Senin, 13 Oktober 2014

07.27.00 - No comments

Bali : Dakwah atau Boikot



Bali, tempat yang populer dengan berbagai keindahan alamnya. Namun, menurut aku tercoreng, dengan adanya budaya-budaya tidak elok dipandang terutama pakaian terhormatnya bangsa ketimuran. Dulu pernah saya sangat pro-aktif dalam mengkampanyekan boikot wisata ke Bali. Bagiku untuk apa kesana, keindahan alamnya tertutup oleh hawa porno yang tidak pantas dilihat, budaya-budaya hindu, dan tentu (saat itu) saya meyakini bahwa tempat pariwisata di Bali, pada tempat-tempat makannya banyak menjual minuman keras. Oke, itu dulu. Skip.


Bali, sebuah tempat minim da’i.


Mmm,,,rupanya memang kebanyakan dari berfikir seperti diatas bahwa Bali tidak perlu dikunjungi karena banyak hal-hal maksiat yang tidak perlu dipandang maka bisa jadi dampak Bali jarang dilirik sebagai lahan dakwah. Lahan dakwah yang sering didapati adalah tempat-tempat pelosok diberbagai nusantara, sehingga disana banyak dikirim da’i. Disinggungnya tempat-tempat pelosok itu perlu adanya sentuhan dakwah, namun coba boleh menyorot keadaan di Bali dan umat muslim disana, yang dibutuhkan ternyata bukan sekedar sentuhan dakwah tapi juga pertolongan dakwah. Jika ditempat pelosok yang menjadi musuh adalah kebodohan sedangkan di Bali adalah apersepsi dari umat Islam sendiri ditambah orang-orang kafir yang tidak pernah suka dengan Islam.

Jarang mendengar aku pengiriman da’i ke Bali. Tantangan disana kalaupun ada utusan sekalipun mau tidak mau harus bertahan secara ekonomi juga apalagi kalau ‘parahnya’ jatuh kepada silau dunia di Bali. Ya, secara manusiawi aku meyakini ketika memang utusan memang sudah berkeluarga nafkah keluarga diutamakan dulu. Atau misalnya putra-putra Bali yang belajar agama yang sampai timur tengah, jarang yang kembali ke daerah asalnya,  karena disana (entah dimana) sudah memiliki lahan sendiri atau menikmati tempat-tempat urban mereka. Paling-paling ketika pulang menetap di Bali, adalah saat-saat usia tua, saat-saat waktu istirahat. Terus kalau sudah tua tenaganya sudah tidak punya greget lagi.

Perlu dibayangkan selain da’i minim, disana ada suatu perkampungan muslim namun tahukah perkampungan muslimnya seperti apa? Perkampungan muslim yang orang-orangnya pun menganggap agama Islam sebagai ritualitas. Kondisinya sudah modern ala barat. Lalu kalau kondisi kampung muslimnya seperti itu bagaimana kampung selainnya? Benar-benar perlu adanya da’i yang dikirim kesana.

Padahal , Bali dan Islam?


Latar belakang islam di Bali adalah ketika adanya perjanjian damai dan saling tolong-menolong antara kerajaan di Bali dan kerajaan Demak pada saat itu. saling memberi hadiah antara dua kerajaan dimana Bali mendapat hadiah gajah, namun karena orang Bali tidak pandai merawat dan menggunakannya Bali meminta demak untuk dikirim pawang guna merawatnya. Konon pawang tersebut adalah tentara Demak sekaligus seorang muslim. dari situ persahabatan Demak (Islam) dan Bali (Hindu, yang konon juga pembaharu Bali berasal dari pelarian majapahit) terjalin, mengantarkan kepada kemuliaan Islam dan orang-orang Islam. Mereka orang Bali mengakui bahwa orang Demak atau jawa atau yaitu orang Islam adalah sahabat yang suka menolong.

Perkembangan Islam masih berlanjut dimana ketika Islam memiliki pasukan keamanan diperbatasan Buleleng. Disana pasukan Islam Berjaya memukul mundur pasukan musuh, bertambah lagi simpati orang-orang Bali terhadap Islam dan muslim.

