Sabtu, 03 Januari 2015

Batra: Kak Musa dan Kak Fajar


Kak Musa
Kak Fajar
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Musa sebenarnya orangnya asyik, tapi banyak diemnya. Dan juga, kang Musa peduli sama kita. Kang Musa orangnya toleran, bukan berarti nggak tepat waktu saat kita masuk local.
Wassalaamu’alaikum wr wb.
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Fajar orangnya seru, ramah, dan sabar. Selain itu Kang Fajar lebih suka diam.
Wassalaamu’alaikum wr wb
Jangan terlalu banyak diem kak, garing tau… J
Suaranya juga pelan kalo lagi njelasin kadang-kadang.
Awalnya jutek lama-lama udah nggak.
Jangan pelit-pelit senyumnya.
Aktif terus di PII ya hehe…J
Nggak papa kak kalo dipanggil pak.
Penampilan itu nggak masalah yang penting bangga jadi diri sendiri. Diajar sama kak Fajar asyik juga. Tapi jarang -.-
.
Aktif terus di PII ya kak hehe… J
Anda terlalu kebapakan ekspresinya. Dan susah banget kalau tertawa.
Untuk kuliahnya semoga lancar dan semoga menjadi guru yang baik.
Saran saya kak Musa perlu refreshing untuk kejenuhan. Nampak wajah kakak statis. Walaupun tertawanya terpaksa…
Semangat!!
Arigato Gozaimasu.
Kakak terlalu takut atau malu nampaknya untuk mengisi sebagai instruktur….. tapi tetap josh…… semoga kuliahnya cepat rampung.
Saran saya Kak Fajar perbanyak nonton Stand Up Comedy dan sekali-sekali nonton Naruto.
Awalnya sih pada waktu masuk pertama kurang senyum tapi lama-kelamaan ini tambah akrab dan masalah ilmu termasuk tipe orang yang bisa menerapkan ilmu yang sudah pernah didapatkan.
Tapi cuchooks…
Masalahnya sama sih ya… itu juga pada awalnya kurang senyum aja dan bisa nerapin ilmunya. Masnya sama kak Musa itu satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan ya…
He.. he.. he..
Kritik: mungkin penerapannya kurang diperjelas.
Saran: trus jadilah pengobar semangat para pelajar PII. Saya juga bertemikasih selama seminggu disini saya sudah diberi materi yang mungkin saya belum mengetahuinya.
Kritik: sikap keharmonisannya kurang
Saran: lebihlah bersikap bisa senyum dan bercanda. Dan teruslah mengobarkan hati para pelajar agar memiliki kepedulian didalam agama Islam.
Lokal empat atau Al Furqan sangatlah menarik. Orangnya pada lucu-lucu semua. Nggak akan lupa deh sama local ini. seru disini. Aku gak nyangka kalau besok dah pulang. Hari-hari disini bersama local empat dan kak Fajar, Kak Musa.
Awalnya saya sebel soalnya Pak Musa itu orangnya cuek, tapi makin hari Pak Musa seru juga, apalagi untuk mala mini. Pak musa juga sering bikin bikin aku bingung n’ bimbang. Hehe…
Dia juga dingin banget ya n’ pas awal-awal juga orangnya pakem banget meski kata orang-orang kalo Pak Musa orangnya suka bercanda tapi saya nggak percaya eg. Hehe
Saya juga suka gayanya pak Musa.
Thank’s for all pak Musa J
Awalnya saya bingung kenapa juga nih orang dipojokan sana sambil diem terus, sakit gigi po?? Saya baru mengenal pak Fajar malam kemarin, aslinya orangnya lucu tapi wajahnya tu lho tanpa expresi, datar-datar aja. Jadinya ya nggak jadi seru… hehe ^-^
Orangnya ….uuh… super duper…
Aku bingung kalau dikasih pertanyaan… hehe^^, tapi seru, ngajak mikir… terus ya… walaupun orangnya itu datar tanpa ekspresi, tapi penampilannya keren, cool… kalau aku sii suka… hihi..
Pas banget kalau disuruh ngisi BATRA kayak gini… pas bingungnya…nggak bercanda.. pokoknya kak Musa the best dech… salut aku… empat jempol buat kak Musa :D
Kalo…Kak Fajar,em…awalnya terkesan aneh, soalnya pengamatkan, jadinya kelihatan serius mulu… tapi ternyata orangnya lucu, seru….. kalo nyampein materi juga ok… aku suka penampilan nyentriknya, celana cingkrang, hehe… ciri khas Kak Fajar. Pokoknya Kak Fajar juga the best dech…:D
Penyampaian materinya sudah baik, bisa dipahami. Kadang-kadang suaranya Kang Musa itu gak kedengeran. (Terlalu pelan dan halus). Untuk sistematika penyampaian materi juga sudah baik. Jempol buat kang Musa.
Penyampaian materinya sudah baik, terus juga bisa dipahami. Suaranya juga lantang dan jelas. Sistematika penyampaian materi juga bagus.
Jempol buat kang Fajar.
Pertama masuk local kayaknya pendieeeeeem banget. Tapi setelah beberapa hari dah mulai bicara seperti biasa.
Sarannya, kak Musa jangan diem banget lah, bercanda-bercanda dikit kan ngga apa-apa? Hehehe :D
Kak Fajar malah lebih pendiem dari kak Musa waktu pertama kali masuk local. Tapi setelah tau ternyata kakak itu juga bisa bercanda juga *ngga nyangka^^*
Sarannya, tetep semangat buat kasih materi ke anggota batra kakaaak..
Kang Musa pertama-tama orangnya terlihat galak gimana gimana gituh. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata tidak sepeti itu, orangnya asyik, cerdas dalam mengolah kata. Dan ternyata eh ternyata kang Musa suaranya bagus juga lho… pas waktu nyanyi lagu Raihan. J
Saran: kalau ngajar jangan serius-serius yo kang…J
Dan terima kasih sudah mau ngasih saya ilmu yang baru.
Banyak diem orangnya, cerddas juga dalam pendidikan matematikanya ternyata. Kalau ngaji suaranya bagus.
Saran: jangan banyak diem kang. Tetap semangat aja deh, dan sabar lagi dalam mengajar.

