Jumat, 20 Februari 2015

22.01.00 - No comments

Pola Sejarah


Telah berlalu bernama sejarah

Diatas sunnah yang telah menetap

yang mengelilingi kulit bola

bersisi tetap dan rigid

 

Telah berlalu bernama sejarah

dalam sejarah menanam dan menuai

menanam kebaikan berlaku hukuman kebaikan

menanam keburukan berlaku hukuman keburukan

 

Telah hidup, para penentang cahaya

Namrud, Fir ‘aun, dan kaum keji pembunuh para Nabi

Telah hidup, para pembawa cayaha dan pembelanya

Nuh, Musa, Isa, Muhammad, dan sahabat-sahabat mereka

Dalam rajut sejarah akan senantiasa berpola,

Senantiasa ada penentang dan pembela

 

Demikian ketetapan Kalam yang tak pernah berubah

Yang berlaku atas kaum terdahulu,

Adalah berlaku untuk kaum sesudahnya.

 

Pola sejarah sudah diangkat,

Tidak ada penggantian pada sunnah Allah,

Tidak ada penyimpangan pada sunnah Allah.

Lelaki-lelaki Fajir yang Menguatkan Diin

لا يدخل الجنة الا مؤمن و ان الله ليؤيد هذا الدين بالرجل الفا جر (رواه البخاري)

Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beriman. Dan sesungguhnya Allah niscaya menguatkan Diin ini dengan orang (laki-laki) yang faajir (durhaka). HR Bukhari


Hadits ini keluar berkenaan seorang pemuda yang dikenal gagah dalam setiap peperangan hingga sampai kepada peperangan Khaibar ia masuk dalam ahli neraka. Ia bernama Quzman, dalam sejarah kisah ini sangat masyhur. Seorang Quzman yang terlibat perang Uhud sekalipun pada perang Khaibar, Rasululullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diawal perang menyebutnya sebagai ahli neraka. Beliau –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan, “Sesungguhnya Quzman termasuk ahli neraka.”

Para sahabat yang melihat Quzman tentu saja merasa heran. Lelaki yang senantiasa terlibat perang dengan gagah berani dan bersemangat, juga sudah tidak disangsikan lagi kontribusinya terhadap Islam dinyatakan oleh Rasul-Nya sebagai ahli neraka.

Kebenaran segala sesuatu yang diucapkan oleh Beliau. Dimana pada akhirnya para sahabat menyaksikan sendiri akan kebenaran sabda Nabi. Pada perang Khaibar, Quzman mendapatkan banyak luka dan sangat parah. Namun Quzman tidak sabar akan luka yang ada dalam dirinya hingga pedangnya sendiri digunakan untuk mempercepat kematiannya dengan bunuh diri.

Dalam hal ini Munawar Khalil (penulis Kelengkapan Tarikh Nabi) mengomentari, “Nabi –shallallaahu ‘alaihi wa sallam-menyatakan terlebih dahulu bahwa Quzman adalah penghuni neraka, karena beliau lebih mengetahui keadaan orang ini sebenarnya, yakni Quzman itu seorang munafik yang berperang bukan karena Allah.”

Kisah Quzman yang sangat besar peran dalam mengokohkan kekuatan Islam dalam Perang Uhud, Khaibar, dan kegiatan-kegiatan lain –meskipun termasuk dalam ahli neraka-, akan mengingatkan ada lelaki lain yang memiliki jasa-jasa dalam membantu kokohnya Islam namun dalam keadaan tidak beriman. Lelaki-lelaki itu paman nabi Abu Thalib, Al-Muth’im bin Ady, Abdullah bin Uraiqith (saat belum masuk Islam), dan paman nabi Abbas (saat belum masuk Islam).

Paman nabi, Abu Thalib- yang melindungi Nabi-Nya dengan pengaruh politik dan kehormatannya dikalangan kaum Quraisy dalam memusuhi Nabi. Pamannya yang senantiasa mendukung Nabi dalam mendakwahkan Islam. Namun yang kita tahu ia bukanlah seorang yang mau diajak masuk Islam oleh keponakannya. Ia tetap menjadi seorang paganis.

