaan dan peradaban yang akan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.
Untuk dapat memahami esensi dan eksistensi manusia yang benar dan logis adalaj dengan memahami kabar dari Pencipta manusia yaitu Allah SWT. Allah SWT menjelaskan tentang aal-usul, proses kejadian, bentuk fisik, tujuan, fungsi, fungsi penciptaan dan peranan manusia sebagai berikut.
Asal-usul manusia adalah dari Adam as yang tercipta dari unsur tanah, sesuai firman Allah:
Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.(QS. AL Hijr : 26)
                Dalam perkembangan selanjutnya, proses kejadian manusia adalah dari pertemuan antara air mani (sperma) laki-laki dengan sel telur (ovum) wanita yang mengalami perkembangan yang menakjubkan dalam Rahim seorang wanita. Pada tahap perkembangan penciptaan manusia didalam Rahim, kemudian Allah meniupkan roh pada janin manusia. Allah menjelaskan dalam firman-Nya:
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina.Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. As Sajdah: 8-9)
                Dengan demikian manusia terdiri dari unsur jasad yang tercipta dari tanah atau lumpur dan unsur roh atau spirit dari Allah SWT. Tanah atau lumpur dalam bahasa manusia merupakan symbol dari kerendahan, kenistaan, dan kehianaan, dan tidak ada yang lebih hina dan kotor daripada lumpur diaman manusia diciptakan. Kemudian Tuhan dihadapan manusia adalh Zat yang MAha Sempurna dan Maha Suci. Dan bagian yang paling suci serta paling sempurna adalah roh. Akan tetapi roh Yang maha Suci adalah roh Yang Maha Sempurna, dimana roh manusia berasal dari spirit Allah SWT. Jadi manusia merupakan gabungan dari debu dan roh suci, terbentuk dari dua dimensi yang berbeda.
                Selain keistimewaan tersebut diatas, manusia juga merupakan murid utama Sang Pendidik alam. Artinya, hanya manusia yang diberi ilmu pengetahuan oleh Allah SWT, dan hanya manusia yang dibekali kemampuan akal untuk memberi nama-nama, melakukan identifikasi, konseptualisasi, dan teorisasi. Dan keutamaan manusia, kekuatan iradahnya sehingga manusia merupakan satu-satunya makhluk yang dapat bertindak melawan kemauan instingnya, sedangkan hewan dan tumbuhan tidak mampu melakukannya.
                Aspek jasad manusia diterangkan dalam Al Quran dengan menggunakan sebutan Basyar, seperti dalam firman Allah:
Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, Dia Makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan Sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. (QS. Al Mukminun : 33-34)
                Sedangkan dimensi insan didalam Al Quran, menurut Muslim Nurdin memiliki makna yang luas, diantaranya:
1.       Dalam konteks ilmu, manusia didorong untuk menguasai pengetahuan seluas-luasnya. Karena orang yang berilmu akan memilki posisi yang penting dan memiliki derajat yang paling baik daipada makhluk yang lainnya.
2.       Manusia memiliki musuh, yaitu syetan yang selalu berusaha menarik manusia untuk menyimpang dari nilai-nilai, dan norma-norma ilahi.
3.       Manusia sebagai pemikul amanah, yaitu sebagai khalifah atau wakil Allah dimuka Bumi.
4.       Manusia dalam konteks kemanfaatan waktu untuk berdisiplin dan kesadaran serta kreatifitas yang membawa manusia pada keunutngan materi dan rohani.
5.       Manusia dalam hubungan dengan karya nyatanya.
6.       Mannusai dalam hubungannya dengan ketentuan moral.
(Nurdin, 1995: 12-13)
Dimensi Basyar dan insan merupakan sosok manusia yang berperan menjadi makhluk individu, sedangkan annas adalah status manusia sebagai makhluk social.
Manusia dilahirkan membawa fitrahnya. Potensi fithrah manusia terdiri dari potensi fisik dan potensi ruhani. Potensi ruhani pada manusia adalah nafsu, akal, dan qalbun.
a.      Nafsu
Hawa Nafsu adalah suatu kekuatan yang mengaktifkan manusia untuk mendapatkan keinginannya. Dengan nafsu manusia mampu menjaga eksistensinya. Namun, nafsu yang cenderung mendorong manusia berbuat keburukan atau lebih memilih perbuatan bebas nilai akan membahayakan dirinya bahkan menghancurkan keberadaannya. Untuk mengendalikan nafsu, manusia memanfaatkan akalnya. Dan akal inilah yang mengarahkan nafsu manusia menjadi kekuatan yang mulia. Al Farabi, Ibnu Sina, dan Imam Ghazali membagi nafsu (jiwa) menjadi tiga : Jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), Jiwa hewani (binatang), dan Jiwa Insani. Jiwa nabati adalah kesempuranaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh, dan melahirkan. Jiwa hewani adalah, disamping memiliki daya makan  untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan merasa (instink). Sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari dari segi daya berfikir (al nafs al nathiqah atau al nafs al insaniyah). Karena manusia terdiri dari tiga nafsu tersebut, maka pada diri manusia berkumpul berbagai macam sifat dan keadaannya. Apabila manusia menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturut ajakan syaithan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah:
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, (QS. Yusuf : 53)

