Tampilkan postingan dengan label SELINGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SELINGAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Oktober 2017

Meniatkan Niat bag.1


Niat merupakan amalan hati yang agung bagi kaum muslimin. Keberadaannya sangat menentukan ukuran dalam suatu amalan atau perbuatan seseorang. Mau ukurannya baik atau jelek, sah atau tidak, kuat atau lemah, sungguh-sungguh atau sekedar rutinitas tanpa esensi, semua itu tergantung kepada niat awal yang kita bangun.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkan itu....” (HR. Bukhari dan Muslim)


Namun, bukankah tidak ada pekerjaan atau berbuatan sedikitpun tanpa adanya niat?

Setiap hal yang ada, diwujudkan dari abstraksi dalam bentuk yang belum berwujud. Jadi ketika kita “Bekerja” sebenarnya dalam alam bawah pikir kita sudah melakukan niat “Mau Bekerja” sehingga akhirnya kitapun “Bekerja”. lalu setiap orang yang “Mau Bekerja” inipun berbeda-beda dalam kesungguhannya. Ada yang tidak semangat, ada yang setengah, ada pula yang benar bersungguh-sungguh dengan keyakinan yang mantap. Tentu hasilnya juga berbeda-beda sesuai kesungguhannya. Ada yang dapat teguran, ada yang dianggap biasa, bahkan karena kesungguhannya yang mantap akhirnya mendapatkan reward yang baik dari pimpinannya.

Senin, 11 Januari 2016

23.33.00 - No comments

Perempuan dan Bakpau itu...

Tidak terlambat pagi itu, padahal dia sering terlambat. Biasanya Sa’id jalan kaki sambil melihat alam kampusnya dan reaksi sosial sekitar dia berjalan. Atau kadang setengah lari karena mengejar waktu untuk memperkecil keterlambatannya.

Masuk gedung A, di jurusan Matematika, banyak sapaan yang tertuju padanya. Dia sebenarnya merasa sendiri atau lebih tepatnya tersindir.
“Eh Pak elo mau bersihin gedung, tumben jam segini sudah berangkat” Ketika bertemu Ahmad di lbi Gedung lantai 2.
“Hehe biasa aja. Gue hari ini mau tobat dari kata ‘terlamat’. Inget ya hari ini! Selanjutnya gak tau deh” jawab Said sambil guyonan.
Bertemu dosen kalkulusnya, dia menyapa,”Assalaamu’alaikum Pak!” sambil menyunggingkan senyum dengan pipi lesung sebelah. “Wa’alaikumussalaam. Kok pagi betul?” jawab Dosennya.
“iya pak, sekali-kali.” Sambil berlalu.
Duduk sebentar di tangga lantai 3, sambil minum.

***
Sampailah didepan ruang praktik mata kuliah pemrograman dasar. Duduk melepas sepatunya. Disitu ada juga teman perempuannya, Sasa namanya.
“(Ehmm... ekhmm...) Assalaamu’alaikum Sas. Kok belum masuk?”
“Iya akh. Sarapan dulu. Bakpau coklat.” Jawab Sasa, teman sekelas sekaligus di pembinaan keislaman organisasinya.
“Oh... saya masuk dulu ya, ngadem!”
“Bentar akh. Mmm, ... ini ana masih punya satu lagi bakpau coklat kalau antum mau.” Tawarnya malu-malu.
“Boleh.” Diterimanya bakpau coklat itu, lalu duduk disampingnya kembali. “Manis?” tanya Said, sambil membolak-balikkan bakpau yang masih dalam plastik.
“Iya.” Jawab singkat. “Kemarin gak dateng syura’? temen-temen menanyakan antum karena tiga kali berturut-turut tidak datang syura’. Ada apa?”
Said menghela nafas panjang. “Tidak apa-apa. Tidak ada perubahan dalam gerak kita. Saya jadi malas untuk datang. Kemarin menghasilkan apa? ” sambil tetap memegangi bakpau coklat itu.
“Akh Darwis akhirnya dicalonkan ke ketua BEM. Awalnya mas’ul mempertahankan antum untuk tetap dicalonkan. Tapi kata Yadi antum tidak mau, sedangkan saat itu antum tidak bisa dihubungi. Mas Feri ingin tetap mendengar langsung dari kesediaan antum tapi akh Hadi tidak setuju dan bisa mempengaruhi forum. Akhwat kepecah jadi dua, dukungan ke antum dan ke akh Darwis.”