Batra: Teknologi Dakwah

1.       Robot Pendakwah
Berdakwah disampaikan oleh da’i secara langsung atau rekaman itu sudah biasa. Namun, disampaikan oleh robot adalah hal yang sangat luar biasa. Meski didalam robot tersebut sama kerja penyampaiannya seperti rekaman namun hal ini akan menjadi daya antusias tersendiri oleh umat muslim.
Cara kerja robot ini seperti miniatur ustadz saat sedang menyampaikan kajian di tempat-tempat kajian pada umumnya. Robot ini semacam computer yang didalamnya terdapat rekaman-rekaman kajian. Saat dinyalakan dan disetel kajian yang diinginkan, robot ini akan bergerak dengan gerakan-gerakan badan sesuai materi kajian yang disampaikan. Sehingga dari hal ini bisa menarik antusias masyarakat dalam menambah wawasan keislaman dengan cara yang lebih unik.

2.       Alat Rekaman Dakwah
Alat ini dirancang secara khusus untuk penerapan strategi dakwah melalui suatu rekaman yang didalamnya terdapat materi-materi tentang Islam. Dalam materike-islaman itu sendiri, didalamnya terdapat tema-tema khusus yang membahas tentang Islam itu sendiri. Rekaman dakwah ini menggunakan aplikasi khusus yang telah dirancang sebelumnya.
Cara menggunakan alat ini, kita tinggal memilih kode yang telah diterapkan sesuai tema itu sendiri. Misalnya kode “A”, digunakan untuk tema “Implementasi Dakwah Sosial Dalam Masyarakat”, sehingga memudahkan kita mencari apa yang diinginkan. Dengan adanya alat ini, setiap individu dapat menikmati aplikasi rekaman dakwah dengan praktis.

3.       Pensil atau bolpen berdakwah
Pensil atau bolpen ini dibuat dengan teknologi canggih yang dibuat dengan listrik dan kabel-kabel. Alat ini bisa dicas dan juga bisa dikasih baterai. Alat ini dibuat untuk membaca Al Quran dan membaca huruf hijaiyah. Dan alat ini sangat bisa membantu dalam membaca dan memperlancar bacaan Quran.

4.       Al Quran Elektronik
Al Quran ini dirancang dalam bentuk mobile atau gadget. Alat ini tidak perlu disentuh, melainkan mengucapkan surah apa yang ingin kamu baca. Nanti akan muncul surat yang diminta. Termasuk alat ini akan bisa mengoreksi bacaan si pembaca jika dalam membacanya salah atau kurang tepat.

5.       Kacamata Quran
Kacamata ini bisa menampilkan bacaan / tulisan Quran dengan bantuan sensor cahaya. Dimana cara kerjanya, dibagian kanan dan kiri sebelah engsel ada tombol. Tombol tersebut bagian kiri berfungsi mengcopy berbagai tulisan yang terjangkau oleh kaca mata. Tombol bagian kanan berisi daftar tulisan yang disimpan dan daftar ayat-ayat Al Quran + terjemah secara lengkap. Maksudnya jika tombol itu ditekan akan muncul daftar-daftar tersebut dilayar kacamata.

*sekelumit cerita teknologi yang diimajinasikan adik2 batra. semoga entah suatu saat akan muncul teknologi seperti ini.

Sabtu, 06 Desember 2014

Merindukan Kuliah

Bagi seorang yang sedikit mengikuti waktu perkuliahan, kuliah adalah waktu yang sangat dirindukan.

