Tampilkan postingan dengan label KAJIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KAJIAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Oktober 2017

Meniatkan Niat bag.2

Niat yang merupakan amalan hati namun memiliki andil besar dalam segala aspek amal dan pembalasannya. Sebab niat-lah yang membangkitkan semua amalan keseharian setiap muslim. Sehingga memang benar-benar diperlukan meniatkan niat benar dalam porsinya. Benar dalam berniat, benar dalam menjalankan niat, dan mengikhlaskan segala hasilnya.



1. Meniatkan Niat, namun belum dilakukan

Rasulullah shallaahu alaihi wa sallam bersabda,”Barangsiapa yang berkeinginan melakukan kebaikan namun dia belum dapat melakukannya, maka dicatat baginya satu kebaikan.” HR. Muslim no.130

Sekedar dia berniat belum sampai dia melalukannya, Allah menghitungnya sebagai amal shalih (kebaikan) yang tentunya berpahala.

Rabu, 11 Oktober 2017

Meniatkan Niat bag.1


Niat merupakan amalan hati yang agung bagi kaum muslimin. Keberadaannya sangat menentukan ukuran dalam suatu amalan atau perbuatan seseorang. Mau ukurannya baik atau jelek, sah atau tidak, kuat atau lemah, sungguh-sungguh atau sekedar rutinitas tanpa esensi, semua itu tergantung kepada niat awal yang kita bangun.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkan itu....” (HR. Bukhari dan Muslim)


Namun, bukankah tidak ada pekerjaan atau berbuatan sedikitpun tanpa adanya niat?

Setiap hal yang ada, diwujudkan dari abstraksi dalam bentuk yang belum berwujud. Jadi ketika kita “Bekerja” sebenarnya dalam alam bawah pikir kita sudah melakukan niat “Mau Bekerja” sehingga akhirnya kitapun “Bekerja”. lalu setiap orang yang “Mau Bekerja” inipun berbeda-beda dalam kesungguhannya. Ada yang tidak semangat, ada yang setengah, ada pula yang benar bersungguh-sungguh dengan keyakinan yang mantap. Tentu hasilnya juga berbeda-beda sesuai kesungguhannya. Ada yang dapat teguran, ada yang dianggap biasa, bahkan karena kesungguhannya yang mantap akhirnya mendapatkan reward yang baik dari pimpinannya.

Minggu, 22 Februari 2015

09.25.00 - No comments

الإخلاص

عن أمير المؤمنين ابي حفص عمر بن الخطّاب رضي الله عنه قل: سمعت رسول الله صلّى الله عليه و سلم يقول : إنّما الأعمال بالنيّات و إنّما لكلّ امرئ ما نوى , فمن كانت هجرته إلى الله و رسوله فهجرته إلى الله و رسوله, و من كانت هجرته لدنيا يصيبها أوامرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه
 (رواه البخاري و مسلم)
اللغات
النيات : جمع نية و هي القصد
الهجرة : انتقال من مكان إلى مكان آخر
ينكح : يتزوج

أفكار الحديث
١. لا تصح الأعمال إلا بالنيات
٢. المؤمن له أجر حسب نيته
٣. من كانت أعماله خالصة لله فهي مقبولة
٤. من عمل رياء فعمله غير مقبول


Jumat, 20 Februari 2015

Berpolitik Dengan Pemimpin

Dalam suatu kepemimpinan, seorang pemimpin memiliki sikap politis yang sangat besar dalam mempengaruhi massa yang dipimpinnya. Hal ini karena setiap pemimpin memiliki kekuasaan dalam membawa kepemimpinannya. Sehingga setiap ada kepentingan dari setiap orang yang berkepentingan akan mendekati para pemimpin –terutama dalam hal massa-. Disebabkan adanya komunikasi politik yang terlebih efektif dan aman (‘aman’ tentunya sudah mempertimbangkan politik yang diperankan).

Dalam sejarah Islam, dimasa Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga memiliki politikus dalam berdakwah yakni Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. Merekalah yang menjadi duta politik islam dalam berdakwah di Madinah dan menyiapkan massa dalam menyambut hijrahnya Rasulullah dan para sahabat. Ya berpolitik dengan para pemimpin di komunitas masyarakat Madinah, yang diaplikasikan oleh Mush’ab dan rekannya.