“Sudah bisa dipastikan. Melulu soal beginian. Padahal kader kita dibawah terlantar. Saya memang ndak mau sejak awal. Juga sudah mengatakan ke akh Yadi. Setiap mau syura’ saya tanya ke dia, kira-kira membahas apa syuranya. Masih seputar pemilu Bem. Lalu mau dikemanakan kader-kader kita?”
“Ana paham maksud antum. Maaf membuat antum marah” merasa bersalah telah memancing ketidaksenangan Sa’id. Tiba-tiba saja dia menangis.
Sa’id yang mengetahui lalu bingung melihat Sasa sesenggukan lalu menangis. Dia diam saja, bingung. Apa dia salah ucap atau melukai perasaannya. Masih belum ada respon akhirnya dia mencoba mengatakan sesuatu. “Bakpaunya saya makan pintu nanti. Kamu kenapa?” tanya Said sambil berharap ada perubahan. Saat itu teman-temannya juga menyaksikan karena melewati mereka berdua sebelum masuk ruang praktikum.
“Tidak tahu. Ana berfikir kalau antum hanya mengurus bidang sendiri, terlalu egois.”

***
Selesai kuliah Said berjalan pulang seperti biasa, jalan kaki. Mampir ke masjid untuk solat berjamaah dzuhur. lalu berjalan lagi melanjutkan. Diujung pintu gerbang belakang dia melihat Ratna melewatinya naik motor. Ratna juga melihat Said. Masih tanpa senyum.
Ratna adalah teman akrabnya dulu di SMA lalu sama-sama kuliah ditempat yang sama. Entah apa dan bagaimana awal kejadiaanya, yang jelas hubungannya renggang semenjak dia berubah menjadi “akhwat”.
Said menyapanya, “Na, assalaamu’alaikum.” Sambil motor yang ditumpangi Ratna berlalu. Selang dari itu diabaikan, Said masih berjalan. Tiba-tiba, motornya memutar dan menghampiri Said.
“Ada apa Id?” tanyanya penasaran.
“Eh... enggak kok. Aku tadi Cuma menyapa. Maaf ya!”
“Oh. Ya.” Ada rona mimik yang tidak menyenangkan dari Ratna.
Tiba-tiba Said menyodorkan bakpau coklat yang belum sempat ia makan tadi. “Ini buat kamu. Bakpau coklat manis.”
Saat menyerahkan bakpau tersebut ada dua motor yang dikenal oleh Said. Motornya Lian dan Sasa. Keduanya berhenti juga menghampiri Said. Mereka berdua ada agenda mengajar anak-anak TPA.
“Ayo akh ikut aku saja. Ngajar anak-anak TPA.” Tawar Lian. Ratna berterima kasih atas pemberian bakpau coklat dan diincipi langsung didepan mereka semua. Lalu pamit.
“Boleh.” Jawab Said sedikit menatap Sasa.

***
Sepeda motor diparkir didepan masjid Al Abror. Anak-anak sebagian sudah datang. Lian segera menyambut anak-anak. Sedang Sasa dan Said masih di tempat parkir.
“Itu bakpau coklat tadi pagi akh?”
“Iya. Saya belum sempat memakannya.”
“Belum sempat atau gak mau memakannya?” tegas Sasa.
***


Kamis, 07 Januari 2016

20.58.00 - No comments

Ukhuwah Pagi


.....Ash shalaatu khairun minannaum, Ash shalaatu khairun minannaum

Allaahu akbar, Allaahu akbar
Laa ilaaha illallaah.[1]