Semester tiga menuntut aku mengambil sedikit sks. Jauh, benar-benar jauh dari batas normal. Kuliah yang aku hanya mendapat batas selama 3 hari saja itu pun bukan jadwal yang padat. Namun, dari hal itu sangat masih tetap berdiri dan merasa belum apa-apalah dibanding perjuangan teman2 yang telah mengorbankan lebih dari yang ku korbankan. Mungkin disisi lain adalah lalainya diri aku, tapi jika tidak demikian sama saja aku mengorbankan sesuatu yang lebih besar. Hanya seperti ini yang bisa ku persembahkan pada-Mu Ya Allah.
Maafkan anakmu ibu, yang -mungkin- lalai dari kuliahnya, tapi aku hanya ingin mempersembahkan padamu yang lebih besar dari sekedar nilai kuliah. Hari ini engkau tidak menyukainya namun semoga suatu saat engkau menyukainya.
Aku kira sedikitnya jadwal, aku akan memiliki banyak waktu untuk belajar untuk mengkonter nilai aku, juga banyak waktu untuk mencoba bisnis yang ingin dirintis, atau bisa lebih intensif untuk PII-ku atau bahkan menghabiskan buku-buku yang ku beli dan belum habis ku membacanya: Filsafat Ilmu, Evolusi Kristen, Perempuan Hallerina, atau terjemahan kitab-kitab misalnya. Aku kira memang begitu bisa lebih intensif mendesain poster-poster dakwah atau sekedar membuat tulisan-tulisan bermakna. Ah aku kira.
Olahan sebab-akibat yang ku buat melesat atas asbab yang menjadi sebab mutlak. Sudah memang melewati sehari-dua hari kuliah lancar. Bisnis? Mencoba berjualan. Eh harus ada kegiatan ini dan itu. kesibukan yang direncanakan diterjang dengan kesibukan yang lain. Mulai dari intensitas waktu-waktu yang tersita. Tidak masalah, alhamdulillaah menambah kesibukan daripada harus menjadi penghuni kos atau kampus yang kurang produktif.
Satu dua kuliah tidak ku ikuti. Membolos untuk keperluan yang lebih besar –sekali lagi menurutku-. Dari urusan PII hingga urusan keluarga (memang semenjak ini Allah sedang menguji kami, jadi harus intensif PP hingga sering tidak masuk kuliah juga), tapi benar, aku sangat menikmatinya atau terpaksa menikmatinya. Hanya saja keyakinan yang ada didada bahwa waktu yang terlimpah akan Allah ganti waktu yang panjang didalam balasan nikmat-Nya. Hanya janji Allah yang bisa menghibur, yang Maha menepati janjinya.
Kemudian, aku sangat bahagia dalam satu atau dua kuliah yang ku ikuti atau aku juga terkucilkan karena jarang masuk kuliah. Namun, diluar hal itu betapa aku sangat merindukan kuliah. Lebih-lebih satu mata kuliah matematika. Meski sekali lagi jarang tidak masuk namun aku tetap mengkajinya, semampuku, dengan pendapat-pendapatku sendiri.
Aku yang jarang kuliah, sangat merindukan kuliah. Sebagaimana mereka kuliah. Berdiskusi tentang mata kuliah yang menjadi keluh kesahnya (seharusnya aku juga). Atau bahkan ekspresi emosi yang keluar dari masing-masing wajah teman-temanku yang melihat nilai-nilainya. Yang nilai-nilai bagiku sudah tidak terlalu menjadi tuntutanku.

Waktu tidak bisa kuliah adalah waktu mahasiswa merindukan kuliah.

01.10.00 - No comments

Islam dan Akal Manusia


Islam agama yang sempurna. Tidak ada yang melebihi tingginya Islam. Semua telah teratur lengkap. Dari keimanan, kehidupan dunia, kehidupan setelah didunia,ritual, hingga adab-adab dan sosial masyarakat. Namun, dari semua kelengkapan yang dimiliki Islam tidak lepas dari akal-pikir kepada manusia yang dianugrahi Islam.

Islam menghargai akal manusia. Islam melindungi akal manusia. Islam memelihara akal manusia. Dengan Islam akal manusia diperintah untuk digunakan. Dengan Islam, manusia akan berfikir dengan akal sehatnya sehingga akan mengungkap kebesaran Islam yang dianugrahkan Allah ta’aalaa. Dengan anugrah akal yang dimiliki manusia Allah mengangkat derajat manusia itu dengan akalnya dimana akal itu digunakan sebagaimana mestinya. Sehingga dengan akal itu maka dibebankanlah syariat Islam itu kepada manusia karena syariat itu akan memberi banyak hikmah yang bisa diketahui dengan memikirkannya. Dengan akal itu sebenarnya juga akan melindungi akal manusia itu sendiri. Akal dan pembebanan syariat itu akan membawa manusia dalam mengenal Allah. Dalam hal ini manusia dinilai cocok atau layak untuk memahami syariat yang Allah turunkan.