Keberhasilan Mush’ab dan As’ad yang mengajak pemuka Bani Abdil Asyhal, Usaid bin Hudair, sangat berdampak luas. Dengan politiknya mereka berdua, Usaid mengajak Sa’ad bin Muadz, yang juga pemuka bani tersebut. Kemudian dari Sa’ad dalam sirah Nabawiyah oleh Syaikh Shafiyurrahman al Mubarakfuri, Sa’ad mengatakan kepada kaumnya,

”Wahai Bani Abdi Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang kedudukanku ditengah kalian?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami dan orang yang paling tepat pendapat dan nasihatnya serta orang yang paling kami percaya.”

Kemudian kata Sa’ad, “Siapapun diantara kalian, laki-laki maupun wanita tidak boleh berbicara denganku kecuali jika kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Disebutkan hingga sore hari tidak ada seorang pun yang tidak masuk Islam, kecuali satu orang, Al Ushairim(Ia menangguhkan masuk Islam hingga mengikuti perang Uhud).

Berpolitik dengan pemimpin jika kepentingan politik memiliki sifat aman maka akan memiliki dampak yang besar. Akan lebih cepat dalam menghantarkan hajat suatu perkara. Dalam dakwah cara berfikir ini pun telah dicontohkan dalam sejarah kenabian. Merekrut sebanyaknya massa dalam masuk Islam melalui suatu kepemimpinan seseorang. Memang tidak serta merta membawa seratus persen semua massa akan ikut dalam lingkaran politik ini seperti halnya Ushairim. Itu hal yang wajar akan ada sebagian kecil yang memikirkan agak lama atau bisa jadi membelot tapi disisi lain akan membawa sebagian besar di suatu komunitas kedalam politik yang dibawa pemimpin. 

Lelaki-lelaki Fajir yang Menguatkan Diin

لا يدخل الجنة الا مؤمن و ان الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفا جر (رواه البخاري)

Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman. Dan sesungguhnya Allah niscaya menguatkan Diin ini dengan orang (laki-laki) yang faajir (durhaka). HR Bukhari


Hadits ini keluar berkenaan seorang pemuda yang dikenal gagah dalam setiap peperangan hingga sampai kepada peperangan Khaibar ia masuk dalam ahli neraka. Ia bernama Quzman, dalam sejarah kisah ini sangat masyhur. Seorang Quzman yang terlibat perang Uhud sekalipun pada perang Khaibar, Rasululullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diawal perang menyebutnya sebagai ahli neraka. Beliau –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan, “Sesungguhnya Quzman termasuk ahli neraka.”

Para sahabat yang melihat Quzman tentu saja merasa heran. Lelaki yang senantiasa terlibat perang dengan gagah berani dan bersemangat, juga sudah tidak disangsikan lagi kontribusinya terhadap Islam dinyatakan oleh Rasul-Nya sebagai ahli neraka.

Kebenaran segala sesuatu yang diucapkan oleh Beliau. Dimana pada akhirnya para sahabat menyaksikan sendiri akan kebenaran sabda Nabi. Pada perang Khaibar, Quzman mendapatkan banyak luka dan sangat parah. Namun Quzman tidak sabar akan luka yang ada dalam dirinya hingga pedangnya sendiri digunakan untuk mempercepat kematiannya dengan bunuh diri.

Dalam hal ini Munawar Khalil (penulis Kelengkapan Tarikh Nabi) mengomentari, “Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-menyatakan terlebih dahulu bahwa Quzman adalah penghuni neraka, karena beliau lebih mengetahui keadaan orang ini sebenarnya, yakni Quzman itu seorang munafik yang berperang bukan karena Allah.”