Sayup-sayup suara muadzin membangunkan sebagian manusia di komplek kos belakang UNS (Universitas Sebelas Maret)[2] tepatnya di daerah Jalan Surya 2-3. Memang sebagian ada yang masih terlelap dengan rangkaian bunga tidur atau sekedar tidur tanpa ada bisikan respon, tapi ingatlah bahwa ada sebagian mereka tetap tegar dan bersemangat memenuhi seruan kemenangan. Kosbin-kosbin[3] atau lebih dikenal dengan IMC[4].
KaTaka… bangun, sudah subuh.” Kalimat itu diulang beberapa kali jika ada potensi dari Mas Taka untuk bangun.
(thok…thok…thok…) Mengetuk pintu selanjutnya,” LimAlim… tangi Her, wis shubuh”,panggil  Mas Harun.
 Jawab Mas Alim, “Iya Mas Harun, ini sudah bangun”. Dilanjutkan  ke kamar nomor 7, kamar paling rahasia yang tidak sembarang orang bisa masuk atau sekedar mendapat izin untuk masuk pun susah . Dilanjutkannya mengetuk kamar tersebut.
(thok..thok…thok)” IdSa’id …, ayo shubuh”.
“Iya mas, ini yo wis tangi kok (sambil menyeka sisa-sisa air mata saat qiyamullayl)”.
Mas Harun langsung berangkat ke masjid. Sebagai perintis kosbin atau IMC Husein dia harus mampu memberi  tauladan yang sempurna apalagi dia seorang aktivis. Yang lain sudah bangun tanpa dibangunkan sekalipun, Lian,Mas Qosim, Mas Yusuf,Mas Alwi, Mas Farhan dan Mas Adin. Mereka keluarga kos Husein ke masjid yang memakan waktu kurang lebih empat menit. Tidak berengkat bersama karena persiapan mereka pun berbeda-beda. Ada yang seadanya ada pula yang perfeksionis.
Sa’id memilih shalat qabliyah di kos saja, sering memang seperti itu. Iya dia memang agak tertutup.
*****
Tiap kamar sibuk dengan dzikir pagi mereka sendiri-sendiri ada yang menggunakan Al Ma’tsurat ada yang Hishnul Muslim. Mereka didalam keluarga Husein saling menghargai. Ada juga yang melihat ceramah ustadz Yusuf Mansyur di tv, yang ini biasanya Mas Farhan. Dia ngefans sama sang ustadz yang punya sosok kalem tapi berwibawa. Lian adalah teman setia dari mushafnya, seperti halnya Mas Adin, Sa’id,Mas Alwi dan Mas Qosim.
Ada ikatan yang sulit dipisahkan ketika mereka selesai dengan khusuknya mengingat Rabbnya saatnya untuk berkumpul di ruang tengah untuk melihat berita khususnya bola dan kajian Islam Khazanah 7. Walaupun kadang juga ada yang tidur kembali untuk mengecas tenaga karena banyaknya tugas sehingga mengerjakan hingga larut. Oh Masyaaallaah mungkin inilah ukhuwah yang seimbang. Bisa memposisikan dengan tepat.
“Mandi dulu ah, kuliah pagi nih… semester dua ini masuk pagi terus, tapi hanya masuk sampai hari kamis”,celetuk si Sa’id kepada teman-temannya saat lihat berita bola.
“Masih seperti SD aja”, Mas Harun menimpali sambil memicingkan sebelah matanya.
Suasana seketika langsung ramai atas humornya Mas harun. Sa’id hanya menjulurkan lidahnya saja tanda acuh. Dia masuk ke kamarnya nomor tujuh. Ambil handuk kemudian ke kamar mandi.
Lian bangkit dari melihat tv untuk siap-siap mandi. Mas Taka,“Hah yen iki mundhak sithik. Cah SMP hahaha…”. “Lho inikan pagi, dimana Allah menurunkan berkah dipagi hari tersebut dan saya akan menjemput berkah-Nya”,debat Lian. Melanjutkan Lian dengan membaca salah satu do’a dipagi hari,”Allaahumma innii as aluka ‘ilman naafi’aa, wa rizqan thayyibaa, wa ‘amalaan mutaqabbalaa. Seketika Mas Taka senyum tipis.
“Haha skakmath”,celetuk Mas Adin. Suasana jadi semakin ramai dan penuh makna.
*****

“Assalaamu’alaikum saya berangkat dulu. “,pamitannya kepada kakak-kakak kosnya yang masih didepan tv.
“Wa ‘alaikumussallaam…”, jawab mereka serentak seperi kelompok brigade.
Sa’id mengetuk pintu kamar Lian, nomor lima,”Ayo akh berangkat, saya berangkat bareng antum ya…”.
“Iya tunggu sebentar masih ganti pakaian.”
“Saya tunggu diluar ya.”
“Na’am.”
*****


[1]Lafadz adzan Shubuh
[2] UNS atau Universitas Sebelas Maret adalah salah satu perguruan tinggi negeri terkenal di Indonesia,tepatnya di Kota Solo.
[3] Kosbin kependekan dari Kos Binaan
[4] Kosbin(Kos Binaan) atau IMC (Intelectual Muslim Comunity) adalah penerapan kos pembinaan oleh aktivis dakwah kampus.