Bukankah di Al Quran bertebaran pertanyaan-pertanyaan yang mendorong manusia untuk berpikir? Bukankah Allah senantiasa memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya? Bukankah manusia diperintah untuk memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya dalam rangka berpikir juga. Hingga dengan berpikir itu manusia akan sadar siapa sebenarnya dibalik mereka pikirkan. Tentunya jawabnya satu, yaitu Allah yang merajai alam semesta ini. Allaahu akbar.

Manusia diperintahkan untuk memperhatikan tumbuhan2 yang hidup, air hujan, binatang-binatang, api, besi, silih bergantinya malam dan siang. Siapa yang berada dibalik itu semua? Sang Maha Pencipta, Allah.

Manusia diperintahkan untuk menegakkan hukum2-Nya, berperang dalam rangka menegakkan kebenaran supaya tidak ada kekacauan, menegakkan qishash untuk menjamin keadilan dalam koridor fitrah manusia, puasa dengan segala kemanfaatannya, shalat dengan segala penyuciannya, siapa yang berada dibalik hikmah-hikmah syariat yang diturunkan yang dipahami manusia dengan akal yang jernih? Ya, dibalik semua ini pencipta akal yang jernih itu, Allah yang Maha Suci.

Maka dengan akal kita akan tahu siapa yang ada dibelakang penciptaan ini.

Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? (TQS. Al Waaqi’ah: 63-64)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? (Al Waqi’ah : 68-69)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? (Al Waqi’ah : 71-72)

Maka Maha Besar Allah yang telah menanugerahkan akal kemudian Ia menjaganya dengan Islam ini. akal yang seharusnya dimiliki manusia.

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah : 269)

Sehingga dengan manusia mempergunakan akalnya dengan baik, tetap dalam fitrah manusia. Bukan seperti binatang.

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf: 179)




PII dan Kuliahku

Sudah berakhir delapan hari bolak-balik Solo- Kemuning, LBTDN yang dilaksanaan dengan pengamanan secara ketat usai sudah. Tinggal kini aku mengurus kuliahku. Kuliah ? ya benar, kuliah. Hmm… sejenak aku berfikir bagaimana kuliahku. Dari agenda yang selalu bertabrakan hingga benar-benar asupan energi yang tidak memadai untuk memilih keduanya. PII dan kuliah.

PII dan kuliah. Bagiku adalah dua hal yang sangat penting. Mungkin akan berulang kembali masaku ber-PII saat SMA. Bisa dibilang semuanya hancur akan tetapi itu pelengkap dari sisi kebanggaanku sendiri bahwa aku ingin sekali bersaksi bahwa aku pun berkorban (mungkin karena seringnya juga mendengar curhat2 temen-temen yang ada di daerah). Tentunya maksudku bukan untuk dihadapan manusia(manusia kan banyak menuntut), tapi di akhirat.

PII. Suatu wadah yang mengajariku banyak hal hingga yang lain ku abaikan(haha). Wadah yang tidak terkenal saat ini tapi itulah yang menjadikan seseorang ditempa hatinya, bersih tidak ketika dia masuk ke PII, ikhlas tidak berjuangnya di PII, sungguh-sungguh tidak dalam ber-PII, hal itu akan nampak secara alami. Namun, wallaahu a’lam aja lah (saya tidak tahu banyak hati kan).

Kuliah. Hmm, berat ketika harus membicarakan soal kuliah. Bahkan ini tanggungjawabku dihadapan orangtuaku. Aku Cuma ingin membuktikan bahwa aku bukanlah seseorang yang seperti dulu selalu berkutat dengan soal di lembar-lembar putih dan buram. Aku Cuma ingin katakan soal kehidupan. Tuntutan akademik, pekerjaan masa depan, atau sekedar hidup bermateri atau semacam apa lah tuntutan yang lain, aku tidak terlalu ambil pusing. Aku hanya melihat pada sisi lain dari kuliah itu sendiri dengan perspektif pendidikan yang berkonsentrasi pada pendidikan. Dan aku ingin mengambil esensi dari pendidikan yaitu belajar, bukan menuntut nilai setinggi-tingginya hingga melupakan esensi, hingga melupakan proses, hingga melupakan segalanya. Tidak.

Aturan-aturan yang tidak bisa mentoleransi kepada apa dan siapa pun. Aturan yang berat sebelah bagi organisasi dalam dan luar. Aturan yang mengharuskan bukan sekedar kuliah namun tidak pernah membuat mahasiswa seperti harapan. Menuntut kepada tekanan yang tidak bisa dituntut.


PII dan kuliahku. Kalian sangatlah penting bagiku. PII mengajariku sukses studi, kuliahku juga. Bahkan ber-PII lebih mengajariku hal itu dibanding kuliahku. Namun, mengapa keduanya tidak bisa berkompromi. Namun, aku tetap yakin akan pertolongan Allah setelah hamba itu berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana Allah memberi banyak pertolongan kaetika aku SMA dulu. Ya, seperti itu, jujur dan benarkan Allah, maka Allah akan jujur dan membenarkanmu.