Al Muth’im bin Ady – seorang yang melindungi nabi sepeninggal paman nabi, yang seorang paganis dan belum masuk Islam. Dalam ucapan Al Muth’im pernah mengatakan kepada kaumnya, “Wahai semua orang Quraisy, sesungguhnya aku telah memberi jaminan perlindungan kepada Muhammad. Tak seorang pun diantara kalian boleh bertindak semau sendiri terhadapnya.” Saat itu Abu Jahal yang mendengar kemudian berkomentar,”Apakah engkau hanya memberikan perlindungan ataukah menjadi pengikutnya (masuk Islam)?” jawab Al Muth’im,”Aku hanya memberikan jaminan perlindungan”.

Abdullah bin Uraiqith –penunjuk jalan nabi-. Yang saat itu belum masuk Islam pada hijrahnya Nabi dan Abu Bakar, ia menjadi penunjuk jalan Nabi ke Madinah.

Paman nabi, Abbas-memberi perlindungan-. Menyertai perlindungan Nabi dan jaminan perlindungan dalam bai’atul Aqabah yang kedua. Saat itu paman nabi Abbas juga belum masuk Islam.

Sabtu, 03 Januari 2015

Batra: Kak Musa dan Kak Fajar


Kak Musa
Kak Fajar
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Musa sebenarnya orangnya asyik, tapi banyak diemnya. Dan juga, kang Musa peduli sama kita. Kang Musa orangnya toleran, bukan berarti nggak tepat waktu saat kita masuk local.
Wassalaamu’alaikum wr wb.
Assalaamu’alaikum wr wb.
Kang Fajar orangnya seru, ramah, dan sabar. Selain itu Kang Fajar lebih suka diam.
Wassalaamu’alaikum wr wb
Jangan terlalu banyak diem kak, garing tau… J
Suaranya juga pelan kalo lagi njelasin kadang-kadang.
Awalnya jutek lama-lama udah nggak.
Jangan pelit-pelit senyumnya.
Aktif terus di PII ya hehe…J
Nggak papa kak kalo dipanggil pak.
Penampilan itu nggak masalah yang penting bangga jadi diri sendiri. Diajar sama kak Fajar asyik juga. Tapi jarang -.-
.
Aktif terus di PII ya kak hehe… J
Anda terlalu kebapakan ekspresinya. Dan susah banget kalau tertawa.
Untuk kuliahnya semoga lancar dan semoga menjadi guru yang baik.
Saran saya kak Musa perlu refreshing untuk kejenuhan. Nampak wajah kakak statis. Walaupun tertawanya terpaksa…
Semangat!!
Arigato Gozaimasu.
Kakak terlalu takut atau malu nampaknya untuk mengisi sebagai instruktur….. tapi tetap josh…… semoga kuliahnya cepat rampung.
Saran saya Kak Fajar perbanyak nonton Stand Up Comedy dan sekali-sekali nonton Naruto.
Awalnya sih pada waktu masuk pertama kurang senyum tapi lama-kelamaan ini tambah akrab dan masalah ilmu termasuk tipe orang yang bisa menerapkan ilmu yang sudah pernah didapatkan.
Tapi cuchooks…
Masalahnya sama sih ya… itu juga pada awalnya kurang senyum aja dan bisa nerapin ilmunya. Masnya sama kak Musa itu satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan ya…
He.. he.. he..
Kritik: mungkin penerapannya kurang diperjelas.
Saran: trus jadilah pengobar semangat para pelajar PII. Saya juga bertemikasih selama seminggu disini saya sudah diberi materi yang mungkin saya belum mengetahuinya.
Kritik: sikap keharmonisannya kurang
Saran: lebihlah bersikap bisa senyum dan bercanda. Dan teruslah mengobarkan hati para pelajar agar memiliki kepedulian didalam agama Islam.