Kisah Quzman yang sangat besar peran dalam mengokohkan kekuatan Islam dalam Perang Uhud, Khaibar, dan kegiatan-kegiatan lain –meskipun termasuk dalam ahli neraka-, akan mengingatkan ada lelaki lain yang memiliki jasa-jasa dalam membantu kokohnya Islam namun dalam keadaan tidak beriman. Lelaki-lelaki itu paman nabi Abu Thalib, Al-Muth’im bin Ady, Abdullah bin Uraiqith (saat belum masuk Islam), dan paman nabi Abbas (saat belum masuk Islam).

Paman nabi, Abu Thalib- yang melindungi Nabi-Nya dengan pengaruh politik dan kehormatannya dikalangan kaum Quraisy dalam memusuhi Nabi. Pamannya yang senantiasa mendukung Nabi dalam mendakwahkan Islam. Namun yang kita tahu ia bukanlah seorang yang mau diajak masuk Islam oleh keponakannya. Ia tetap menjadi seorang paganis.

Al Muth’im bin Ady – seorang yang melindungi nabi sepeninggal paman nabi, yang seorang paganis dan belum masuk Islam. Dalam ucapan Al Muth’im pernah mengatakan kepada kaumnya, “Wahai semua orang Quraisy, sesungguhnya aku telah memberi jaminan perlindungan kepada Muhammad. Tak seorang pun diantara kalian boleh bertindak semau sendiri terhadapnya.” Saat itu Abu Jahal yang mendengar kemudian berkomentar,”Apakah engkau hanya memberikan perlindungan ataukah menjadi pengikutnya (masuk Islam)?” jawab Al Muth’im,”Aku hanya memberikan jaminan perlindungan”.

Abdullah bin Uraiqith –penunjuk jalan nabi-. Yang saat itu belum masuk Islam pada hijrahnya Nabi dan Abu Bakar, ia menjadi penunjuk jalan Nabi ke Madinah.

Paman nabi, Abbas-memberi perlindungan-. Menyertai perlindungan Nabi dan jaminan perlindungan dalam bai’atul Aqabah yang kedua. Saat itu paman nabi Abbas juga belum masuk Islam.

Sabtu, 06 Desember 2014

01.10.00 - No comments

Islam dan Akal Manusia


Islam agama yang sempurna. Tidak ada yang melebihi tingginya Islam. Semua telah teratur lengkap. Dari keimanan, kehidupan dunia, kehidupan setelah didunia,ritual, hingga adab-adab dan sosial masyarakat. Namun, dari semua kelengkapan yang dimiliki Islam tidak lepas dari akal-pikir kepada manusia yang dianugrahi Islam.

Islam menghargai akal manusia. Islam melindungi akal manusia. Islam memelihara akal manusia. Dengan Islam akal manusia diperintah untuk digunakan. Dengan Islam, manusia akan berfikir dengan akal sehatnya sehingga akan mengungkap kebesaran Islam yang dianugrahkan Allah ta’aalaa. Dengan anugrah akal yang dimiliki manusia Allah mengangkat derajat manusia itu dengan akalnya dimana akal itu digunakan sebagaimana mestinya. Sehingga dengan akal itu maka dibebankanlah syariat Islam itu kepada manusia karena syariat itu akan memberi banyak hikmah yang bisa diketahui dengan memikirkannya. Dengan akal itu sebenarnya juga akan melindungi akal manusia itu sendiri. Akal dan pembebanan syariat itu akan membawa manusia dalam mengenal Allah. Dalam hal ini manusia dinilai cocok atau layak untuk memahami syariat yang Allah turunkan.

Bukankah di Al Quran bertebaran pertanyaan-pertanyaan yang mendorong manusia untuk berpikir? Bukankah Allah senantiasa memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya? Bukankah manusia diperintah untuk memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya dalam rangka berpikir juga. Hingga dengan berpikir itu manusia akan sadar siapa sebenarnya dibalik mereka pikirkan. Tentunya jawabnya satu, yaitu Allah yang merajai alam semesta ini. Allaahu akbar.

Manusia diperintahkan untuk memperhatikan tumbuhan2 yang hidup, air hujan, binatang-binatang, api, besi, silih bergantinya malam dan siang. Siapa yang berada dibalik itu semua? Sang Maha Pencipta, Allah.

