Senin, 29 April 2013

Kemalasan Sebagai Alarm


Selasa malam adalah jadwal tiap liqo’ bersama Mas Triyadi. Iya rutin kami lakukan. Ada Akh Taufik sebagai komandan, Akh Salim teman setia sejak SMA, Akh Anggoro calon guru matematika, dan Akh Yahya seorang Madrinista yang unik. Hal yang berbeda dari hari-hari biasanya ketika membicarakan masalah kemalasan. Boleh saya singgung ialah kemalasan seorang aktivis.

Ya kemalasan seorang aktivis. Memang agak terdengar membingungkan juga sih –mungkin bagi yang awam-. Iya tho masak aktivis malas-malasan? Hati aktivis berkata: “Hei kami juga seorang manusia yang kadang dihinggapi rasa malas.” Ya sebuah sifat yang manusiawi tapi bukan untuk dipelihara atau bahkan dimanjakan.

Tidak memandang bulu rasa ini menyerang.
Entah orang yang paling sibuk sedunia atau lebih-lebih yang memang menjadikan malas sebagai pekerjaan-eh ada gak sih seperti itu, oh saya cuma sekedar berimajinasi, jangan ditelan utuh-.
Oke kembali ke tema awal “Kemalasan Sebagai Alarm”. Beliau –mas Triyadi, sapaan akrabnya- menyampaikan salah satu tips mengatasi rasa keimanan kita dengan mengecek rasa kemalasan kita.
“ Ikhwati fillaah, tiap orang punya standar bagaimana seseorang itu sedang semangat dalam ibadah atau pun sedang turun. Jika ia seorang aktivis, hal yang akan dirasa adalah apa yang salah dengan saya. Hah untuk mengecek itu seseorang punya alarm pengingat bahwa ia sedang lemah imannya.”
                “Bagaimana itu mas?”
“Tiap orang tergantung, biasanya ketika seseorang yang sedang malas terhadap kehidupan pribadinya sendiri biasanya itu menunjukkan proyeksi dari iman seseorang tersebut. Sekali lagi alarm tiap orang tergantung sesuai orang tersebut itu sendiri. Akan tetapi tetap masih dalam konteks kemalasan. Kalau alarm saya ketika saya buka pintu lemari pakaian saya dan itu berantakan atau melihat kamar saya berantakan atau juga pakaian yang menumpuk tidak segera dicuci. Saat itulah nada-nada kemalasan saya. Sehingga itu sebenarnya mempengaruhi ibadah saya, ikhwah. Dan imbasnya jika tidak segera dibereskan pekerjaan-pekerjaan itu maka itu akan berpengaruh surutnya air ombak keimanan kita.”
Flashback saat kelas 3 SMA dulu dapat tugas pertama oleh ustadz saya, Ustadz Angga-beliau mengajar materi akidah tiap hari rabu di Masjid Baiqot-. Tugas tersebut terlihat sepele yaitu rapikan kamar masing-masing. Ah hal yang dirasa sepele terasa berat. Hingga berganti hari Rabu lagi, mendapatkan nasihat dari sang ustadz bahwa kemalasan adalah virus keimanan kalau kamu turuti virus tersebut maka akan tergerogoti keimanan kalian. Jadilah orang teratur dari hal yang dianggap sepele. Proyeksi keimanan adalah bertingkat dari hal yang terkecil, jangan bermimpi melakukan amalan besar sementara amalan yang kalian anggap kecil tidak bisa kamu perbuat. Itulah tuntutan keimanan yaitu proyeksi totalitas.
Melanjutkan mas Triyadi tadi…
“Jadi ikhwah jagalah kebaikan dari pribadi diri antum, minimal dari tempat tidur antum sendiri. Dari merapikan sprei, merapikan kamar yang berantakan dan pakaian yang menumpuk.”
Ada hikmah yang saya gali dari sini. Kamar pribadi kita adalah cermin keteraturan dan kerajinan kita. Adalah tempat paling awal yang menandakan kita seorang pemalas atau tidak. Mungkin bisa dibilang sepele tapi tetap diingat bahwa gunung adalah kumpulan dari kerikil-kerikil. Ya kamar cerminan kemalasan dari kita dan kemalasan adalah cerminan surutnya iman kita. Jadi jagalah dari hal yang paling rawan dan dianggap sepele dari kita-apalgi seorang aktivis-. Alternatif ini sangat cocok rupanya, Kamar sebagai tolok ukur, Kemalasan Sebagai Alarm.

0 komentar:

Posting Komentar