Lokal empat atau Al Furqan sangatlah menarik. Orangnya pada lucu-lucu semua. Nggak akan lupa deh sama local ini. seru disini. Aku gak nyangka kalau besok dah pulang. Hari-hari disini bersama local empat dan kak Fajar, Kak Musa.
Awalnya saya sebel soalnya Pak Musa itu orangnya cuek, tapi makin hari Pak Musa seru juga, apalagi untuk mala mini. Pak musa juga sering bikin bikin aku bingung n’ bimbang. Hehe…
Dia juga dingin banget ya n’ pas awal-awal juga orangnya pakem banget meski kata orang-orang kalo Pak Musa orangnya suka bercanda tapi saya nggak percaya eg. Hehe
Saya juga suka gayanya pak Musa.
Thank’s for all pak Musa J
Awalnya saya bingung kenapa juga nih orang dipojokan sana sambil diem terus, sakit gigi po?? Saya baru mengenal pak Fajar malam kemarin, aslinya orangnya lucu tapi wajahnya tu lho tanpa expresi, datar-datar aja. Jadinya ya nggak jadi seru… hehe ^-^
Orangnya ….uuh… super duper…
Aku bingung kalau dikasih pertanyaan… hehe^^, tapi seru, ngajak mikir… terus ya… walaupun orangnya itu datar tanpa ekspresi, tapi penampilannya keren, cool… kalau aku sii suka… hihi..
Pas banget kalau disuruh ngisi BATRA kayak gini… pas bingungnya…nggak bercanda.. pokoknya kak Musa the best dech… salut aku… empat jempol buat kak Musa :D
Kalo…Kak Fajar,em…awalnya terkesan aneh, soalnya pengamatkan, jadinya kelihatan serius mulu… tapi ternyata orangnya lucu, seru….. kalo nyampein materi juga ok… aku suka penampilan nyentriknya, celana cingkrang, hehe… ciri khas Kak Fajar. Pokoknya Kak Fajar juga the best dech…:D
Penyampaian materinya sudah baik, bisa dipahami. Kadang-kadang suaranya Kang Musa itu gak kedengeran. (Terlalu pelan dan halus). Untuk sistematika penyampaian materi juga sudah baik. Jempol buat kang Musa.
Penyampaian materinya sudah baik, terus juga bisa dipahami. Suaranya juga lantang dan jelas. Sistematika penyampaian materi juga bagus.
Jempol buat kang Fajar.
Pertama masuk local kayaknya pendieeeeeem banget. Tapi setelah beberapa hari dah mulai bicara seperti biasa.
Sarannya, kak Musa jangan diem banget lah, bercanda-bercanda dikit kan ngga apa-apa? Hehehe :D
Kak Fajar malah lebih pendiem dari kak Musa waktu pertama kali masuk local. Tapi setelah tau ternyata kakak itu juga bisa bercanda juga *ngga nyangka^^*
Sarannya, tetep semangat buat kasih materi ke anggota batra kakaaak..
Kang Musa pertama-tama orangnya terlihat galak gimana gimana gituh. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata tidak sepeti itu, orangnya asyik, cerdas dalam mengolah kata. Dan ternyata eh ternyata kang Musa suaranya bagus juga lho… pas waktu nyanyi lagu Raihan. J
Saran: kalau ngajar jangan serius-serius yo kang…J
Dan terima kasih sudah mau ngasih saya ilmu yang baru.
Banyak diem orangnya, cerddas juga dalam pendidikan matematikanya ternyata. Kalau ngaji suaranya bagus.
Saran: jangan banyak diem kang. Tetap semangat aja deh, dan sabar lagi dalam mengajar.