Kamis, 12 Maret 2015

Pesan Pagi

Tidak ada pesan untuk pagi ini hingga pagi seterusnya. Rupanya telah ada kesalahan yang harus dihapus, termasuk pesan yang senantiasa aku tunggu. Menyambut pagi dengan satu azam dimasa yang akan datang. Tidak akan ku sisakan kecuali dua kata panggilan yang telah melekat di hati. Semuanya untuk yang senantiasa menjaga.
Adakalanya aku mengikuti hatiku untuk sekedar menemani, meski aku pun sadar bahwa aku pun nyaman. Namun, telah ada ikatan diriku dengan diri-Nya. Dimana kesetiaanku belum bisa teruji jika aku segera menghadap-Nya.
Aku tidak bisa meninggalkan secercah cahaya kemilau meski tidak pernah ku pandang atau aku yang tak mampu memandang. Cahaya harapan yang senantiasa menemani dikala keremangan jalan dan banyak batu menghadang kaki-kaki. Aku percaya cahaya itu senantiasa ada dalam pesan pagi yang selalu sampai.
Memberi sudut tersendiri untuk namamu adalah hal terindah. Satu keajaiban dimana Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang menyematkan sifat kasih dan sayangnya dalam sudut itu. Sudut yang tak bisa digantikan.
Dalam serpihan rasa yang membuncah ingin rasanya mengeluarkan kalimat-kalimat indah yang sering ku buat. Ku tulis dan ku masukkan dalam hati. Aku tak berani memberikannya padamu. Meski itu kesungguhanku.
Juga telah kuputuskan semuanya berakhir untuk mencari hakiki itu. Dalam kesucian, agung , nan tinggi. Ujian rasa yang dibolak-balikkan. Susah, menyedihkan, dan memberatkan meski tak pernah terlihat. Biarlah hati yang memberi pesan pagi tanpa pernah menuliskannya lagi.
Tidak satu pun rasa rindu yang mendera adalah kecuali harus ditepis. Jalannya masih berumur jagung. Akan senantiasa menjadi ingatan yang tajam. Berharap umur bertambah hingga terbiasa lalu mentransformasikan rasa pikir ke suatu rasa yang menyatu dalam tubuh supaya tak bergejolak. Dan tak meminta memanggil,dipanggil, juga bertemu. tetap disimpan dalam nilai.
Pesan-pesan rasa yang tertulis dalam pesan pagi semoga menjadi untaian-untaian benih yang bisa ku unduh nanti.
Aku pasti akan merindukan untuk segera pagi lalu ketika siang, aku ingin pagi lagi meski sudah tidak ada pesan pagi.