Semakin berkembang, ketika selain akhlak, orang-orang Islam juga dinilai indah. Orang-orang Bali ketika itu belum mengenal pakaian atas jadi dada tidak ada tutup sama sekali. Baik itu laki-laki dan perempuan. Dari situ muslim yang menetap di bali mengajarkan berpakaian dan mengikuti orang Islam dalam berpakaian.

Bali generasi tua mengenal bahwa saudaranya adalah orang-orang jawa yang identic dengan muslim. baginya yang dimaksud orang jawa adalah orang Muslim itu sendiri. Generasi tua Bali yang sangat menganggap orang jawa adalah saudaranya yang sangat dihormati karena banyak jasa yang ditorehkan seringkali tidak lepas dari perkawinan antara penduduk Bali dengan orang-orang Islam. Banyak mereka menghadiahkan anak-anaknya kepada orang jawa. Mereka akan sangat terhormat jika mendapat menantu dari jawa. Bahkan rela jika harus meninggalkan agamanya. Karena dalam pandangan mereka meskipun sudah beda agama Islam tidak memutuskan ikatan antara orang tua dan anak bahkan bakti anak kepada orangtuanya malah semakin bertambah. Beda kasus ketika hubungan itu dengan Budha, yang secara sejarah sudah bergesekan atau Kristen yang ketika pindah agama ke Kristen hubungan kekerabatan langsung terputus atau dipaksa putus.

Banyaknya urban orang jawa di Bali juga disambut baik. Bagi orang Bali, orang jawa itu cerdas, sopan, lembut, dan kreatif. Jika menjadi bawahan penurut dan tidak banyak mengeluh. Jika menjadi atasan mengayomi dan tidak semena-mena. Juga terkenal banyaknya bisa memasak berbagai macam masakan, katanya juga masakannya enak.

Namun, generassi tua yang sangat memuliakan orang jawa atau muslim sedikit tersampaikan kepada generasi muda. Generasi muda bahkan yang paling muda jarang mengetahui sejarah dan latar belakang (atau bab I hehe), mereka hanya mengenal saat-saat ini saja. Mereka dilahirkan dan mengenal ketika  banyaknya konflik antar umat Islam sendiri ditambah berita-berita Islam yang tidak seimbang, lebih-lebih ketika Bali menjadi lahan aksi ‘terorisme’, dan orang-orang kafir yang tidak menyukai. Semua menjadi tidak berimbang. Pelecehan agama dimana-mana, Islam dan umat islam dipojokkan. Dan kinilah yang dihadapi orang Islam yang memiliki ilmu untuk mendakwahkan Islam sebagaimana dahulu. Dimana yang generasi tua hanya mengatakan orang islam yang baik bahwa mereka bukan begitu tanpa adanya proses pendidikan. Sedangkan yang muda membabi buta menggeneralisir. Ya Rabb selamatkan Bali-Mu.
Keadaan Islam di Bali saat ini.

Kasus jilbab anita hanya sebagian kecil dari keadaan Islam di Bali. Masih banyak sekolah yang melarang muslimahnya mengenakan jilbab. Sulit menjumpai yang mengenakan kerudung walaupun kerudung yang belum syari. Sulit akan menemukan kajian-kajian di masjid karena akan dinilai sebagai orang-orang fanatik. Umat Islam yang berpecah belah dan sangat fanatic golongan. Anak mudanya yang mengambil utuh modernisasi kebablasan. Satu kesalahan umat Islam yang menjadi bahan mencari kesalahan dan pencemoohan. Sedikitnya anak-anak muslim yang dinilai prestatif. Keadaan yang mengatakan bahwa belajar di sekolah (akademik) yang lebih penting namun tidak diimbangi spiritualitas ruhani.


Pertolongan Dakwah sangat dibutuhkan di Bali.


Bagiku : tetap saja sangat tidak disarankan ke Bali jika hanya untuk berwisata atau bersenang-senang. Namun, jika on mission fii sabiilillaah maka semoga Allah menolong.

Semangat untuk teman-teman PII di Bali. Aku berharap semoga segera terbentuk Brigade guna sebagai Penjaga Misi dan Eksistensi Dakwah Di Bali. Allaahu akbar.

*terima kasih kepada Bang Thufail (kakak dari Mbak Zahra) yang berbagi tentang Bali. meski saya hanya menulis sedikit dari percakapan sebenarnya.

0 komentar:

Posting Komentar