Manusia diperintahkan untuk menegakkan hukum2-Nya, berperang dalam rangka menegakkan kebenaran supaya tidak ada kekacauan, menegakkan qishash untuk menjamin keadilan dalam koridor fitrah manusia, puasa dengan segala kemanfaatannya, shalat dengan segala penyuciannya, siapa yang berada dibalik hikmah-hikmah syariat yang diturunkan yang dipahami manusia dengan akal yang jernih? Ya, dibalik semua ini pencipta akal yang jernih itu, Allah yang Maha Suci.

Maka dengan akal kita akan tahu siapa yang ada dibelakang penciptaan ini.

Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? (TQS. Al Waaqi’ah: 63-64)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? (Al Waqi’ah : 68-69)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? (Al Waqi’ah : 71-72)

Maka Maha Besar Allah yang telah menanugerahkan akal kemudian Ia menjaganya dengan Islam ini. akal yang seharusnya dimiliki manusia.

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah : 269)

Sehingga dengan manusia mempergunakan akalnya dengan baik, tetap dalam fitrah manusia. Bukan seperti binatang.

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf: 179)




Jumat, 21 November 2014

Asma' Binti Yazid, Sang Orator Kaum Muslimah


Nama lengkapnya ialah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al Anshariyyah, Al Ausiyyah al Asyhaliyyah. Seorang wanita mulia, agama yang bagus, mujahidah yang agung, sosok muslimah yang cerdas, dan ahli dalam argumen, orasi, dan terorika yang baik sehingga ia mendapat julukan “Khatibah An Nisa” (Sang Orator Wanita).

Selebih dari lulusnya sifat-sifat agung seorang muslimah ia memiliki keistimewaan yang berada diatas diantara kebanyakan para muslimah. Diantara sifat-sifat yang dimiliki ialah kepekaan indra, kejelian rasa, dan ketulusan hatinya. Dalam kehidupannya senantiasa mencerminkan sikap yang elegan dan mantap. Ia seorang yang tidak manja dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dhina, pemberani, kuat, dan ia pun seorang prajurit perang dalam medan pertempuran. Hebat sekali bukan.

Suatu ketika pada tahun pertama hijrah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaiat para wanita. Disitu Asma’ mendatangi Rasulullah untuk ikut berbaiat kepada Islam. Sejak saat itu Asma’ adalah muslimah yang paling aktif dengan menyimak hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala urusan dalam agama. Bahkan ia lah yang mempelopori dalam menyanakan hal bersuci bagi muslimah setelah haid. Bentuk karakter yang kuat dalam dirinya membuatnya menjadi pribadi yang mantap. Baginya pula pertanyaan-pertanyaan semacam itu jika itu hak maka ia tidak malu dalam menanyakan kepada Rasulullah. Sehingga tidak heran sosok Asma’ menjadi seorang muslimah yang kritis, cerdas, dan baik agamanya.

Dalam persoalan-persoalan yang sering dihadapi muslimah Asma’ sering menjadi jubir dari kalangan muslimah untuk menanyakan kepada Rasulullah. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang ada dibelakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana aku katakana dan sebagaimana berpendapat sepertiku.”

Dilanjutkannya,”Sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’aalaa mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membaiatmu sebagai Nabi kami. Adapun kami para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka , maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Pertanyaan itu yang membuat Rasulullah menoleh kepada para shahabat dan bersabda,”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang din yang lebih baik dari apa yang ia tanyakan?”
Para shahabat menjawab, “Benar. Kami belum pernah mendengarnya Ya Rasulullah!”

Lalu Rasulullah bersabda,”Kembalilah wahai Asma’ dan beri tahukanlah kepada para muslimah yang berada dibelakangmu itu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, meminta kerihaan suami, dan meminta persetujuan suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka bertakbir dan bertahlil-lah Asma’ sambil kembali kepada kaum wanita karena kegembiraannya atas sabda Rasulullah itu padahal sempat terbetik dalam hatinya untuk ikut dalam berjihad layaknya kaum laki-laki. Namun, diredam oleh nasihat Rasulullah diatas. Hingga kesempatan itu terealisasikan oleh keadaan pada Perang Yarmuk pada tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah. Ya seorang Asma’ yang cemburu dengan jihad akhirnya bisa menjadi wanita shalihah dengan gagah berani menyertai perjuangan Umat Islam.

