Sabtu, 07 Desember 2013

06.56.00 - No comments

Ada Cinta didalam Penjara -Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-



Kau maksiati Allah, sembari menduga mencintai-Nya
Demi hidupku sungguh buruk permisalan ini
Kalau saja cintamu benar, maka engkau akan menaati-Nya
Sesungguhnya wujud pencinta pada orang yang dicintai adalah taat

Ketika dakwah itu adalah wujud dari cinta kepada Allah, disitu pula ada konsekuensi dakwah yang harus dilaksanakan dimanapun berada. Karena tidak mungkin juga cinta pilih-pilih tempat untuk tetap mencintai, apalagi yang dicintai adalah Maha Meliputi segalanya. Ya, tak terkecuali didalam sel jeruji sekalipun. Identik sekali dengan yang dikatakan Ibnu Qayyim, “Seandainya yang bisa menyelamatkan seorang hamba dari siksa hanyalah cinta kepada Allah, maka seyogyanya si hamba tidak mendapatkan balasan apa pun selamanya dari Allah. Dengan demikian, jika Anda mencintai Allah maka anda akan berdoa kepada-Nya disetiap tempat, bahkan di penjara sekali pun. Begitulah kiranya yang pernah dipraktekkan oleh para salafush shalih. Islam adalah amal. Bagus sekali orang yang mengatakan,’Perbuatan satu orang pada seribu orang adalah lebih baik dari ucapan seribu orang pada satu orang.’”
Disisi lain juga ketika kita bicara ‘cinta’ dalam perspektif metafisika atau pun filsafat maka yang kita dapati dari konsekuensi cinta tiada lain kebahagiaan walaupun pengorbanan dan jalan yang dilalui keras dan penuh airmata. Lebih dari itu apapun yang dilakukan ‘cinta’ adalah kebahagiaan. Itu sisilain kita mengkaji ‘cinta’ dalam perspektif yang lain.
Oke, kembali lagi bahwa dakwah adalah cinta. Sebagaimana yang telah dilalui pendahulu-pendahulu kita, Rasulullah ketika diboikot  selama tiga tahun, selang dimasanya Ibnu Taimiyyah yang dipenjara, Sayyid Quthb, dan kita menilik dimasa kita hidup dibumi Indonesia ada ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan ustadz LHI (jika nantinya diakhir tidak dinyatakan bersalah). Uhh… ngeri juga ketika kita menyelami kisah orang-orang yang telah terikat dengan cinta kepada Allah ini. mereka tetap akan memikat walaupun harus berdakwah didalam penjara.
Coba saya ambil secuil kisah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam biografinya. Kita akan terbuat tercengang ketika ‘ulama masuk penjara (karena penjara umumnya adalah tempat bagi orang-orang kriminal), tapi lebih tercengang lagi ketika kita tahu apa yang dilakukan didalam penjara. Bukan menyesal, sedih, mengeluh atau meratapi nasib sebagai kondisi yang dialaminya.
Bahagia dengan cinta telah mengalahkan segalanya. Mungkin lebih ekstrim saya katakan cinta dalam hal ini dakwah adalah khamr. Sebagaimana para pemabuk didalam penjara maka akan tetap mabuk. Sepertinya cocok dengan konsekuensi dakwah, sebagaimana para da’i yang masuk penjara didalam penjara  maka akan tetap berdakwah.
Didalam penjara Ibnu Taimiyyah mendapati suasana yang tidak jauh dikatakan ‘memang’ sebagai penjara. Kondisi sangat menyedihkan , mereka berbuat kelalaian, bermain-main, menghabiskan waktu dalam kesia-siaan, dan hilang rasa malunya. Lalu bagaimana penjara bisa menjadikan para penjahat akan jera . suatu tanda tanya besar yang disematkan didepan muka ‘ulama.
Pertama, Ibnu Taimiyyah menjalankan dakwahnya dengan mengumpulkan dalam jama’ah kecil dalam shalat, menumbuhkan rasa cinta kepada allah dihati mereka. Karena menurut beliau sesuatu terbesar dalam penghambaan adalah mencintai Allah dan konsisten dengan syari’atnya. Kemudian dari cinta yang tumbuh itu barulah diajarkan fikih, tafsir, hadits, dan cabang ilmu lainnya. Ya, mereka menerimanya, mencintainya, mendengarkannya, dan mereka mereguk ilmu Allah.
Sebuah kejutan yang dahsyat ! semua napi ketika habis masa tahanannya, tiba saatnya keluar, dengan lantang mereka menolak –padahal setiap nara pidana, kebesan adalah mimpi disetiap harinya-. “Aku tidak mau berpisah dengan Syaikh.” Itulah kekuatan cinta yang dibangun oleh Syaikhul Islam. Ketika cinta kepada Allah benar-benar menancap dalam hati, maka otomatis akan mencintai wali-Nya. Akhirnya walaupun keluar dan berpisah tidak serta merta cinta itu hilang, tapi siapa yang dikehendaki Allah dengan petunjuknya maka siapa yang bisa menghalanginya. Mereka yang telah keluar menjadi ‘ulama pula ditempatnya masing-masing, membawa cinta dari penjara.
Sekelumit kisah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Ingin sekali mengorek kisah Sayyid Quthb, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir , dan Ustadz Lutfi. Tapi satu penggal kisah induktif ini sudah cukup untuk memenuhi konsep hadits yang diriwayatkan Ibnu ‘Umar –radhiyallaahu ‘anhu-, bahwa Rasulullaah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: orang mukmin yang berbaur dengan masyarakat umum dan sabar menghadapi gangguan mereka adalah lebih besar pahalanya daripada orang yang tidak berbaur dengan mereka dan tidak sabar menghadapi gangguan mereka.

Jadilah engkau orang yang mencintai Rabb-Mu untuk melayani-Nya
Sungguh para pencinta adalah pelayan orang-orang yang dicinta.   

0 komentar:

Posting Komentar