Ketika manusia dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, namun disaat yang berbeda tidak dapat melepaskan dirinya dari perbuatan tersebut, maka ia akan selalu menyesali atas perbuatannya, dan ini disebut dengan jiwa menyesal. Allah SWT berfirman:

Dan aku bersumpah dengan jiwa yang Amat menyesali (dirinya sendiri) (QS. Al Qiyamah : 2)

Dengan demikian didalam jiwa manusia terdapat beberapara ambivelen, yaitu potensi baik dan buruk, karena jiwa terletak pada pertarungan antara baik dan buruk, mana yang lebih dominan maka dialah yang akan mempengaruhi jiwa dan perilaku manuisa.

b.      Akal
Akal dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahsa Inggris. Dalam bahasa Indonesia berarti pikiran atau rasio adalah daya berfikir yang terdapat dalam otak. Sedangkan dalam Al Quran akal diartikan dengan kebijaksanaan (wisdom), intelijensia, dan pengertian (understanding). Dengan demikian Al Quran meletakkan akal bukan hanya pada aspek rasio, tetapi juga rasa, bahkan jauh lebih dariitu akal diartikan dengan hikmah atau kebijaksanaan.

c.       Al Qalb
Al Qalb, artinya berubah, berbalik, atau berpindah. Ada dua pengertian Al Qalb, yang pertama pengertian fisikatai kasat mata, yaitu sebentuk daging bulat panjang yang terletak di dada sebelah kiri yang disebut jantung. Sedangkan arti yang kedua adalah pengertian wilayah ruhani yang halus bersifat ketuhanan, yaitu merupakan hakikat manusia yang menjadi sumber pengetahuan atau kearifan manusia, dan hati inilah yang mampu menggerakkan aktifitas jasadi. Dalam sebuah hadits , Rasulullaah SAW bersabda:
“Sesungguhnya didalam tubuh ada segumpal darah, dan apabila baik maka baik seluruh tubuhnya. Dan apabila rusak maka rusak pula seluruh tubuhnya, dan itu adalah hati.” (HR. Muslim)
Ibnu Qayyim membagi hati menjadi tiga keadaaan:
Pertama, Hati yang selamat (qalbun salim) yaitu hati yang senantiasa cenderung kepada ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, hati yang mati (qalbun mayyit) adalah hati yang selalu ingkar kepada Allah, membangkang, dan menolak kebenaran. Ketiga, hati yang sakit (qalbun mariidh) yaitu hati yang bimbang, yang kadang-kadang cenderung kepada ketaatan dan kebenaran, namun diwaktu lain cenderung mengajak kepada kemungkaran dan kemaksiatan, tergantung mana yang lebih dominan menguasai hati.
Jadi manusia yang sempurna adalah manusia yang mampu mengembangkan, menjaga dan memadukan aspek ruhani berupa potensi akal, nafss, qalb dengan aspek jasadi.
Murtadha Mutahhari membagi manusia menjadi enam dimensi. Dimensi pertama, secara fisik manusia hamper sama dengn hewan, membutuhkan makan, istirahat, dan menikah, supaya ia dapat hidup, yumbuh, dan berkembenag. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi yang bersifat etis, yaitu dengan memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian. Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan atau estetika. Dimensi keempat, manusia memiliki dorongan untuk menyembah Tuhan. Dimensi kelima, manusia memiliki kemampuan dan kekuatan berlipat ganda karena dikaruniai akal, pikiran, dan kehendak bebas, sehingga ia mampu melawan hawa nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalam hidupnya. Dimensi keenam, manusia mampu mengenali dirinya sendiri. Jika ia sudah mampu mengenali dirinya sendiri, maka ia akan mencari dan ingin mengetahui siapa penciptanya, mangapa ia diciptakan, dari apa ia diciptakan, bagaimana proses penciptaanya, dan untuk apa ia diciptakan. (dalam Mansoer, 2004: 34)