Batra: Teknologi Dakwah

1.       Robot Pendakwah
Berdakwah disampaikan oleh da’i secara langsung atau rekaman itu sudah biasa. Namun, disampaikan oleh robot adalah hal yang sangat luar biasa. Meski didalam robot tersebut sama kerja penyampaiannya seperti rekaman namun hal ini akan menjadi daya antusias tersendiri oleh umat muslim.
Cara kerja robot ini seperti miniatur ustadz saat sedang menyampaikan kajian di tempat-tempat kajian pada umumnya. Robot ini semacam computer yang didalamnya terdapat rekaman-rekaman kajian. Saat dinyalakan dan disetel kajian yang diinginkan, robot ini akan bergerak dengan gerakan-gerakan badan sesuai materi kajian yang disampaikan. Sehingga dari hal ini bisa menarik antusias masyarakat dalam menambah wawasan keislaman dengan cara yang lebih unik.

2.       Alat Rekaman Dakwah
Alat ini dirancang secara khusus untuk penerapan strategi dakwah melalui suatu rekaman yang didalamnya terdapat materi-materi tentang Islam. Dalam materike-islaman itu sendiri, didalamnya terdapat tema-tema khusus yang membahas tentang Islam itu sendiri. Rekaman dakwah ini menggunakan aplikasi khusus yang telah dirancang sebelumnya.
Cara menggunakan alat ini, kita tinggal memilih kode yang telah diterapkan sesuai tema itu sendiri. Misalnya kode “A”, digunakan untuk tema “Implementasi Dakwah Sosial Dalam Masyarakat”, sehingga memudahkan kita mencari apa yang diinginkan. Dengan adanya alat ini, setiap individu dapat menikmati aplikasi rekaman dakwah dengan praktis.

3.       Pensil atau bolpen berdakwah
Pensil atau bolpen ini dibuat dengan teknologi canggih yang dibuat dengan listrik dan kabel-kabel. Alat ini bisa dicas dan juga bisa dikasih baterai. Alat ini dibuat untuk membaca Al Quran dan membaca huruf hijaiyah. Dan alat ini sangat bisa membantu dalam membaca dan memperlancar bacaan Quran.

4.       Al Quran Elektronik
Al Quran ini dirancang dalam bentuk mobile atau gadget. Alat ini tidak perlu disentuh, melainkan mengucapkan surah apa yang ingin kamu baca. Nanti akan muncul surat yang diminta. Termasuk alat ini akan bisa mengoreksi bacaan si pembaca jika dalam membacanya salah atau kurang tepat.

5.       Kacamata Quran
Kacamata ini bisa menampilkan bacaan / tulisan Quran dengan bantuan sensor cahaya. Dimana cara kerjanya, dibagian kanan dan kiri sebelah engsel ada tombol. Tombol tersebut bagian kiri berfungsi mengcopy berbagai tulisan yang terjangkau oleh kaca mata. Tombol bagian kanan berisi daftar tulisan yang disimpan dan daftar ayat-ayat Al Quran + terjemah secara lengkap. Maksudnya jika tombol itu ditekan akan muncul daftar-daftar tersebut dilayar kacamata.

*sekelumit cerita teknologi yang diimajinasikan adik2 batra. semoga entah suatu saat akan muncul teknologi seperti ini.

Sabtu, 06 Desember 2014

Merindukan Kuliah

Bagi seorang yang sedikit mengikuti waktu perkuliahan, kuliah adalah waktu yang sangat dirindukan.

Semester tiga menuntut aku mengambil sedikit sks. Jauh, benar-benar jauh dari batas normal. Kuliah yang aku hanya mendapat batas selama 3 hari saja itu pun bukan jadwal yang padat. Namun, dari hal itu sangat masih tetap berdiri dan merasa belum apa-apalah dibanding perjuangan teman2 yang telah mengorbankan lebih dari yang ku korbankan. Mungkin disisi lain adalah lalainya diri aku, tapi jika tidak demikian sama saja aku mengorbankan sesuatu yang lebih besar. Hanya seperti ini yang bisa ku persembahkan pada-Mu Ya Allah.
Maafkan anakmu ibu, yang -mungkin- lalai dari kuliahnya, tapi aku hanya ingin mempersembahkan padamu yang lebih besar dari sekedar nilai kuliah. Hari ini engkau tidak menyukainya namun semoga suatu saat engkau menyukainya.
Aku kira sedikitnya jadwal, aku akan memiliki banyak waktu untuk belajar untuk mengkonter nilai aku, juga banyak waktu untuk mencoba bisnis yang ingin dirintis, atau bisa lebih intensif untuk PII-ku atau bahkan menghabiskan buku-buku yang ku beli dan belum habis ku membacanya: Filsafat Ilmu, Evolusi Kristen, Perempuan Hallerina, atau terjemahan kitab-kitab misalnya. Aku kira memang begitu bisa lebih intensif mendesain poster-poster dakwah atau sekedar membuat tulisan-tulisan bermakna. Ah aku kira.
Olahan sebab-akibat yang ku buat melesat atas asbab yang menjadi sebab mutlak. Sudah memang melewati sehari-dua hari kuliah lancar. Bisnis? Mencoba berjualan. Eh harus ada kegiatan ini dan itu. kesibukan yang direncanakan diterjang dengan kesibukan yang lain. Mulai dari intensitas waktu-waktu yang tersita. Tidak masalah, alhamdulillaah menambah kesibukan daripada harus menjadi penghuni kos atau kampus yang kurang produktif.
Satu dua kuliah tidak ku ikuti. Membolos untuk keperluan yang lebih besar –sekali lagi menurutku-. Dari urusan PII hingga urusan keluarga (memang semenjak ini Allah sedang menguji kami, jadi harus intensif PP hingga sering tidak masuk kuliah juga), tapi benar, aku sangat menikmatinya atau terpaksa menikmatinya. Hanya saja keyakinan yang ada didada bahwa waktu yang terlimpah akan Allah ganti waktu yang panjang didalam balasan nikmat-Nya. Hanya janji Allah yang bisa menghibur, yang Maha menepati janjinya.
Kemudian, aku sangat bahagia dalam satu atau dua kuliah yang ku ikuti atau aku juga terkucilkan karena jarang masuk kuliah. Namun, diluar hal itu betapa aku sangat merindukan kuliah. Lebih-lebih satu mata kuliah matematika. Meski sekali lagi jarang tidak masuk namun aku tetap mengkajinya, semampuku, dengan pendapat-pendapatku sendiri.
Aku yang jarang kuliah, sangat merindukan kuliah. Sebagaimana mereka kuliah. Berdiskusi tentang mata kuliah yang menjadi keluh kesahnya (seharusnya aku juga). Atau bahkan ekspresi emosi yang keluar dari masing-masing wajah teman-temanku yang melihat nilai-nilainya. Yang nilai-nilai bagiku sudah tidak terlalu menjadi tuntutanku.