Itulah Asma’ dalam perjuangan menuntut ‘ilmu dari Rasulullah dan turut serta dalam perjuangan yang hebat. Dikisahkan ketika perang Yarmuk melawan tentara Romawi, Asma’ membersamai para pasukan mukmin dan mukminah mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan persenjataan, logistic, dan pengobatan bagi mujahidin yang terluka. Juga menjaga semangat para mujahidin. Bahkan para mujahidah juga yang bersikap tegas memukul para mujahidin yang berusaha mundur melarikan diri.

Asma’ yang kala itu dalam pikirannya hanya berjihad menegakkan kalimat Allah mencurahkan segenap kemampuannya dengan ikut melawan para tentara Romawi. Saat itu dihadapannya hanya ada tiang tenda, kemudian dicabutlah, dan Ia terjun ke tengah pertempuran, berhasil membunuh Sembilan tentara Romawi. Kemudian selepas pererangan itu Ia masih hidup dan membawa luka di punggungnya.

Allah menghendaki hidup setelah perang itu 17 tahun lamanya hingga Beliau wafatpada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menghidangkan teladan wanita shalihah yang gagah berani. Semoga keberanian berbicara dan keberanian bersikap seorang Asma’ bisa membawa teladan yang tinggi bagi kaum muslimah masa kini untuk tidak ragu dalam menyampaikan kebenaran, meminta kebenaran, dan mencurahkan segenap kemampuan demi memperjuangkan kebenaran itu juga.

Kisah ini saya hadiahkan untuk adik saya tercinta.
diambil dari buku "100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa", Inspirasi para Muslim yang Dicatat dengan Tinta Emas Sejarah.

Senin, 13 Oktober 2014

Menahan Diri dari Meminta



Kata Hakim bin Hizam, ketika itu ia meminta sedekah kepada Rasulullah, lalu beliau shallallaahu alaihi wa sallam memberinya. Kemudian Hakim meminta lagi kepada Rasulullah padahal waktu itu Rasulullah sudah memberinya. Rasulullah kembali memberinya. Hingga tiga kali hakim mengulangi perbuatannya itu. hingga yang ketiga kalinya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu lezat dan manis, maka barangsiapa menerimanya dengan hati yang bersih (tidak rakus atau serakah), dia akan mendapat berkah dengan harta itu. Tapi barangsiapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, dia tidak akan mendapatkan berkah dengan harta itu, dia akan seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.”

07.19.00 - No comments

Islam Menjamin Bangsa yang Bangkit

Di dunia ini, tiada satu pun ideologi yang dapat memberikan apa-apa yang dibutuhkan oleh umat yang sedang bangkit, menyangkut sistem perundang-undangan kaidah-kaidah hukum, maupun kelemahlembutan perasaan dan kepekaan moral sebagaimana yang diberikan oleh Islam.
Al-Qur'an Al-Karim sarat dengan berbagai gambaran tentang  aspek-aspek tersebut. Guna memperjelas pengertian, ia menyajikan gambaran umum pada suatu kali, dan memberi gambaran secara rinci di kali yang lain.
Al-Q
ur'an juga menawarkan penyelesaian terhadap berbagai persoalan dengan jelas dan rinci, sehingga bangsa mana pun yang mau mengambilnya sebagai landasan hidup, niscaya ia akan memperoleh apa yang diinginkannya.