Ditulis pasca LBTDN Karanganyar, setahun lalu.

Jumat, 21 November 2014

PII di Solo (Seharusnya) Potensi Poros Pelajar

Solo, tempat dimana pergerakan Islam dengan berbagai nama ada disini. Tempat dimana kebudayaan banyak dijumpai. Tempat yang heterogen. Tempat yang memiliki sejarah panjang juga. Tempat banyak wisatawan asing yang datang. Tentunya banyak pengaruh pemikiran didalam kota ini. Lebih luas lagi sebutan Solo Raya yang mencakup Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, dan Wonogiri.

Dalam benak saya kota ini memiliki watak inklusif dan toleransi yang amat besar. Awalnya. Namun sungguh itu baru silau pertama yang ada dibenak saya. harus segera kita masuk dalam ruang kota Solo. Sepintas watak Solo sebagai kota inklusif dan toleransi yang besar saya rasa belum semua sepakat. Ada hal-hal yang kita bisa lihat dari sisi lain. Rupanya ketika saya melihat, bukan bentuk toleransi yang ada namun sikap diam dan acuh kepada sesama.

Saya coba menyoroti sebagaimana yang paling tidak menjadi bahasan sehari-hari saya yaitu tentang Muslim, Cendekia, dan Pemimpin, terutama pada ke-Pelajaran sekarang dan masa yang akan datang. Agak silau memang ketika mendapati kondisi yang mana banyak ditemukan orang-orang memakai “pakaian muslim” dari yang bentuknya koko hingga jubbah, dari yang bentuknya jilbab lebar hingga bercadar. Seharusnya peran kondisi ini memang bisa mempengaruhi secara signifikan kan?

  1.  Muslim

Berbicara terkait komunitas muslim saja ditingkat pelajar bisa kita lihat heterogenisasi komunitas-komunitas pelajar-pelajar muslim, kemudian sekolah-sekolah Islam, pelajar-pelajar dari pendekatan nahdliyin hingga pendekatan celana no isbal. Dari pelajar putri yang memakai gamisnya hingga sampai berniqab. Dari yang paling lembut hingga paling bisa koar-koar dan reaktif. Ya,…Di Solo ibarat kelompok Muslimnya yang heterogen yang kalau bahasa jawa “Tumplek Blek” yaitu bertumpukan di satu tempat (Solo) berarti suasana yang dipancarkan adalah suasana yang Islami. Iya kan?
Tapi ada sisi lain rupanya heterogenitas tersebut tidak membuat Muslim saling melengkapi. Ada bagian muslim yang belum disebutkan adalah bangsa kejawen dan kaum abangan (Oh Solo kaya sejarah 2 jenis ini bro…). oke lah sementara kita beri stempel bahwa Solo adalah tempat dimana semua pergerakan Islam bereksistensi disini.
Kembali ke pertanyaannya harusnya bisa memenuhi standar untuk bisa mempengaruhi suasana secara signifikan kan? Oh ternyata usut punya usut tampilan luar yang seakan bagus ternyata punya borok juga. Kaum muslim di Solo masih dalam kapling-kapling berpecah-belah. Bilang saja persatuan tapi gak ada aksi dalam hal satu penyatuan. Hanya pas saja bisa kita lihat dalam aksi-aksi besar dan itu pun masih dalam ibarat secara luar tampilan yang hampir sama sehingga seakan membentuk suatu ikatan jamaah. Sulit dijelaskan hanya bisa dirasakan. 

2.Cendekia



Beralih pada cendekia, dalam KBBI berarti tajam pikiran, lekass mengerti, cerdas, pandai, cepat mengerti situasi danpandai mencari jalankeluar. Saya rasa tidak diragukan lagi dalam hal ini Solo selain sebagai kota yang banyak sejarah, kota yang budaya, tentu punya banyak kualitas pelajar yang mumpuni atas kalau mau diturunkan sedikit adalah punya potensi yang besar dalam hal ini. bahkan sekolah favorit bukan hanya dimiliki pemerintahan lho, sekolah Islam, hingga ma’had favorit pun menjamur di Solo. Yang diharapkan tentunya melahirkan generasi-generasi cendekia. Harapannya....