Waktu tidak bisa kuliah adalah waktu mahasiswa merindukan kuliah.

01.10.00 - No comments

Islam dan Akal Manusia


Islam agama yang sempurna. Tidak ada yang melebihi tingginya Islam. Semua telah teratur lengkap. Dari keimanan, kehidupan dunia, kehidupan setelah didunia,ritual, hingga adab-adab dan sosial masyarakat. Namun, dari semua kelengkapan yang dimiliki Islam tidak lepas dari akal-pikir kepada manusia yang dianugrahi Islam.

Islam menghargai akal manusia. Islam melindungi akal manusia. Islam memelihara akal manusia. Dengan Islam akal manusia diperintah untuk digunakan. Dengan Islam, manusia akan berfikir dengan akal sehatnya sehingga akan mengungkap kebesaran Islam yang dianugrahkan Allah ta’aalaa. Dengan anugrah akal yang dimiliki manusia Allah mengangkat derajat manusia itu dengan akalnya dimana akal itu digunakan sebagaimana mestinya. Sehingga dengan akal itu maka dibebankanlah syariat Islam itu kepada manusia karena syariat itu akan memberi banyak hikmah yang bisa diketahui dengan memikirkannya. Dengan akal itu sebenarnya juga akan melindungi akal manusia itu sendiri. Akal dan pembebanan syariat itu akan membawa manusia dalam mengenal Allah. Dalam hal ini manusia dinilai cocok atau layak untuk memahami syariat yang Allah turunkan.

Bukankah di Al Quran bertebaran pertanyaan-pertanyaan yang mendorong manusia untuk berpikir? Bukankah Allah senantiasa memerintahkan manusia untuk mempergunakan akalnya? Bukankah manusia diperintah untuk memperhatikan ciptaan-ciptaan-Nya dalam rangka berpikir juga. Hingga dengan berpikir itu manusia akan sadar siapa sebenarnya dibalik mereka pikirkan. Tentunya jawabnya satu, yaitu Allah yang merajai alam semesta ini. Allaahu akbar.

Manusia diperintahkan untuk memperhatikan tumbuhan2 yang hidup, air hujan, binatang-binatang, api, besi, silih bergantinya malam dan siang. Siapa yang berada dibalik itu semua? Sang Maha Pencipta, Allah.

Manusia diperintahkan untuk menegakkan hukum2-Nya, berperang dalam rangka menegakkan kebenaran supaya tidak ada kekacauan, menegakkan qishash untuk menjamin keadilan dalam koridor fitrah manusia, puasa dengan segala kemanfaatannya, shalat dengan segala penyuciannya, siapa yang berada dibalik hikmah-hikmah syariat yang diturunkan yang dipahami manusia dengan akal yang jernih? Ya, dibalik semua ini pencipta akal yang jernih itu, Allah yang Maha Suci.