Rabu, 18 Juni 2014

21.38.00 - No comments

HAM dan Mengambil (Sisi Lain) Demokrasi (Islam)



A.      Hukum Islam Adalah Hukum yang Bersumber dan Menjadi Bagian dari Agama Islam
1.       Pengertian Hukum Islam
Hukum adalah seperangkat norma atau peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku manusia, baik norma atau peraturan itu berupa kenyataan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat maupun peraturan atau norma yang dibuat dengan cara tertentu dan ditegakkan oleh penguasa. Sedangkan Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadai bagian dari agama Islam. Konsepsi Hukum Islam, dasar, dan kerangka hukumnya ditetapkan oleh Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan manusia dan benda dalam masyarakat, dan hubungan manusia dengan benda serta alam sekitarnya.
Hukum Islam tidak hanya merupakan hasil pemikiran yang dipengaruhi oleh kebudayaan manusia disuatu tempat pada suatu masa, tetapi pada dasarnya diterapkan Allah melalui wahyu-wahyu-Nya, yang terdapat dalam al Qura dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dalam kitab-kitab hadits. Dasar inilah yang membedakan Hukum Islam secara fundamental dengan hukum-hukum lain yang semata-mata lahir dari kebiassaan dan hasil pemikiran atau buatan manusia.

21.29.00 - No comments

Hakikat Manusia dalam Islam



A.      Konsep Manusia
Manusia sebagai salah satu makhluk yang mendiami bumi memiliki keunikan yang menakjubkan. Dibanding dengan makhluk lainnya manusia memiliki persamaan dan perbedaan yang mendasar, terutama dalam menciptakan kebudayaan dan peradaban.
Manusia dengan binatang tidak begitu berbeda terutama dari susunan jism-nya dan asupan yang diterima untuk kebutuhan biologisnya. Ilmu pengetahuan memandang manusia dari segi fisik sebagai bagian dari spesies binatang.

21.15.00 - No comments

Konsep Ketuhanan dalam Islam

A.      Filsafat Ketuhanan Dalam Islam
Filsafat adalah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth) yaitu usaha menemukan dan menggali kebenaran secara radikal, menerangkan sesuatu yang benar, baik, dan indah.
Filsafat menggunakan instrument akal, sedangkan agama melalui perangkat wahyu dari Tuhan dan Nabi yang kemudian diimani dan direnungkan sehingga ditemukan suatu kebenaran mutlak. Objek materi filsafat dan agama adalah sama, yaitu mencari kebenaran, kebaikan,dan keindahan. Ada dua objek kajian di dalam mempelajari filsafat, yaitu objek forma dan objek material.

Jumat, 02 Mei 2014

Menghadapi Siklus Kesuksesan dan Kegagalan

Dalam hidup sering kali kita ditujukan ke dalam dua pilihan yang sulit. Bahkan lebih ekstrim sering disebut dengan buah simalakama. Namun, disisi lain dalam hidup pula suatu kalimat indah mengajarkan kita bahwa setiap insan yang sukses ialah yang bijak mengambil suatu keputusan dalam dualisme pilihan yang sulit dan berani mempertanggungjawabkannya.

Pada hakikatnya kesuksesan yang kita peroleh adalah nikmat pemberian Allah ta’aalaa, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu,” (Terjemah QS. Al Kahfi : 84)

Sepakat ya? Jadi jangan semata-mata berfikir seperti Qarun ya bahwa semuanya berkat usaha diri sendiri.

Sebenarnya kesuksesan dan kegagalan adalah hal yang berulang dan itu hal yang biasa. Allah sering memberi kita pelajaran pada kisah-kisah dalam alQuran, bahkan tidak sedikit kisah itu diulang-ulang. Senang, sedih, sukses, gagal, bangsa yang dimuliakan, bangsa yang dihinakan, dan lain-lain. Dan inilah sebenarnya kisah dan keadaaan yang selalu berulang akan menjawab sebuah siklus kesuksesan dan kegagalan.

Secara manusiawi, orang yang akan sukses maka akan bertanya kepada orang yang pernah sukses. Orang yang gagal akan bertanya kepada orang yang sukses juga atau orang yang pernah mengalami hal yang sama namun mampu bangkit. Ya, orang yang berpengalaman biasanya menjadi tempat konsultasi permasalahan.

Allah sudah memberi jawaban semua dari siklus dua sisi yang berlawwanan ini melalui kisah-kisah. Maka tidak heran bahwa kisah membuat orang akan lebih bijak. Maka Masyaaallaah ta’aalaa, Ya Rabb Yang Maha Bijaksana.