B.      Tujuan Penciptaan, Fungsi, dan Peranan Manusia
Allah menciptakan manusia sebagai penguasa (khalifah) di bumi bertujuan agar manusia menyembah Sang Khalik, yaitu Allah SWT. Ibadah dalam pengertian yang sempit , hanya dalam ruang ibadah ritual saja seperti shalat. Ibadah diartikan sebagai sebuah ketundukan, ketaatan, dan kesetiaan manusia pada aturan Allah dalam kehidupan di dunia dalam wujud ibadah mahdhah (hubungan vertikal) yaitu hubungan manusia dengan Tuhan, dan ibadah ghairu mahdhah (hubungan horisontal) yaitu hubungan manusia dengan manusia dan alam semesta.
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz Dzariyat : 56-58)
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali Imran : 112)
Ikhlas itu adalah meniatkan segala aktivitas diri hanya ditujukan kepada Allah semata. Tanpa dilandasi dengan rasa ikhlas atau sukarela akan menghambat dan tertolaknya amal ibadah seseorang.
Tujuan manusia yang ingin dicapai sebagai khalifah bumi adalah kebahagiaan dunia dan akhirat. Namun kebahagiaan itu sendiri tidak serta merta dapat diraih dengan mudah, banyak ujian yang harus dijalaninya. Semuanya itu adalah sunatullaah, karena dengan ujian-ujian tersebut akan tersaring mana hamba-hamba yang tetap istiqamah memegenag janjinya kepada Allah untuk menjalankan ajaranNya dalam rangka memperkembangkangkan kepribadian, budaya, masyarakat, dan peradabannya, dengan hamba-hamba yang mendapatkan kenikmatan hidup di dunia dan di akhirat hanya hamba yang memperoleh ridha Allah. Dalam Al Quran Allah SWT berfirman:
Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. Dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan. (QS. Al Lail: 19-21)
Sayyid Quthb dalam tafsir Fii Dzilalil Quran pada QS. Al Baqarah ayat 30-39, menyimpulkan bahwa ada dua prinsip utama tentang konsepsi dan realitas tentang manusia yaitu pertama, manusia adalah tuan (penguasa) di muka bumi. Artinya semua yang ada di muka bumi diciptakan untuk kepentingan hidup manusia. Karena itu manusia tidak pantas menghambakan diri atau merendahkan diri demi mendapatkan nilai material atau sesuatu yang bersifat materi. Kedua, manusia memiliki peranan utama dalam mengelola dan memelihara bumi. Dalam menjalankan peranannya manusia dituntut mampu mentarbiyah diri, keluarga, dan sekaligus memberikan pencerahan kepada oranglain.
C.      Tanggungjawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah
Manusia sebagai khalifah dalam menjalankan peranannya tidak hanya untuk dirinya, namun manusia juga berkewajibn mengajak berssama dengan masyarakat menghambakan dirinya kepada Allah.
Tanggungjawab manusia kepada dirinya adalah dengan cara menjaga perilakunya dari perbuatan tercela dan tazkiyatun nafs (mensucikan diri). Tanggungjawab manusia kepada masyarakat adalah dengan menjalankan norma-norma agama di masyarakat dalam wujud membela keadilan, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan berperan aktif mensejahterakan kehidupan manusia.
1.       Tanggungjawab Manusia sebagai Hamba Allah
Allah adalah Khaliq sedangkan manusia merupakan makhluk. Manusia dihadapan Allah berkedudukan sebagai hamba (‘abdun), yang mengandung arti ketaatan, tunduk, dan patuh. Allah SWT berfirman:  
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah :21)
Tujuan utama dari penghambaan manusia kepada Tuhan adalah untuk mendapatkan kedudukan taqwa.
2.       Tanggungjawab Manusia sebagai Khalifah Allah
Terpilihnya manusia sebagai khalifah dimuka bumi merupakan takdir Allah, dan Allah telah penciptaan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna disbanding makhluk lainnya.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . (QS. At Tiin : 4)
Kesempurnaan penciptaan manusia didasari dengan kepemilikan sumber-sumber ilmu dan amal perbuatan yang diberikan oleh Allah berupa hati, akal, telinga, mata, dan organ tubuh lainnya. Dengan perangkat-perangkat tersebut manusia diserahi tanggungjawab sebagai khalifah dan ‘abdun. Dua tanggungjawab itulah yang akan menjadikan manusia mendapatkan kemuliaan atau kehinaan.
Dengan demikian pantas dan wajar apabila kelak Allah meminta pertanggungjawaban manusia atas segala nikmat yang telah diterimanya.
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al Israa’ : 36)

0 komentar:

Posting Komentar