Sabtu, 03 Januari 2015

Batra: Kak Musa dan Kak Fajar


Kak Musa
Kak Fajar
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Musa sebenarnya orangnya asyik, tapi banyak diemnya. Dan juga, kang Musa peduli sama kita. Kang Musa orangnya toleran, bukan berarti nggak tepat waktu saat kita masuk local.
Wassalaamu’alaikum wr wb.
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Fajar orangnya seru, ramah, dan sabar. Selain itu Kang Fajar lebih suka diam.
Wassalaamu’alaikum wr wb
Jangan terlalu banyak diem kak, garing tau… J
Suaranya juga pelan kalo lagi njelasin kadang-kadang.
Awalnya jutek lama-lama udah nggak.
Jangan pelit-pelit senyumnya.
Aktif terus di PII ya hehe…J
Nggak papa kak kalo dipanggil pak.
Penampilan itu nggak masalah yang penting bangga jadi diri sendiri. Diajar sama kak Fajar asyik juga. Tapi jarang -.-
.
Aktif terus di PII ya kak hehe… J
Anda terlalu kebapakan ekspresinya. Dan susah banget kalau tertawa.
Untuk kuliahnya semoga lancar dan semoga menjadi guru yang baik.
Saran saya kak Musa perlu refreshing untuk kejenuhan. Nampak wajah kakak statis. Walaupun tertawanya terpaksa…
Semangat!!
Arigato Gozaimasu.
Kakak terlalu takut atau malu nampaknya untuk mengisi sebagai instruktur….. tapi tetap josh…… semoga kuliahnya cepat rampung.
Saran saya Kak Fajar perbanyak nonton Stand Up Comedy dan sekali-sekali nonton Naruto.
Awalnya sih pada waktu masuk pertama kurang senyum tapi lama-kelamaan ini tambah akrab dan masalah ilmu termasuk tipe orang yang bisa menerapkan ilmu yang sudah pernah didapatkan.
Tapi cuchooks…
Masalahnya sama sih ya… itu juga pada awalnya kurang senyum aja dan bisa nerapin ilmunya. Masnya sama kak Musa itu satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan ya…
He.. he.. he..
Kritik: mungkin penerapannya kurang diperjelas.
Saran: trus jadilah pengobar semangat para pelajar PII. Saya juga bertemikasih selama seminggu disini saya sudah diberi materi yang mungkin saya belum mengetahuinya.
Kritik: sikap keharmonisannya kurang
Saran: lebihlah bersikap bisa senyum dan bercanda. Dan teruslah mengobarkan hati para pelajar agar memiliki kepedulian didalam agama Islam.
Lokal empat atau Al Furqan sangatlah menarik. Orangnya pada lucu-lucu semua. Nggak akan lupa deh sama local ini. seru disini. Aku gak nyangka kalau besok dah pulang. Hari-hari disini bersama local empat dan kak Fajar, Kak Musa.
Awalnya saya sebel soalnya Pak Musa itu orangnya cuek, tapi makin hari Pak Musa seru juga, apalagi untuk mala mini. Pak musa juga sering bikin bikin aku bingung n’ bimbang. Hehe…
Dia juga dingin banget ya n’ pas awal-awal juga orangnya pakem banget meski kata orang-orang kalo Pak Musa orangnya suka bercanda tapi saya nggak percaya eg. Hehe
Saya juga suka gayanya pak Musa.
Thank’s for all pak Musa J
Awalnya saya bingung kenapa juga nih orang dipojokan sana sambil diem terus, sakit gigi po?? Saya baru mengenal pak Fajar malam kemarin, aslinya orangnya lucu tapi wajahnya tu lho tanpa expresi, datar-datar aja. Jadinya ya nggak jadi seru… hehe ^-^
Orangnya ….uuh… super duper…
Aku bingung kalau dikasih pertanyaan… hehe^^, tapi seru, ngajak mikir… terus ya… walaupun orangnya itu datar tanpa ekspresi, tapi penampilannya keren, cool… kalau aku sii suka… hihi..
Pas banget kalau disuruh ngisi BATRA kayak gini… pas bingungnya…nggak bercanda.. pokoknya kak Musa the best dech… salut aku… empat jempol buat kak Musa :D
Kalo…Kak Fajar,em…awalnya terkesan aneh, soalnya pengamatkan, jadinya kelihatan serius mulu… tapi ternyata orangnya lucu, seru….. kalo nyampein materi juga ok… aku suka penampilan nyentriknya, celana cingkrang, hehe… ciri khas Kak Fajar. Pokoknya Kak Fajar juga the best dech…:D
Penyampaian materinya sudah baik, bisa dipahami. Kadang-kadang suaranya Kang Musa itu gak kedengeran. (Terlalu pelan dan halus). Untuk sistematika penyampaian materi juga sudah baik. Jempol buat kang Musa.
Penyampaian materinya sudah baik, terus juga bisa dipahami. Suaranya juga lantang dan jelas. Sistematika penyampaian materi juga bagus.
Jempol buat kang Fajar.
Pertama masuk local kayaknya pendieeeeeem banget. Tapi setelah beberapa hari dah mulai bicara seperti biasa.
Sarannya, kak Musa jangan diem banget lah, bercanda-bercanda dikit kan ngga apa-apa? Hehehe :D
Kak Fajar malah lebih pendiem dari kak Musa waktu pertama kali masuk local. Tapi setelah tau ternyata kakak itu juga bisa bercanda juga *ngga nyangka^^*
Sarannya, tetep semangat buat kasih materi ke anggota batra kakaaak..
Kang Musa pertama-tama orangnya terlihat galak gimana gimana gituh. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata tidak sepeti itu, orangnya asyik, cerdas dalam mengolah kata. Dan ternyata eh ternyata kang Musa suaranya bagus juga lho… pas waktu nyanyi lagu Raihan. J
Saran: kalau ngajar jangan serius-serius yo kang…J
Dan terima kasih sudah mau ngasih saya ilmu yang baru.
Banyak diem orangnya, cerddas juga dalam pendidikan matematikanya ternyata. Kalau ngaji suaranya bagus.
Saran: jangan banyak diem kang. Tetap semangat aja deh, dan sabar lagi dalam mengajar.