Islam mengajarkan sebuah ideologi yang sempurna sebagai sebuah ideologi proses dan kesuksesan, hingga menghadapi kegagalan. Sebuah nasihat yang sangat bijaksana dari Sayyidina Umar bin Kaththab radhiyallaahu ‘anhu,

Aku tidak bahagia dengan kesuksesan yang tidak aku rencanakan dan aku tidak menyesal dengan sesuatu yang sudah direncanakan disertai usaha yang maksimal kemudian tidak berhasil.

Mengajarkan bahwa usaha dan kesuksesan adalah penting. Merencanakan takdir untuk sukses dengan membuat perencanaan-perencanaan sebab akibat yaitu dengan (perhitungan yang matang) juga merencanakan menghadapi kegagalan yang tentunya bukan untuk gagal yaitu untuk memperbaiki dan bangkit dari kegagalan. Bahkan bisa dibilang merencanakan kegagalan adalah sesuai pertimbangan bahwa suatu ketika kita tahu akan gagal dengan hal yang tidak bisa kita elakkan, yaitu kegagalan yang harus benar-benar dialami. Sehingga ideology sukses akan mengatakan “Saya tahu akan jatuh maka saya akan (mengalami) jatuh namun saya (tahu) merencanakan untuk bangkit”.

Jadi masih berfikir bahwa ideology ‘kita’ adalah ideology proses saja? Dan masihkah mau berputus asa ketika gagal?
Hadapilah siklus kesuksesan dan kegagalan dengan iman. :)

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Minggu, 16 Maret 2014

Golput atau Tidak Golput ?



Golput istilah yang disematkan dalam cap bagi mereka yang tidak memberi suara pada pemilu. Alasannya bermacam-macam dari terkait agama, pribadi sendiri bahkan bisa jadi adalah kekecewaan atas rezim yang sedang berlangsung.

Hmm… saya termasuk seseorang yang acuh terhadap PEMILU itu sendiri. Namun itu dulu. Seperti yang sebab diatas, termasuk dalam kategori GOLPUT atas pilihan sendiri. Alasan paling sederhana adalah saya tidak mengenal capres tentang kebaikannya atau bahkan menurut saya pada waktu itu tidak ada yang pantas.

Dalam keberjalanannya pemikiran itu menguatkan bahwa sistem demokrasi adalah sistem yang hancur menurut Isla

Sabtu, 18 Januari 2014

18.41.00 - No comments

Menjadi Orangtua yang Baik

Walaupun usianya belia tapi kepribadian yang ditanamkan orangtuanya mampu mematangkan dirinya jauh dengan usianya. Tercermin dari logika keimanan yang diterimanya dengan sempurna. Bahkan logika keimanan itu sendiri diuji oleh Tuhannya melalui bapaknya sendiri, Ibrahim.
"Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" tawar bapaknya dengan kalimat yang sangat lembut.
Tanpa ragu si anak menjawab,"Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"
(terkisahkan pada QS. Ash Shaffaat : 102)

Jika hari ini banyak yang mengeluh dengan anak yang tidak berbakti, Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesuksesannya dalam menjadikan cinta yang diberikan kepada Ismail merubah menjadi sosok bakti yang besar. Tidak sedikit dengan kisah ini akan berkilah dengan alasan bahwa Ibrahim dan Ismail adalah Nabi sehingga sanggup seperti itu, yang tidak akan pernah bisa disamakan dengan manusia seperti kita. Bukankah Nabi Ibrahim Uswatun Hasanah? Sehingga kata Allah kita diperintah untuk mengikuti ?

Bersiap diri menjadi orangtua yang baik.

Jumat, 10 Januari 2014

Menyempurnakan Akhlak



Ketika kita mempelajari fiqhud da’wah sebenarnya yang kita pelajari tidak lain adalah akhlak. Ya sejenak saya berfikir tentang akhlak itu sendiri. Dalam fiqhudda’wah biasanya akhlak digunakan sebagai proses atau alat tapi ada yang lebih besar menurut saya  yaitu akhlak adalah apa yang dida’wahkan kepada umat. Bukankah misi Rasulullah adalah menyempurankan akhlak manusia ?