3. Pemimpin

Pemimpin, yang akan saya bawa ke kepemimpinan. Dimana dalam kondisi ini secara garis lurus ditarik dari sifat pertama Muslim. banyak pelajar yang secara kapasitas pengetahuan agamanya baik tapi mengapa dari segi kepemimpinan tidak bisa mempengaruhi atau mendominasi? Jawab versi saya masih tetap sama karena umat Islamnya masih kotak-mengkotakkan.
Oke lanjut kepemimpinan yang dibangun dari sifat kedua yaitu cendekia. Masih terikat dengan sifat yang pertama Muslim adalah mengapa bahkan dengan ciri Muslim dan cendekia masih belum bisa memimpin kota Solo? Mengapa kota Solo basis semua pergerakan Islam dalam hal ini pelajar sebagai pemimpin masa depan masih tetap dipimpin oleh orang kafir?
Tidak ada kepemimpinan kah?
Selain dalam kondisi yang saling mengkotak-kotakkan kepemimpinan kaum muslimin di Solo secara basis memang tidak ada. Masing-masing massih dalam kepemimpinan baju-baju mereka. Hendak pun boro-boro mengajukan pemimpin diantara mereka tentunya yang diajukan adalah harus dari masing-massing kelompok mereka. Tidak ada golongan dalam pengorganisasian secara terpadu untuk kaum muslimin di Solo. Tidak heran maka yang menang selalu mereka yang mendapat dukungan awam, kejawen, abangan , dan orang-orang kafir. Kaum muslimin  tidak mau berorganisasi secara terpadu sedangkan musuh-musuh berorganisasi secara terpadu. Kalau umat Islam mengusung banyak ustadz sekalipun kalau tidak ahli dalam keorganisassian sebelumnya, main asala comot ya hasilnya para ustadz yang diusung akan mati kaku dalam pengolahan keorganisasian kota Solo. Intinya dalam kepemimpinan perlu latihan dalam berorganisasi yang intensif , dibina sejak muda, bukan asal comot yang penting kiai atau ustadz.

Sudah mengerti sekarang saya mengapa banyaknya pergerakan di Solo tidak mampu menjalankan kepemimpinannya di kandang sendiri. Berkotak-kotak, saling mencurigai sesama muslim, tidak mau berfikir untuk oranglain diluar kelompoknya dalam membingkai ukhuwah, dan tidak pernah banyak nilai yang diambil dalam kepemimpinan terpadu.

PII membentuk poros pelajar.


Dalam hal ini PII sebagai wadah perjuangan umat yang menampung pelajar dalam menyiapkan kadernya sebagai Muslim, Cendekia, dan Pemimpin seharusnya punya prospek besar untuk berdakwah dalam membingkai persatuan dan kesatuan umat Islam di Solo terutama pada kalangan pelajar. Bahkan dari tiap-tiap golongan pelajar seharusnya bisa dan memiliki sikap bergabung dengan PII ini ya minimal karena fitrah rasa persatuan kaum muslimin, saling rasa persaudaraan sejawat, teman bermain, atau bahkan karena sudah muak dengan pengkotak-kotakkan antara pelajar muslim yang dalam lembaga dakwahnya sangat tertutup sehingga ketika sama-sama masuk ke PII akan saling bisa berkomunikasi dalam menjembatani kedua belah pihak. Atau mirip seperti dahulu kala saat awal-awal PII dirikan suasananya mirip dengan Solo antara pelajar-pelajar yang sekolah dibangku konvensional dengan sekolah bersistem Islami atau ma’had atau pondok pesantren sekalipun. Meraka tentu ketika bersama akan saling mempengaruhi dan saling memberikan bentuk dan cara masing-masing dalam bersaudara karena di PII mereka wajib untuk hidup lama dan seatap sehingga mau tidak mau mereka akan saling memberi pengertian terutama ketika mereka sadar bahwa mereka adalah muslim yang bersaudara. Dan dari tujuan terbentuknya lingkungan islami inilah yang diharapkan dari heterogennya kelompok-kelompok muslim di PII.

Disamping itu pelajar juga akan dibina  dalam pengembangan dalam kretivitas, pengembangan bakat, olah pikir, dan intelektualitasnya. Dalam ber-PII, pelajar yang terikat dalam barisan ini melakukan pembinaan dalam kursus, ta’lim ruhiayah, mental, berargumen dengan referensi yang baik, adab sopan santun, saling menghargai, budaya membaca, dan senantiassa budaya menganalisis. Terus ditambah dengan keadaan PII yang tidak memiliki induk pergerakan diatasnya membuat PII harus bekerja dengan kepemimpinan yang baik dan mandiri sehingga dari proses inilah dapat membentuk calon-calon pemimpin yang musli, cendekia sekalipus memiliki kapasitas kepemimpinan yang baik. Sehingga sebagai prinsip pemersatu umat seharusnya PII di Solo ini ditengah heterogenitas kelompok-kelompok pergerakan umat Islam di Solo mampu menjadi wadah pelopor terbentuknya bibit-bibit manusia muslim, cendia, dan pemimpin yang diharapkan menjadi kebermanfaatan secara nyata bagi kemajuan peradaban Solo. Bisa menjadi wadah penempa calon-calon pemimpin sebagai kaum yang menggantikan. Semoga Allah meridhoi cita-cita ini: terbentuknya poros pelajar Islam di Solo sebagai agen perubahan menuju peradaban madani.