Maka dengan akal kita akan tahu siapa yang ada dibelakang penciptaan ini.

Maka Terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam. Kamukah yang menumbuhkannya atau kamikah yang menumbuhkannya? (TQS. Al Waaqi’ah: 63-64)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau kamikah yang menurunkannya? (Al Waqi’ah : 68-69)
  
Maka Terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dengan menggosok-gosokkan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau kamikah yang menjadikannya? (Al Waqi’ah : 71-72)

Maka Maha Besar Allah yang telah menanugerahkan akal kemudian Ia menjaganya dengan Islam ini. akal yang seharusnya dimiliki manusia.

Allah menganugerahkan Al Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah). (Al Baqarah : 269)

Sehingga dengan manusia mempergunakan akalnya dengan baik, tetap dalam fitrah manusia. Bukan seperti binatang.

Dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai. (Al A’raf: 179)




PII dan Kuliahku

Sudah berakhir delapan hari bolak-balik Solo- Kemuning, LBTDN yang dilaksanaan dengan pengamanan secara ketat usai sudah. Tinggal kini aku mengurus kuliahku. Kuliah ? ya benar, kuliah. Hmm… sejenak aku berfikir bagaimana kuliahku. Dari agenda yang selalu bertabrakan hingga benar-benar asupan energi yang tidak memadai untuk memilih keduanya. PII dan kuliah.

PII dan kuliah. Bagiku adalah dua hal yang sangat penting. Mungkin akan berulang kembali masaku ber-PII saat SMA. Bisa dibilang semuanya hancur akan tetapi itu pelengkap dari sisi kebanggaanku sendiri bahwa aku ingin sekali bersaksi bahwa aku pun berkorban (mungkin karena seringnya juga mendengar curhat2 temen-temen yang ada di daerah). Tentunya maksudku bukan untuk dihadapan manusia(manusia kan banyak menuntut), tapi di akhirat.

PII. Suatu wadah yang mengajariku banyak hal hingga yang lain ku abaikan(haha). Wadah yang tidak terkenal saat ini tapi itulah yang menjadikan seseorang ditempa hatinya, bersih tidak ketika dia masuk ke PII, ikhlas tidak berjuangnya di PII, sungguh-sungguh tidak dalam ber-PII, hal itu akan nampak secara alami. Namun, wallaahu a’lam aja lah (saya tidak tahu banyak hati kan).

Kuliah. Hmm, berat ketika harus membicarakan soal kuliah. Bahkan ini tanggungjawabku dihadapan orangtuaku. Aku Cuma ingin membuktikan bahwa aku bukanlah seseorang yang seperti dulu selalu berkutat dengan soal di lembar-lembar putih dan buram. Aku Cuma ingin katakan soal kehidupan. Tuntutan akademik, pekerjaan masa depan, atau sekedar hidup bermateri atau semacam apa lah tuntutan yang lain, aku tidak terlalu ambil pusing. Aku hanya melihat pada sisi lain dari kuliah itu sendiri dengan perspektif pendidikan yang berkonsentrasi pada pendidikan. Dan aku ingin mengambil esensi dari pendidikan yaitu belajar, bukan menuntut nilai setinggi-tingginya hingga melupakan esensi, hingga melupakan proses, hingga melupakan segalanya. Tidak.

Aturan-aturan yang tidak bisa mentoleransi kepada apa dan siapa pun. Aturan yang berat sebelah bagi organisasi dalam dan luar. Aturan yang mengharuskan bukan sekedar kuliah namun tidak pernah membuat mahasiswa seperti harapan. Menuntut kepada tekanan yang tidak bisa dituntut.


PII dan kuliahku. Kalian sangatlah penting bagiku. PII mengajariku sukses studi, kuliahku juga. Bahkan ber-PII lebih mengajariku hal itu dibanding kuliahku. Namun, mengapa keduanya tidak bisa berkompromi. Namun, aku tetap yakin akan pertolongan Allah setelah hamba itu berusaha bersungguh-sungguh sebagaimana Allah memberi banyak pertolongan kaetika aku SMA dulu. Ya, seperti itu, jujur dan benarkan Allah, maka Allah akan jujur dan membenarkanmu.


Ditulis pasca LBTDN Karanganyar, setahun lalu.