Sekali lagi, disini saya tidak berbicara tentang fiqih dakwah atau cara berdakwah sehingga diterima. Namun, saya disini menyoroti urgensi akhlak itu sendiri selain sebagai fiqih berdakwah.

Rabu, 25 Desember 2013

07.24.00 - No comments

Kultwit Ustadz Salim A. Fillah tentang #NATAL

Kontroversi ucapan selamat natal kepada Kaum Nasrani selama ini telah mengemuka, dan terkesan tidak pernah rampung dibicarakan. Ustadz SalimA Fillah melalui Kultwitnya siang ini (24 Desember 2011) menyajikan pembahasannya secara seimbang dengan mengetengahkan beberapa pendapat. Silakan simak kultwit #Natal berikut, atau langsung ke TL @salimafillah:


Ada kesalahfahaman. Di teks Fatwa MUI; yang haram adalah PERAYAAN NATAL BERSAMA, bukan ucapan selamat;

Sayang sekali; banyak yang tak membaca teks Fatwa MUI; lalu mengharamkan atas nama mereka apa yang tiada di teks; atau terlanjur memaki..

07.21.00 - No comments

Fatwa MUI tentang Perayaan Natal Bersama

KEPUTUSAN KOMISI FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA TENTANG
                    PERAYAAN NATAL BERSAMA
 
Memperhatikan:
1. Perayaan Natal Bersama pada akhir-akhir ini
   disalahartikan oleh sebagian ummat Islam dan disangka sama
   dengan ummat Islam merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
2. Karena salah pengertian tersebut ada sebagian orang Islam
   yang ikut dalam perayaan Natal dan bahkan duduk dalam
   kepanitiaan Natal.
3. Perayaan Natal bagi orang-orang Kristen adalah merupakan
   Ibadah.
 
Menimbang:
1. Ummat Islam perlu mendapat petunjuk yang jelas tentang
   Perayaan Natal Bersama.
2. Ummat Islam agar tidak mencampur-adukkan Aqidah dan
   Ibadahnya dengan Aqidah dan Ibadah agama lain.
3. Ummat Islam harus berusaha untuk menambah Iman dan
   Taqwanya kepada Allah Swt.
4. Tanpa mengurangi usaha ummat Islam dalam Kerukunan Antar
   ummat Beragama di Indonesia.
 

Sabtu, 14 Desember 2013

Perempuan Yang Tidak Ayan


Ingat sebuah hadits yang menceritakan tentang perempuan berkulit hitam yang didoakan Rasulullah masuk syurga. Diceritakan bahwa Ibnu ‘Abbas menceritakan seorang perempuan berkulit hitam datang kepada Rasulullah seraya mengatakan, “Aku terjangkit ayan dan sungguh auratku terbuka karena itu. Maka doakanlah aku.”
Rasulullah bersabda,“Kalau engkau mau bersabar, maka engkau akan mendapatkan syurga. Kalau engkau ingin aku mendoakanmu, maka aku akan berdoa  kepada Allah agar menyembuhkanmu.”
                Perempuan tersebut menjawab,”Aku akan bersabar, tapi sungguh pakaianku terbuka karena itu. Oleh karenanya doakan agar pakaianku tidak terbuka saat penyakitku kambuh.” Kemudian dengan senang hat Rasulullah pun mendoakannya.

Jumat, 01 November 2013

Masa Pemboikotan


tersisolasi
Singkat waktu dalam empat pekan , ada empat kejadian besar yang menggetarkan mata otang-orang musyrik, yaitu Hamzah masuk Islam, disusul ‘Umar, Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menolak suatu tawaran mereka, dan kesepakatan bersama dalam perlindungan Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang dijalin antara Bani Muththalib dan Bani Hasyim, baik yang muslim maupun yang kafir.

Akibatnya orang-orang musyrik kalang kabut dan ditempa kebingungan ekstrim. Benar, jika mereka membunuh Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- maka mereka sadar akan terjadi pertumpahan darah di Bumi Makkah. Sehingga makar pun berlanjut dengan cara yang lain.

***
Mereka berkumpul berunding untuk  menyusun suatu kesepakatan guna mendepak  kedua bani yang melindungi Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.