Asma' Binti Yazid, Sang Orator Kaum Muslimah


Nama lengkapnya ialah Asma’ binti Yazid bin Sakan bin Rafi’ bin Imri’il Qais bin Abdul Asyhal bin Haris Al Anshariyyah, Al Ausiyyah al Asyhaliyyah. Seorang wanita mulia, agama yang bagus, mujahidah yang agung, sosok muslimah yang cerdas, dan ahli dalam argumen, orasi, dan terorika yang baik sehingga ia mendapat julukan “Khatibah An Nisa” (Sang Orator Wanita).

Selebih dari lulusnya sifat-sifat agung seorang muslimah ia memiliki keistimewaan yang berada diatas diantara kebanyakan para muslimah. Diantara sifat-sifat yang dimiliki ialah kepekaan indra, kejelian rasa, dan ketulusan hatinya. Dalam kehidupannya senantiasa mencerminkan sikap yang elegan dan mantap. Ia seorang yang tidak manja dalam berbicara, tidak merasa hina, tidak mau dhina, pemberani, kuat, dan ia pun seorang prajurit perang dalam medan pertempuran. Hebat sekali bukan.

Suatu ketika pada tahun pertama hijrah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam membaiat para wanita. Disitu Asma’ mendatangi Rasulullah untuk ikut berbaiat kepada Islam. Sejak saat itu Asma’ adalah muslimah yang paling aktif dengan menyimak hadits-hadits yang disampaikan Rasulullah dan sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang segala urusan dalam agama. Bahkan ia lah yang mempelopori dalam menyanakan hal bersuci bagi muslimah setelah haid. Bentuk karakter yang kuat dalam dirinya membuatnya menjadi pribadi yang mantap. Baginya pula pertanyaan-pertanyaan semacam itu jika itu hak maka ia tidak malu dalam menanyakan kepada Rasulullah. Sehingga tidak heran sosok Asma’ menjadi seorang muslimah yang kritis, cerdas, dan baik agamanya.

Dalam persoalan-persoalan yang sering dihadapi muslimah Asma’ sering menjadi jubir dari kalangan muslimah untuk menanyakan kepada Rasulullah. Suatu ketika Asma’ mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ia pun bertanya,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya adalah utusan bagi seluruh muslimah yang ada dibelakangku. Seluruhnya mengatakan sebagaimana aku katakana dan sebagaimana berpendapat sepertiku.”

Dilanjutkannya,”Sesungguhnya Allah subhanallaahu wa ta’aalaa mengutusmu bagi seluruh laki-laki dan wanita, kemudian kami beriman kepadamu dan membaiatmu sebagai Nabi kami. Adapun kami para wanita, terkurung dan terbatas gerak langkah. Kami menjadi penyangga rumah tangga kaum laki-laki dan kami adalah tempat melampiaskan syahwat mereka. Kamilah yang mengandung anak-anak mereka. Akan tetapi, kaum lelaki mendapat keutamaan melebihi kami dengan shalat jumat, mengantarkan jenazah, dan berjihad. Apabila mereka keluar untuk berjihad, kamilah yang menjaga harta dan mendidik anak-anak mereka , maka apakah kami juga mendapat pahala sebagaimana yang mereka dapat dengan amalan mereka?”

Pertanyaan itu yang membuat Rasulullah menoleh kepada para shahabat dan bersabda,”Pernahkah kalian mendengar pertanyaan seorang wanita tentang din yang lebih baik dari apa yang ia tanyakan?”
Para shahabat menjawab, “Benar. Kami belum pernah mendengarnya Ya Rasulullah!”

Lalu Rasulullah bersabda,”Kembalilah wahai Asma’ dan beri tahukanlah kepada para muslimah yang berada dibelakangmu itu bahwa perlakuan baik salah seorang mereka kepada suaminya, meminta kerihaan suami, dan meminta persetujuan suami, itu semua dapat mengimbangi seluruh amal yang kamu sebutkan yang dikerjakan oleh kaum laki-laki.”

Maka bertakbir dan bertahlil-lah Asma’ sambil kembali kepada kaum wanita karena kegembiraannya atas sabda Rasulullah itu padahal sempat terbetik dalam hatinya untuk ikut dalam berjihad layaknya kaum laki-laki. Namun, diredam oleh nasihat Rasulullah diatas. Hingga kesempatan itu terealisasikan oleh keadaan pada Perang Yarmuk pada tahun 13 Hijriyah setelah wafatnya Rasulullah. Ya seorang Asma’ yang cemburu dengan jihad akhirnya bisa menjadi wanita shalihah dengan gagah berani menyertai perjuangan Umat Islam.

Itulah Asma’ dalam perjuangan menuntut ‘ilmu dari Rasulullah dan turut serta dalam perjuangan yang hebat. Dikisahkan ketika perang Yarmuk melawan tentara Romawi, Asma’ membersamai para pasukan mukmin dan mukminah mencurahkan segala kemampuan dengan membantu mempersiapkan persenjataan, logistic, dan pengobatan bagi mujahidin yang terluka. Juga menjaga semangat para mujahidin. Bahkan para mujahidah juga yang bersikap tegas memukul para mujahidin yang berusaha mundur melarikan diri.

Asma’ yang kala itu dalam pikirannya hanya berjihad menegakkan kalimat Allah mencurahkan segenap kemampuannya dengan ikut melawan para tentara Romawi. Saat itu dihadapannya hanya ada tiang tenda, kemudian dicabutlah, dan Ia terjun ke tengah pertempuran, berhasil membunuh Sembilan tentara Romawi. Kemudian selepas pererangan itu Ia masih hidup dan membawa luka di punggungnya.

Allah menghendaki hidup setelah perang itu 17 tahun lamanya hingga Beliau wafatpada akhir tahun 30 Hijriyah setelah menghidangkan teladan wanita shalihah yang gagah berani. Semoga keberanian berbicara dan keberanian bersikap seorang Asma’ bisa membawa teladan yang tinggi bagi kaum muslimah masa kini untuk tidak ragu dalam menyampaikan kebenaran, meminta kebenaran, dan mencurahkan segenap kemampuan demi memperjuangkan kebenaran itu juga.

Kisah ini saya hadiahkan untuk adik saya tercinta.
diambil dari buku "100 Muslim Terhebat Sepanjang Masa", Inspirasi para Muslim yang Dicatat dengan Tinta Emas Sejarah.

Senin, 13 Oktober 2014

Menahan Diri dari Meminta



Kata Hakim bin Hizam, ketika itu ia meminta sedekah kepada Rasulullah, lalu beliau shallallaahu alaihi wa sallam memberinya. Kemudian Hakim meminta lagi kepada Rasulullah padahal waktu itu Rasulullah sudah memberinya. Rasulullah kembali memberinya. Hingga tiga kali hakim mengulangi perbuatannya itu. hingga yang ketiga kalinya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu lezat dan manis, maka barangsiapa menerimanya dengan hati yang bersih (tidak rakus atau serakah), dia akan mendapat berkah dengan harta itu. Tapi barangsiapa yang menerimanya dengan nafsu serakah, dia tidak akan mendapatkan berkah dengan harta itu, dia akan seperti orang makan yang tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah.”

07.27.00 - No comments

Bali : Dakwah atau Boikot



Bali, tempat yang populer dengan berbagai keindahan alamnya. Namun, menurut aku tercoreng, dengan adanya budaya-budaya tidak elok dipandang terutama pakaian terhormatnya bangsa ketimuran. Dulu pernah saya sangat pro-aktif dalam mengkampanyekan boikot wisata ke Bali. Bagiku untuk apa kesana, keindahan alamnya tertutup oleh hawa porno yang tidak pantas dilihat, budaya-budaya hindu, dan tentu (saat itu) saya meyakini bahwa tempat pariwisata di Bali, pada tempat-tempat makannya banyak menjual minuman keras. Oke, itu dulu. Skip.

07.21.00 - No comments

Kepada (Mereka) Cinta



Kepada (Mereka) Cinta

Kepada cinta di dua negeri
Kepada cinta di kota yang berbeda,
Kepada cinta yang kita bersaudara didalamnya,
Kepada cinta, ia yang merindukanku.

Tidak pernah engkau tahu,
Seberapa takut aku kehilanganmu.
Tidak pernah aku kata,
Seberapa dalam ku mencintaimu.

Kepada cinta yang Maha Tinggi,
Aku mencintai mereka, dan
Ku titipkan cintaku untuk mereka pada-Mu.

Kep

07.19.00 - No comments

Islam Menjamin Bangsa yang Bangkit

Di dunia ini, tiada satu pun ideologi yang dapat memberikan apa-apa yang dibutuhkan oleh umat yang sedang bangkit, menyangkut sistem perundang-undangan kaidah-kaidah hukum, maupun kelemahlembutan perasaan dan kepekaan moral sebagaimana yang diberikan oleh Islam.
Al-Qur'an Al-Karim sarat dengan berbagai gambaran tentang  aspek-aspek tersebut. Guna memperjelas pengertian, ia menyajikan gambaran umum pada suatu kali, dan memberi gambaran secara rinci di kali yang lain.
Al-Q
ur'an juga menawarkan penyelesaian terhadap berbagai persoalan dengan jelas dan rinci, sehingga bangsa mana pun yang mau mengambilnya sebagai landasan hidup, niscaya ia akan memperoleh apa yang diinginkannya.

Tak Sehebat Pahlawan



Suatu Shubuh seorang ibu jama’ah masjid menceritakan kepada Imam masjid kalau tadi memergoki pencurian di rumah(kos2an) sebelah masjid. Pak Imam masjid mendengarkan penjelasan ibu sambil berfikir selidik atas cerita tersebut. Aku yang datang pun sempat mendengarkan. Hingga cerita selesai muadzin mengumandangkan iqomah.